Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Senin, 26 Oktober 2026

Pesawat Tenaga Surya Lintasi Pasifik

- Kamis, 04 Juni 2015 16:23 WIB
552 view
Pesawat Tenaga Surya Lintasi Pasifik
SIB/AFP
Pesawat Tenaga Surya Solar Impulse 2 mampu melakukan perjalanan jauh melintasi Samudera Pasifik
Samudra Pasifik adalah jalur yang akan dilintasi Solar Impulse, pesawat tenaga surya yang dipiloti Andre Borschberg. Dengan pesawat penumpang rute Nanjing, Tiongkok ke Hawaii di Samudra Pasifik berjarak 8.000 kilometer dan ditempuh dalam tempo 10 jam. Sementara itu, untuk pesawat eksperimental bertenaga surya, perjalanan nonsetop ini bisa memakan waktu 5-6 hari. 

"Ini akan menjadi penemuan bagaimana saya dapat bertahan hidup di dalam pesawat selama 5-6 hari," ujar Borschberg, pilot berkebangsaan Swiss, sebelum terbang dengan pesawat yang memiliki rentang sayap lebih dari 70 meter dan berat hanya beberapa ton ini, seperti dikutip dari BBC, Minggu (31/5). 

Dari kokpit yang besarnya tak lebih dari bilik telepon, Borschberg yang juga pebisnis dan insinyur pesawat meninggalkan Nanjing pukul 02.39. Selama perjalanan, ia boleh terlelap sekitar 20 menit dan akan melakukan yoga untuk menyegarkan tubuh.   

Tidak hanya membutuhkan tenaga matahari yang mengaktifkan 17.000 panel surya di sayap, dibutuhkan juga tenaga angin untuk mendorong maju pesawat. Tenaga yang dihasilkan disimpan dalam baterai lithium-ion yang harus di isi ulang hingga sore agar dapat terbang sampai esok hari.  

Setiap langkah perjalanan itu akan diawasi dari ruang kendali proyek di Monako. 

Strategi  
Strategi sangat vital dalam proyek ini. Kelompok simulasi di Monako akan terus memonitor keadaan di depan, serta menerima laporan cuaca terbaru dan batasan wilayah terbang untuk memberikan prediksi agar pesawat dapat terbang di rute teroptimal. 

Rencana dasarnya, pesawat akan terbang tinggi hingga 8.500 meter selama pagi agar panel surya dapat terisi dengan baik. Malam hari, Borschberg akan turun ke ketinggian sekitar 900 meter untuk menghemat energi sebanyak mungkin. Dalam beberapa fase selama pesawat sedang turun, baling-balingnya bahkan dapat dimatikan. Ia akan melayang turun. 

Masalahnya di ketinggian tinggi, Solar Impulse akan dibantu angin buritan untuk mendorongnya ke arah timur. Namun, semakin pesawat turun, semakin besar kemungkinan Solar Impulse disambut angin yang bertiup ke barat. Penerbangan ketika malam diperkirakan sangat pelan. 

"Bagi kami, waktu bukanlah prioritas utama. Energi adalah prioritas utama dan bila kami harus terbang satu hari lebih, itu bukan masalah karena memiliki peralatan dan perlengkapan cukup untuk pilotnya. Mungkin sulit baginya, namun secara teknis itu tidak menjadi masalah," tutur Direktur Misi, Raymond Clerc. 

Pesawat ini juga di lengkapi autopilot, toilet, cadangan makanan-minuman, dan segala sesuatu yang dibutuhkan pilot. 

Jika berhasil mencapai Bandara Kalaeloa di Hawaii, ini akan menjadi penerbangan paling lama dan durasi perjalanan terlama untuk pesawat satu penumpang.  
Dari Hawaii, Solar Impulse akan diterbangkan Bertrand Piccard ke Phoenix di Amerika Serikat (AS), setelah perhentian sementara. Perjalanan nonsetop itu "hanya" berlangsung empat hari.  

Piccard dan Borschberg menyusuri Amerika pada Mei, Juni, dan Juli tahun lalu, memecahkan rekor sebagai pesawat berawak pertama yang menempuh jarak paling jauh.  

Versi pertama Solar Impulse mencatat sejumlah rekor dunia, termasuk pesawat tenaga surya berawak pertama yang terbang selama 26 jam, sekaligus pesawat tenaga surya pertama yang melintas antarbenua. (SH/c) 



SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru