Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Selasa, 14 Juli 2026

Selain Jadi Bom, Hidrogen Bisa Jadi Sumber Energi Bersih

- Kamis, 14 Januari 2016 19:06 WIB
324 view
Selain Jadi Bom, Hidrogen Bisa Jadi Sumber Energi Bersih
Pekan lalu, Korea Utara mengklaim telah melakukan uji coba bom hidrogen. Namun banyak pihak yang menganggap itu hanya gertak sambal. Sebab, getaran ledakannya tak jauh berbeda dibanding tiga uji coba bom besar yang dilakukan Pyongyang sebelumnya.

Adapun bom hidrogen adalah senjata termonuklir dengan kekuatan ratusan kali lebih kuat ketimbang bom atom seperti yang pernah digunakan Amerika Serikat di Hiroshima dan Nagasaki, Jepang, pada Perang Dunia II. Sepanjang sejarah, bom atom hanya dua kali digunakan dalam perang, sedangkan bom hidrogen tak pernah dipakai.

Daya hancurnya yang luar biasa membuat negara penguasa teknologi nuklir berpikir ulang untuk memakainya sebagai senjata. Bom itu hanya dipakai dalam uji coba. Senjata nuklir terbesar yang pernah diuji coba adalah Tsar Bomba, bom hidrogen milik Uni Soviet, pada 1961 dengan daya ledak hingga 50 megaton.

Seperti dikutip dari Scientific American, bom atom berbahan dasar plutonium atau uranium. Energi besar bom itu timbul dari proses fisi untuk memisahkan atom plutonium atau uranium menjadi atom yang lebih kecil. Proses yang sama juga digunakan dalam pembangkit listrik tenaga nuklir.

Adapun bom termonuklir dibuat memakai proses fusi pada atom hidrogen. Mekanisme inilah yang terjadi pada inti matahari, sehingga bintang itu memancarkan panas dan cahaya. Proses fusi menyatukan dua atom hidrogen, sehingga menciptakan atom helium dan energi yang sangat besar. Setiap detik, matahari mengubah 500 juta ton hidrogen menjadi helium, melepaskan sekitar 5 juta ton sinar gamma yang menerangi dan menghangatkan bumi.

Menggabungkan isotop hidrogen, deuterium, dan tritium dinilai sebagai cara terbaik dalam proses fusi. Alih-alih menjadi senjata, hidrogen sebenarnya bisa menjadi sumber energi bersih terbarukan yang sangat besar.

Masalahnya, menjalankan proses fusi tak semudah mekanisme fisi. Atom hidrogen harus dipanaskan dalam temperatur tinggi, sekitar 11 juta derajat Celsius, agar membentuk plasma dan punya cukup energi untuk menyatu. Plasma ini harus bisa ditahan dalam waktu lama agar proses fusi bisa terjadi. Matahari dan bintang lain melakukannya dengan bantuan gravitasi yang besar. Membuat dan mempertahankan suhu setinggi itu di bumi jelas membutuhkan energi yang sangat besar.

Di bumi, dibutuhkan ruang khusus dengan medan magnet kuat yang mampu menahan panas tinggi dan energi plasma. Reaktor fusi ITER di Prancis memiliki fasilitas itu. Energi dari 500 triliun watt laser dipakai untuk memicu reaksi fusi. Namun proton dan neutron yang lolos dari reaksi cepat mendingin dan menurunkan suhu yang diperlukan untuk fusi. Riset ITER terus berjalan dan para ilmuwan berharap bisa menghasilkan listrik 500 megawatt menggunakan 0,5 gram hidrogen sebagai bahan bakar. (T/ r)
SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru