Sikapi Warning AS, IPW Minta Polri Bersihkan Sarang Teroris dan Radikalisme


268 view
(Dok. Jawa Pos)
Ketua Presidium Indonesia Police Watch (IPW) Neta S Pane 
Jakarta (SIB)

Peringatan dini yang dikeluarkan Kedubes AS agar warganya menghindari mal, kerumunan dan tempat tempat hiburan karena ancaman teroris di Indonesia masih tinggi, perlu disikapi Polri dengan membersihkan sarang sarang terorisme dan radikalisme yang bisa mengancam ketertiban umum.

Ketua Presidium Indonesia Police Watch (IPW) Neta S Pane mendesak Kabaintelkam Polri bekerja keras dan membuat langkah langkah nyata untuk membersihkan kantong kantong terorisme dan radikalisme di negeri ini. Tujuannya agar kelompok terorisme tidak punya ruang gerak untuk beraksi.

Sebab dalam peringatan dininya yg dikeluarkan 7 April itu, Kedubes AS menyebutkan pasca terjadinya teror bom di Makassar pada 28 Maret dan teror penembakan di Mabes Polri pada 31 Maret, ancaman terorisme di Indonesia masih tinggi.

"Polri harus menyikapi serius warning AS tentang rentang kondisi keamanan di Indonesia. Sarang sarang terorisme dan radikalisme harus dibersihkan," ujar Neta dalam keterangan tertulisnya yang diterima harianSIB.com, Jumat (9/4/2021).

Menurut Neta, potensi ancaman teroris memang masih tinggi. Di Jabodetabek misalnya, sejumlah kantong teroris sudah diacak acak polisi. Tapi di kawasan Depok, Tangsel, dan Tangerang belum berhasil ringkus. Dari pendataan IPW sedikitnya ada 11 daerah yang rawan teroris di Indonesia, yakni Jakarta, Jabar, Jateng, Jogja, Jatim, Papua, Sulsel, Sulteng, Lampung, Sumut, dan Banten.

Neta juga mengatakan, Polri juga sudah melakukan berbagai langkah antisipasi seperti di Banten. Dimana Polri telah mengumpulkan kiai, penyuluh agama, dan guru madrasah. Tujuannya agar faham radikalisme, terorisme dan intoleransi bisa diminimalisir. Bahkan dialog dengan eks napi teroris (napiter) aktif dilakukan.

Misalnya, Yayasan Lingkar Perdamaian bersama Polda Banten, pekan lalu melakukan seminar kebangsaan dan agrokultural. Seminar ini dilakukan untuk mengubah mindset anggota Yayasan Lingkar Perdamaian dan Bina Insan Mandiri yang sebagian besar adalah napiter.

"Lewat dialog, diskusi, dan seminar itu diharapkan para eks napiter bisa mandiri, bisa maju dan yang terpenting bisa membantu mereka untuk keluar dari zona merah," ujar Nrta.

Dengan demikian para napiter bisa kembali menyatu dengan masyarakat dan bisa bersahabat dengan aparat untuk menjaga Kamtibmas. Artinya, selain memburu kantong kantong terorisme, para Kapolda juga perlu aktif membina para eks napiter agar keluar dari zona merah. Begitu juga Intelkam Polri jangan sampai kecolongan lagi dari ulah teroris. Dengan pagar betis yg maksimal negeri ini tidak terus menerus menjadi bulan bulanan aksi terorisme dan radikalisme. (*)
Penulis
: Josmar Naibaho
Editor
: Wilfred/Donna Hutagalung
Segala tindak tanduk yang mengatasnamakan wartawan/jurnalis tanpa menunjukkan tanda pengenal/Kartu Pers hariansib.com tidak menjadi tanggungjawab Media Online hariansib.com Hubungi kami: redaksi@hariansib.com