Menlu: Isu Demokrasi, HAM, Lingkungan akan Jadi Perhatian Dunia di 2021


437 view
Menlu: Isu Demokrasi, HAM, Lingkungan akan Jadi Perhatian Dunia di 2021
Foto Dok
Retno Marsudi
Jakarta (SIB)
Menteri Luar Negeri Retno Marsudi menyebut beberapa isu yang akan menjadi perhatian dunia. Mulai dari demokrasi, hak asasi manusia (HAM), hingga lingkungan hidup.

"Isu demokrasi, hak asasi manusia dan lingkungan hidup diperkirakan akan semakin menjadi perhatian dunia," kata Retno dalam paparan tahunan Kemlu yang ditayangkan virtual, Selasa (6/1).

Selain itu, Retno juga berbicara mengenai digitalisasi yang akan memberikan pengaruh dalam aktivitas ekonomi ke depan. Meski begitu, digitalisasi juga memberikan tantangan, yakni meningkatnya kejahatan cyber.

"Digitalisasi akan banyak memberikan pengaruh pada aktivitas ekonomi ke depan. Di saat yang sama digitalisasi juga memberikan tantangan kejahatan cyber yang semakin meningkat dan peluang information infrastructure breakdown," ujarnya.

Bicara mengenai tantangan saat ini, Retno menyisipkan harapan agar pandemi Covid-19 segera selesai. Vaksinasi yang akan dimulai di RI disebutnya akan menjadi optimisme baru ke depan.

"Kita berharap secara bertahap pandemi Covid-19 akan dapat teratasi. Ketersediaan beberapa vaksin menimbulkan optimisme baru," ucapnya.

Meski begitu, kata Retno, kesetaraan akses vaksin di dunia saat ini masih menjadi tantangan. Dia berharap seluruh dunia dapat bergotong royong kerja sama untuk menyetarakan vaksin Covid, sehingga pertumbuhan global tidak terhambat.

"Namun kesetaraan akses terhadap vaksin bagi semua negara menjadi tantangan terutama di kuartal pertama dan kedua 2021. Vaksin juga menimbulkan harapan mulai terungkitnya kegiatan ekonomi. IMF memperkirakan pertumbuhan ekonomi global dapat mencapai 5,2 persen bahkan untuk kawasan Asia mencapai sebesar 6,9 persen," ucapnya.

"Di sisi lain, kita masih melihat kekhawatiran berlanjutnya rivalitas antara negara besar. Jika tidak terdapat niatan negara-negara tersebut untuk mengurangi rivalitas dan lebih memajukan kerja sama maka upaya penanganan pandemi dan pertumbuhan ekonomi global dapat terhambat. Diperlukan collective global leadership yang kuat, recover together, recover stronger through colletive global leadership," lanjut Retno.

54 RIBU KASUS
Pada bagian lain, Retno menyebut pihaknya berhasil mengatasi lebih dari 54 ribu kasus WNI di luar negeri. Penyelesaian kasus itu merupakan upaya dalam program penguatan perlindungan WNI.

"Untuk perlindungan WNI selama 2020, lebih dari 54 ribu kasus telah ditangani, dan angka ini meningkat lebih dari 100 persen dari tahun 2019, lebih dari 172 ribu WNI telah direpatriasi, lebih dari 500 ribu sembako telah diberikan, lebih dari 2.400 WNI terpapar COVID di luar negeri didampingi, 17 WNI dibebaskan dari hukuman mati, 4 sandera telah dibebaskan, dan Rp 103,8 miliar hak finansial WNI telah diperjuangkan," kata Retno.

Lebih lanjut, ada juga upaya berkontribusi untuk perdamaian dunia. Retno menyebut Indonesia sudah menjembatani beberapa kerja sama dalam rangka stabilitas perdamaian.

Retno menyebut saat ini tercatat ada 2.828 tentara Indonesia yang ikut dalam misi perdamaian PBB. Sebanyak 183 di antaranya merupakan tentara wanita.

"Untuk peacekeeping Indonesia merupakan negara nomor 8 penyumbang peacekeeper di dunia dari 2.828 peacekeeper Indonesia yang bertugas saat ini 163 di antaranya adalah perempuan. Mereka bertugas di delapan misi PBB," katanya. (detikcom/a)
Penulis
: Redaksi
Sumber
: Hariansib edisi cetak
Segala tindak tanduk yang mengatasnamakan wartawan/jurnalis tanpa menunjukkan tanda pengenal/Kartu Pers hariansib.com tidak menjadi tanggungjawab Media Online hariansib.com Hubungi kami: redaksi@hariansib.com