“Tsunami” Covid-19 di India Makin Menjadi-jadi, Kamar Mayat Membludak

* WHO Izinkan Penggunaan Vaksin Corona Moderna

298 view
(AP PHOTO/ALTAF QADRI)
Orang-orang melakukan ritual di samping tumpukan kayu pemakaman anggota keluarga yang meninggal karena Covid-19 di tanah yang telah diubah menjadi krematorium kremasi massal korban Covid-19 di New Delhi, India, Sabtu, 24 April 2021.
Jakarta (SIB) -Terjangan 'tsunami' Covid-19 di India makin menjadi-jadi, rekor terkini 401.993 kasus baru dicatatkan pada Sabtu (1/5). Rekor ini pecah setelah 10 hari berturut-turut angkanya ada di kisaran 300 ribu.

Dikutip dari Reuters, jumlah kematian pada hari tersebut tercatat 3.523 kasus sehingga totalnya menjadi 211.853 kasus.

Akibat ledakan kasus Covid-19 pada gelombang kedua pandemi di India, rumah sakit mulai kewalahan. Obat-obatan serta suplai oksigen makin langka dan jadi rebutan.

Kelangkaan oksigen juga dialami Batra Hospital di New Delhi. Media lokal melaporkan 8 orang termasuk seorang dokter meninggal setelah rumah sakit ini kehabisan oksigen.

Sementara itu, stok vaksin Covid-19 juga mengalami penurunan sehingga antrean terjadi di mana-mana.

Seperti dilansir BBC, Minggu (2/5), Kementerian Kesehatan India mengatakan, angka kematian mencapai 3.689 dalam waktu 24 jam terakhir. Sementara angka kasus harian menurun menjadi 392.488, di mana sehari sebelumnya mencapai 401,993 kasus.

Angka kematian akibat Covid-19 dipicu banyaknya rumah sakit yang kekurangan tempat tidur hingga pasokan oksigen.

Beberapa hari belakangan, banyak warga sampai harus memohon kepada pihak rumah sakit untuk menyediakan tempat tidur rumah sakit untuk menyelamatkan keluarga mereka yang terinfeksi Covid-19.

Sementara itu, kamar mayat dan banyak krematorium membludak.

Diketahui, Sabtu (1/5), 12 orang meninggal dunia di Rumah Sakit Batra New Delhi usai kekurangan pasokan oksigen.

Lebih lanjut, surat kabar The Times of India melaporkan 16 kematian lainnya di dua rumah sakit di selatan negara bagian Andhra Pradesh, dan enam kematian di rumah sakit Gurgaon, pinggiran New Delhi karena kekurangan oksigen.

Sulitnya pemerintah mempertahankan stabilitas pasokan oksigen membuat beberapa otoritas rumah sakit meminta intervensi pengadilan di New Delhi. Mereka meminta pengadilan memberlakukan sanksi kepada para pejabat.

Pengadilan di New Delhi, India akan mulai memberlakukan sanksi kepada para pejabat pemerintah yang gagal mengirimkan pasokan oksigen ke banyak rumah sakit usai angka kasus harian melonjak drastis beberapa waktu belakangan.

"Ini sudah melampaui batas. Cukup, cukup," kata Pengadilan Tinggi Delhi sembari menambahkan akan mulai menghukum pejabat pemerintah jika pasokan oksigen yang dialokasikan ke rumah sakit tidak dikirim.

"Kami tidak bisa membiarkan orang sekarat," kata Hakim Vipin Sanghi dan Rekha Patil.

Akibat kelangkaan, pemerintah India menggunakan kereta api, hingga mengerahkan tentara Angkatan Udara dan Angkatan Laut untuk membawa tanki-tanki oksigen yang dibutuhkan.

Kantongi Izin WHO
Terpisah, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) resmi memberikan izin penggunaan darurat dalam daftar EUL. Persetujuan ini diberikan pada Jumat (30/4).

"Tujuannya adalah untuk membuat obat-obatan, vaksin, dan diagnosa tersedia secepat mungkin demi mengatasi keadaan darurat," kata WHO dalam sebuah pernyataan, dikutip dari Al Jazeera, Minggu (2/5).

Menurut asisten Direktur Jenderal WHO Mariangela Simao, penambahan daftar vaksin Corona EUL bisa segera mengatasi keterbatasan pasokan vaksin di sejumlah negara. Termasuk bagi India, akan didistribusikan dalam program COVAX.

India kini tengah membatasi ekspor lantaran diterpa badai Covid-19, hingga sistem kesehatan nyaris 'lumpuh'. Sementara, Moderna, optimis akan meningkatkan kapasitas produksi mencapai 3 miliar dosis di 2022 mendatang.

Kelompok Penasihat Strategis Ahli Imunisasi (SAGE) WHO pada bulan Januari telah merekomendasikan vaksin Corona Moderna untuk semua kelompok usia 18 tahun ke atas.

Sebelumnya, WHO sudah menyetujui vaksin Corona Pfizer, yang sama-sama berteknogi mRNA di akhir tahun 2020. Disusul dua vaksin AstraZeneca, dari AstraZeneca-SK Bio, dan Serum Institute of India.

Selanjutnya, vaksin Corona Johnson & Johnson dengan dosis tunggal juga disetujui WHO. Namun, badan kesehatan PBB masih mempertimbangkan vaksin Corona yang dikembangkan China seperti Sinopharm dan Sinovac.

Keputusan disebut akan jatuh tempo pada akhir pekan depan. Seperti diketahui, Moderna menjadi salah satu vaksin Corona yang dipakai untuk program vaksin gotong royong, tetapi sejauh ini vaksin Covid-19 yang baru tersedia untuk program tersebut adalah vaksin Sinopharm dengan efikasi 78 persen.

Sementara vaksin Moderna memiliki efikasi vaksin yang jauh lebih tinggi, yaitu di atas 90 persen. (detikhealth/detikcom/f)
Penulis
: Redaksi
Sumber
: Koran SIB
Segala tindak tanduk yang mengatasnamakan wartawan/jurnalis tanpa menunjukkan tanda pengenal/Kartu Pers hariansib.com tidak menjadi tanggungjawab Media Online hariansib.com Hubungi kami: redaksi@hariansib.com