Kematian Corona Melonjak

100-150 Jenazah Tiap Hari Dikremasi, India Kekurangan Pasokan Kayu

PM India Dikecam Lanjutkan Renovasi Parlemen

165 view
Internet
Petugas krematorium
New Delhi (SIB)
Sejumlah krematorium di India dilaporkan kekurangan pasokan kayu untuk prosesi pembakaran jenazah saat negara ini berjuang menghadapi aliran jenazah korban virus Corona (COVID-19).

Seperti dilansir CNN, Sabtu (8/5), laporan koresponden CNN dari Varanasi, salah satu kota tersuci di India, menyebut bahwa proses kremasi dilakukan sebelum fajar dengan para pekerja membersihkan sisa bara api dari kremasi semalam sebelumnya.

Salah satu pekerja, yang keluarganya sudah beberapa generasi bekerja di krematorium tersebut, menuturkan bahwa ada sekitar 100 - 150 jenazah yang datang setiap harinya ke pusat kremasi di Varanasi.

Pemerintah India dihujani kritikan atas responsnya yang dinilai lamban dalam menghadapi krisis yang dipicu pandemi Corona dan karena penghitungan angka kematian yang diperkirakan lebih rendah dari angka sebenarnya.

Data terbaru otoritas India pada Sabtu (8/5) waktu setempat menyebutkan 4.187 kematian akibat Corona tercatat dalam 24 jam terakhir. Ini menandai pertama kalinya tambahan kematian Corona dalam sehari di India menembus angka 4.000 -- dengan tambahan kematian tertinggi sebelumnya tercatat 6 Mei lalu saat negara ini mencatat 3.980 kematian dalam sehari.

Dengan tambahan tersebut, total kematian akibat Corona di India sejauh ini mencapai 238.270 orang.

Data terbaru otoritas India juga melaporkan bahwa 401.078 kasus Corona tercatat dalam 24 jam terakhir. Total kasus Corona di India saat ini mencapai nyaris 21,9 juta kasus -- total kasus Corona terbanyak kedua di dunia setelah Amerika Serikat (AS) yang sejauh ini mencatat total 32,6 juta kasus.

Para pakar medis setempat, yang meragukan data pemerintah untuk total kasus dan kematian Corona, memperkirakan India belum akan mencapai puncak lonjakan hingga akhir Mei mendatang. Para pakar juga memperkirakan angka sebenarnya di lapangan mencapai 5-10 kali lipat lebih tinggi dari data pemerintah.

Krematorium utama di Varanasi dilaporkan kewalahan menerima aliran jenazah, sehingga mendirikan krematorium darurat di salah satu tepi Sungai Gangga. Krematorium darurat lainnya juga dilaporkan dibangun di tempat-tempat parkir.

Di tengah banyaknya jumlah jenazah yang harus dikremasi, pasokan kayu untuk pembakaran jenazah dilaporkan mulai menipis. Seorang pedagang kayu setempat menuturkan bahwa permintaan kayu untuk kremasi meningkat empat kali lipat dari biasanya.

Disebutkan juga oleh pedagang kayu tersebut bahwa tiga pemasok utamanya mulai kehabisan pasokan kayu.

Laporan Kepala Koresponden Internasional CNN, Clarissa Ward, dari Varanasi menyebutkan bahwa lockdown yang diberlakukan di kota-kota India tidak sebanding dengan yang terjadi di New York atau London.

"Di Varanasi, contohnya, pasar-pasar bisa buka setiap hari hingga sekitar pukul 11.00 waktu setempat dan jalanan tetap ramai pada jam-jam itu. Ada juga pernikahan di hotel kami semalam," tutur Ward dalam laporannya.

"Dan di jalanan Delhi...tidak realistis. Jika Anda tidak mendapatkan oksigen untuk orang tercinta Anda dan Anda harus mengantre selama 10 jam, maka Anda tidak bisa menikmati kemewahan social distancing. Ini adalah pertarungan untuk bertahan hidup, dan istilah seperti lockdown dan social distancing tidak benar-benar berlaku ketika Anda berada dalam situasi semacam itu dan Anda mati-matian berusaha mencari hal-hal untuk menyelamatkan orang tercinta Anda," imbuhnya.

DIKECAM
Saat rumah sakit kekurangan pasokan oksigen medis dan banyak pasien terinfeksi virus Corona (Covid-19) meninggal di luar rumah sakit, Perdana Menteri (PM) India, Narendra Modi, justru melanjutkan proyek renovasi parlemen senilai US$ 1,8 miliar (Rp 25,4 triliun). Proyek ini menyertakan rumah baru bagi sang PM di dalamnya.

Keputusan melanjutkan proyek di New Delhi ini memicu kemarahan publik dan politikus oposisi, yang mengecam ketidakpantasan dalam mengucurkan dana sebanyak itu untuk proyek konstruksi saat negara tengah menghadapi krisis kesehatan publik terburuk yang pernah ada.

Proyek renovasi bernama Proyek Pembangunan Kembali Central Vista yang menghabiskan banyak dana itu telah dikategorikan sebagai 'layanan esensial', yang berarti pembangunannya diperbolehkan untuk berlanjut bahkan saat proyek-proyek pembangunan lainnya dihentikan.

Dua warga India, yang salah satunya terinfeksi Corona, mengajukan gugatan ke Pengadilan Tinggi Delhi pada Rabu (5/5) waktu setempat, untuk berupaya menghentikan proyek tersebut. Diketahui bahwa proyek renovasi parlemen itu terus berlanjut meskipun New Delhi tengah di-lockdown.

Dalam gugatannya, kedua penggugat berargumen bahwa gedung parlemen bukan merupakan layanan esensial dan pekerjaan konstruksi bisa menjadi peristiwa super-spreader Corona. Disebutkan dokumen gugatan yang diajukan oleh pengacara bernama Nitin Saluja itu bahwa para pekerja konstruksi rutin dibawa dari asrama pekerja menuju ke lokasi proyek.

Pengadilan Tingi Delhi menawarkan untuk menggelar sidang gugatan pada akhir bulan ini, namun para pengunggat membawa kasus ini ke Mahkamah Agung. Mereka berargumen bahwa pengadilan lebih rendah 'gagal mengapresiasi beratnya' situasi yang ada. "Mengingat ada darurat kesehatan publik dalam hal ini, setiap penundaan akan merugikan kepentingan publik yang lebih besar," tulis Saluja dalam permohonan kepada Mahkamah Agung India.

Sebelumnya PM Modi juga dikritik atas caranya menangani gelombang kedua Corona, dengan tetap menggelar kampanye dan mengizinkan digelarnya festival keagamaan yang dihadiri banyak orang di tengah lonjakan Corona. (detikcom/c)
Penulis
: Redaksi
Sumber
: Koran SIB
Tag:
Segala tindak tanduk yang mengatasnamakan wartawan/jurnalis tanpa menunjukkan tanda pengenal/Kartu Pers hariansib.com tidak menjadi tanggungjawab Media Online hariansib.com Hubungi kami: redaksi@hariansib.com