Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Kamis, 02 Juli 2026

Bawa Kabur Pengungsi Rohingya ke Sumut, 3 Pria di Aceh Ditangkap

23 Pengungsi Rohingya Kabur
Redaksi - Minggu, 10 Desember 2023 09:19 WIB
316 view
Bawa Kabur Pengungsi Rohingya ke Sumut, 3 Pria di Aceh Ditangkap
Dok Polres Lhokseumawe)
3 pria yang ditangkap saat hendak membawa kabur 6 pengungsi Rohingya di Lhokseumawe. 
Jakarta (SIB)
Polisi menangkap tiga pria di Lhokseumawe, Aceh, karena diduga hendak membawa kabur enam pengungsi Rohingya dari kamp penampungan sementara. Pengungsi itu rencananya akan dibawa ke Sumatera Utara (Sumut).
"Jumat dini hari tim yang kita bentuk berhasil menggagalkan enam pengungsi Rohingya yang mencoba kabur dan telah meninggalkan tempat penampungan," kata Kapolres Lhokseumawe AKBP Henki Ismanto kepada wartawan seperti dilansir, Sabtu (9/12).
Henki menjelaskan keenam pengungsi Rohingya itu kabur dari kamp penampungan sementara di gedung bekas kantor imigrasi di Lhokseumawe dengan melompat pagar belakang, Kamis (7/12) malam. Mereka mengendap di persawahan sebelum dibawa keluar dari wilayah tersebut.
Keenamnya dapat ditangkap kembali tim Satgas Polres Lhokseumawe. Selain itu, polisi juga menangkap tiga warga Lhokseumawe yakni RM (50), HU (41) dan DA (25).
Ketiga tersangka disebut mengaku dihubungi seseorang berinisial KH (DPO) untuk menjemput ketiganya. Tugas ketiga tersangka disebut membawa pengungsi Rohingya dari kamp penampungan ke lokasi persinggahan.
"Setelah menjemput, keenam warga Rohingya ini dibawa ke belakang GOR Unimal Desa Uteunkot untuk ditransitkan dan pada pukul 02.00 WIB akan diberangkatkan ke Sumatera Utara dengan bus," ucap Henki.



23 Pengungsi Kabur
Sementara itu, informasi terakhir menyebutkan bahwa 23 pengungsi Rohingya kabur dari kamp penampungan sementara di hokseumawe, Aceh. Mereka kabur dalam dua gelombang.
"Gelombang pertama kabur tujuh orang dan gelombang kedua kabur 16 orang," kata Kapolres Lhokseumawe AKBP Henki Ismanto, Sabtu (9/12).
Henki menyebut pengungsi Rohingya yang ditampung di gedung eks kantor imigrasi Lhokseumawe itu awalnya berjumlah 514 orang. Namun setelah 23 orang kabur, pengungsi di sana tinggal 492 orang.
Henki menjelaskan pengawasan Rohingya di kamp penampungan tersebut dilakukan secara berkala oleh petugas UNHCR dan pihak kepolisian. Dia menilai lokasi penampungan di sana over kapasitas.
"Untuk kondisi saat ini di kantor eks imigrasi tempat penampungan sekarang sudah overload. Idealnya 220 orang yakni di lantai 1 110 orang dan lantai 2 110. Namun terisi 492 orang atau over 272 orang," ucapnya.



1.200 Pengungsi
Sementara itu, Komisioner Tinggi Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk Pengungsi (UNHCR) Indonesia menjelaskan sudah ada seribuan pengungsi Rohingya yang ada di Aceh.
"Secara kumulatif sejak 14 November, jumlah kedatangan pengungsi adalah sekitar 1.200 orang di beberapa titik di Aceh, seperti Pide, Bireuen, Aceh Timur, dan Sabang," kata pejabat informasi publik (public information officer) UNHCR Indonesia, Mitra Salima Suryono, kepada detikcom, Sabtu (9/12).
Sejak 14 November, sudah ada tujuh gelombang kedatangan pengungsi Rohingya ke Aceh. Kedatangan terakhir adalah pada pekan lalu, yakni Sabtu (2/12) dan Minggu (3/12). Pada pekan lalu itu, terdapat seratusan orang pengungsi Rohingya yang sampai di Aceh.
"Jumlah kedatangan di Sabang yang terakhir adalah 139 orang," kata Mitra.
UNHCR bekerja sama dan berkoordinasi dengan pemerintah Indonesia. Lembaga ini memprioritaskan keselamatan dan kesehatan para pengungsi. Banyak di antara pengungsi adalah perempuan, anak-anak, dan manula yang rentan. UNHCR bekerja sama dengan mitra kerja, donor, dan pihak berwenang untuk memastikan kebutuhan perlindungan pengungsi Rohingya.
"Tujuannya, agar kehadiran pengungsi Rohingya tidak membebani masyarakat dan pemerintah setempat," kata Mitra.
Kebutuhan pengungsi yang berusaha dicukupi antara lain kebutuhan makanan, minuman, air bersih, obat-obatan, dan pelayanan kesehatan. UNHCR tidak menggunakan anggaran negara pemerintah Indonesia.
"Program yang sudah dan sedang berjalan di Aceh dan di lokasi lainnya di mana pengungsi berada, sepenuhnya didanai oleh UNHCR dan para mitranya, tidak bergantung pada anggaran negara atau daerah. Meskipun demikian, kami selalu menyambut baik sumbangan dari pemerintah dan masyarakat yang dapat menguatkan upaya kami dalam memberikan perlindungan bagi pengungsi yang sebagian besar adalah perempuan dan anak-anak (lebih dari 70%) dan kekompok rentan lainnya, seperti penyandang disabilitas dan lansia," tulis UNHCR dalam keterangannya.
UNHCR menyebut Indonesia sudah lama berkomitmen membantu pengungsi. Lembaga ini berharap Indonesia tetap bersikap sama, yakni pro-kemanusiaan.
"Indonesia selama bertahun-tahun, sejak 1970-an, telah menjalankan tradisi kemanusiaan dalam menerima pengungsi. Kami optimistis dan berharap masih dapat melihat semangat solidaritas dan kemanusiaan yang sama kuatnya saat ini dan di kemudian hari," kata Mitra. (**)



SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru