* Kasus Corona Meningkat di 105 Kabupaten/Kota

Berbahaya, Banyak Klub Malam di Daerah Masih Melanggar Jam Operasional

* Antisipasi Libur Nataru, PCR akan Diterapkan di Moda Transportasi Selain Pesawat

153 view
Berbahaya, Banyak Klub Malam di Daerah Masih Melanggar Jam Operasional
KEMENKO MARVES
Menko Marves Luhut Binsar Pandjaitan
Jakarta (SIB)
Menko Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan mengungkapkan, disiplin penerapan protokol kesehatan di berbagai sektor semakin berkurang belakangan ini. Hal itu, kata Luhut, berdasarkan pengawasan yang dilakukan oleh tim yang diterjunkan pemerintah.

"Di berbagai sektor, terutama seiring disiplin masyarakat yang semakin berkurang terhadap pandemi Covid-19. Karena kami kirim tim juga," kata Luhut dalam konferensi pers, Senin (25/10).

Luhut mengatakan, berdasarkan hasil pemantauan tim, banyak klub malam di sejumlah daerah yang masih melanggar ketentuan jam operasional.

"Lihat misalnya ada klub malam, misalnya di daerah Semarang atau di daerah tempat lain, itu buka sampai jam 2 pagi. Seperti ini kan berbahaya sekali," ungkapnya.

Luhut pun mewanti-wanti, pelanggaran protokol kesehatan sangat berbahaya. Dia mengingatkan, keberhasilan untuk menahan gempuran gelombang baru virus Corona tergantung pada pengendalian kasus Covid-19.

"Saya ingin mengingatkan bahwa kita dapat menahan gelombang baru dengan terus mengendalikan jumlah kasus yang tambah per hari itu harus di bawah 2.700 kasus," tuturnya.

Tak hanya melanggar jam operasional, Luhut mengungkapkan, banyak juga bar dan klub malam yang beroperasi tanpa mengindahkan protokol kesehatan. Dia melanjutkan, selain itu, banyak klub malam yang meminta pengunjungnya untuk tidak mengambil gambar agar tidak ketahuan.

"Bar dan klub malam masih beroperasi tanpa memperhatikan protokol kesehatan yang ada. Di beberapa bar tidak diperbolehkan para pengunjung untuk mengambil gambar dan video. Ndak boleh. Supaya jangan ketahuan gitu. Di Bali, misalnya, kelihatan banyak sekali. Dan saya mohon pemda Bali juga kali untuk perhatikan ini," papar Luhut.

MENINGKAT
Luhut mengatakan, ada peningkatan kasus positif Corona atau Covid-19 di 105 kota/kabupaten. Namun, Luhut mengklaim kasus Corona di 105 wilayah itu masih terkontrol.

"Situasi pandemi Covid-19 masih terkendali pada tingkat yang semakin jauh membaik. Kasus konfirmasi Indonesia dan Jawa-Bali masing-masing telah turun hingga 98,9 persen dari kasus puncaknya 15 Juli lalu. Namun dari arahan presiden pada ratas hari ini, presiden terus mengingatkan pada kami agar semua terus waspada dan berhati-hati akan datangnya gelombang selanjutnya. Hal tersebut berkaitan dengan adanya peningkatan kasus di 105 kota dan kabupaten di seluruh Indonesia," ucap Luhut dalam konferensi pers virtual yang disiarkan kanal YouTube Sekretariat Presiden, Senin (25/10).

Dia mengatakan, kasus Corona di wilayah-wilayah itu masih terkendali. Luhut mengatakan pemerintah menemukan kasus Corona yang naik turun.

Luhut mengatakan, Presiden Jokowi meminta agar pengawasan protokol kesehatan kembali diketatkan. Sebab, meski saat ini PPKM dilonggarkan, pencegahan lonjakan kasus perlu diperhatikan.

"Terkait hal ini Presiden juga mengingatkan bahwa mulai banyak kelemahan pengawasan di lapangan dan harus segera kembali di jaga dan dipertegas pengawasannya karena kunci dari penyesuaian atau pelonggaran PPKM ialah manajemen pengawasan lapangan," ujarnya.

Luhut mengatakan pemerintah melakukan briefing ke jajarannya untuk memperhatikan pengawasan dan memperhatikan prokes. Sebab, di banyak negara, pengawasan terhadap protokol kesehatan tidak terjadi sehingga terus terjadi lonjakan kasus baru.

"Kita hari ini tidak boleh lengah karena kasus yang rendah, karena banyak di negara lain terutama di negara di Eropa yang mengalami kenaikan kasus signifikan meskipun vaksinasinya tinggi. Di negara tersebut relaksasi kegiatan sosial dilakukan dengan cepat dan protokol ketat kesehatan dilupakan, ini saya mohon dimengerti jadi kalau ada langkah-langkah kami yang kelihatan ketat kami memang mempertimbangkan betul, karena kalau nanti lebar baru pada ribut," kata Koordinator PPKM Jawa Bali itu.

Antisipasi Nataru
Pemerintah telah mempersiapkan antisipasi libur Natal dan tahun baru (Nataru) agar kasus Covid-19 tak kembali melonjak. Satu di antaranya akan menerapkan tes PCR di moda transportasi selain pesawat.

"Terkait penggunaan PCR pada moda transportasi pesawat yang banyak dikritik, dapat kami sampaikan bahwa hal ini ditentukan utamanya untuk menyeimbangkan relaksasi yang dilakukan pada aktivitas masyarakat. Terutama pada sektor pariwisata," kata Luhut.

"Meski kasus sudah sangat rendah, belajar dari negara lain kita tetap memperkuat 3T, 3M supaya kasus tidak kembali menguat, terutama periode libur Natal dan tahun baru," tambahnya.

Luhut mengatakan penerapan tes di moda transportasi selain pesawat akan diberlakukan secara bertahap.

"Secara bertahap penggunaan tes akan juga diterapkan pada transportasi lain selama mengantisipasi periode Natal dan tahun baru," ucapnya.

Dia membeberkan perbandingan masa libur Natal dan tahun baru pada tahun lalu dengan tahun ini. Menurutnya, mobilitas masyarakat ke Bali tahun ini diprediksi akan terus meningkat hingga akhir tahun nanti.

"Sebagai perbandingan, selama periode Natal dan tahun baru tahun lalu, meskipun penerbangan ke Bali disyaratkan PCR, mobilitas tetap meningkat dan pada akhirnya mendorong kenaikan kasus. Walaupun tanpa varian delta dapat kami sampaikan bahwa mobilitas di Bali sudah sama dengan Natal-tahun baru yang tahun lalu, dan akan terus meningkat sampai akhir tahun ini, sehingga risiko menaikkan kasus," jelasnya.(detikcom/c)
Penulis
: Redaksi
Sumber
: Koran SIB
Segala tindak tanduk yang mengatasnamakan wartawan/jurnalis tanpa menunjukkan tanda pengenal/Kartu Pers hariansib.com tidak menjadi tanggungjawab Media Online hariansib.com Hubungi kami: redaksi@hariansib.com