Gejala Berat Hepatitis Akut Terjadi Setelah 2 Pekan, Pasien Bisa Hilang Kesadaran


209 view
Gejala Berat Hepatitis Akut Terjadi Setelah 2 Pekan, Pasien Bisa Hilang Kesadaran
Foto: Ist/harianSIB.com
Hepatitis Akut Misterius. Ilustrasi

Jakarta (SIB)

Gejala berat hepatitis akut misterius sangat menakutkan. Juru Bicara Kementerian Kesehatan (Kemenkes) Siti Nadia Tarmizi menerangkan, gejala berat pada anak di bawah umur 16 tahun umumnya terjadi dalam rentang waktu dua pekan, yang ditandai dengan hilang kesadaran atau kejang.


"Makanya disebut hepatitis akut berat, karena dalam 14 hari orang yang terkena jadi kejang dan terjadi penurunan kesadaran. Kalau hepatitis normal tidak sampai kejang," kata Siti Nadia, di Jakarta, Selasa (17/5), seperti dikutip Antara.


Nadia mengatakan, indikasi itu dipelajari tim peneliti terhadap satu dari tiga pasien anak yang dilaporkan meninggal dunia dalam kurun waktu yang berbeda pada akhir April 2022, di RSCM Jakarta. "Satu dari tiga kasus meninggal di Jakarta merupakan probable hepatitis akut bergejala berat yang belum diketahui penyebabnya," katanya.


Nadia menjelaskan, klasifikasi hepatitis misterius probable ditandai dengan laporan nonreaktif pada pemeriksaan hepatitis A, B, C, D, dan E maupun virus lainnya, seperti dengue maupun Adenovirus 41. Kemenkes sedang memperkuat peran diagnosa pasien bergejala hepatitis di seluruh Puskesmas di Tanah Air. Sebab, kunci mencegah kasus kematian pada pasien adalah kecepatan diagnosa dan penanganan medis.


"Sifatnya kewaspadaan demam kuning. Apa pun gejalanya, Puskesmas harus turun cek lingkungan, ambil sampel feses pasien dan diperiksa. Puskesmas akan lihat, apakah perlu rujukan ke rumah sakit atau tidak," katanya.


Belum Ada Kenaikan

Sementara itu, Menteri Kesehatan (Menkes) Budi Gunadi Sadikin mengungkap sampai saat ini belum ada indikasi kenaikan kasus Corona (Covid-19) di tengah keputusan pelonggaran aturan masker bagi masyarakat di luar ruangan. Dia menduga, kalaupun ada kenaikan, setelah hari raya Lebaran kemarin, tidak akan signifikan dan masih terkendali.


"Memang mengenai kebijakan ini (pelonggaran aturan masker) sesudah Lebaran, sampai sekarang kita belum lihat adanya kenaikan kasus," kata Budi saat konferensi pers, Selasa (17/5).


Budi memperkirakan, meski saat ini belum ada, tetap akan terjadi kenaikan kasus Corona lantaran adanya mobilitas tinggi masyarakat saat hari raya Lebaran kemarin. Meski begitu, dia menduga kenaikan itu tetap akan terkendali.


"Kalau ditanya apakah akan ada atau tidak? Feeling saya ada, karena kan mobilitasnya tinggi, tetapi selama masih di bawah threshold positivity rate 5 persen, dan kita juga monitor production rate-nya yang sekarang sudah 1 atau sedikit di bawah 1, harusnya ini masih terkendali," ucapnya.


Lebih lanjut, Budi juga menyebut, berdasarkan pengalaman lonjakan kasus, kenaikan baru akan mulai terjadi 27-34 hari setelah hari raya. Dia pun meminta semua pihak menunggu sampai akhir bulan ini untuk memastikan apakah akan ada kenaikan kasus Corona pasca-Lebaran atau tidak.


"Pengalaman kami melihat hari-hari raya besar sebelumnya, yaitu Natal, tahun baru tahun lalu, juga Lebaran tahun lalu, biasanya indikasi kenaikan terjadi 27-34 hari sesudah hari rayanya. Jadi kalau hari rayanya kemarin 2 Mei ya kalau nggak salah, kita lihat akhir bulan ini, insyaallah tidak ada kenaikan yang signifikan, tapi nanti kita tunggu supaya bisa lebih jeli melihat di akhir bulan ini," ujarnya. (RM/Detikcom/a)


Penulis
: Redaksi
Sumber
: Koran SIB
Segala tindak tanduk yang mengatasnamakan wartawan/jurnalis tanpa menunjukkan tanda pengenal/Kartu Pers hariansib.com tidak menjadi tanggungjawab Media Online hariansib.com Hubungi kami: redaksi@hariansib.com