India Tutup Cagar Alam, Covid Menyebar ke Kandang Harimau

* Covid Melonjak, Myanmar Tutup Sekolah Sekolah di 7 Kota

97 view
Pixabay/skeeze
Ilustrasi harimau.
Jakarta (SIB)
Pemerintah India menutup sementara semua cagar alam harimau untuk pariwisata setelah terjadi klaster Covid-19 di kebun binatang.

Perintah penutupan itu dikeluarkan oleh Otoritas Konservasi Harimau Nasional India, lembaga di bawah naungan Kementerian Lingkungan, Senin (7/6).

Perintah itu muncul setelah singa betina yang positif Covid-19 mati beberapa hari sebelumnya.

"Contoh terbaru dari hewan kebun binatang yang terinfeksi Covid-19 sekali lagi menunjukkan kemungkinan besar penularan penyakit dari manusia ke hewan liar yang ditangkap," kata perintah itu, mengutip CNN.

"Penularan serupa juga dapat terjadi di cagar alam harimau," katanya.

Untuk mencegah harimau dan satwa liar lainnya terinfeksi virus corona, semua cagar alam harimau harus ditutup sementara untuk kegiatan pariwisata.

Kasus terbaru terjadi di Taman Zoologi Arignar Anna alias Kebun Binatang Vandalur di tenggara kota Chennai.

Petugas kebun binatang dan tim dokter hewan lantas segera melakukan karantina semua singa dan mulai merawat mereka dengan antibiotik.

Petugas medis juga telah mengambil sampel dari singa, harimau, dan mamalia besar lain untuk dilakukan pengujian. Mereka berharap pengurutan genetik dapat mengungkapkan jenis virus mana yang menginfeksi singa.

Kepala menteri Tamil Nadu, M K Stalin, dengan sejumlah menteri dan otoritas satwa lain mengunjungi kebun binatang untuk meninjau situasi, pada Minggu (6/6).

Maret lalu, delapan singa di kebun binatang Hyderabad terinfeksi Covid-19. Wabah itu juga dilaporkan menjangkit kandang singa di kebun binatang Jaipur dan Etawah.

Untuk menekan penyebaran corona, Tamil Nadu menutup kebun binatang pada 20 April.

Di negara lain, Covid-19 juga menyerang sejumlah harimau dan singa di Kebun Binatang Bronx, New York pada April tahun lalu. Kasus itu terdeteksi setelah para satwa menunjukkan gejala, salah satunya batuk. Namun, mereka kini telah pulih.

Virus yang menginfeksi hewan memicu kekhawatiran para ahli zoologi, termasuk di India.

Otoritas Konservasi Harimau Nasional India lantas memerintahkan semua cagar harimau untuk mengamati hewan mamalia itu guna mengetahui gejala, dan untuk memastikan semua pawang hewan negatif Covid-19.

Dekan kedokteran hewan dan ilmu makhluk hidup di City University of Hong Kong, Nikolaus Osterrieder mengatakan, gelombang kedua Covid-19 di India menempatkan hewan dengan resiko infeksi yang lebih besar.

"Mungkin bukan kebetulan bahwa di India, di mana Anda memiliki jumlah kasus yang tinggi, penularan ke hewan terjadi sebagai konsekuensi langsung," katanya.

"Semakin banyak kasus pada manusia, semakin tinggi kemungkinan hewan, termasuk hewan kebun binatang, terinfeksi."

Kucing, singa dan harimau sangat rentan terhadap penyakit parah. Sementara hewan seperti cerpelai dan musang mungkin lebih rentan terhadap Covid-19 tanpa gejala.

Sedang kelompok kucing lebih mudah menyerah pada penyakit, sehingga membuat mereka benar-benar sakit.

Hal itu, kata Osterrieder, dapat menimbulkan risiko bagi spesies yang terancam punah seperti Neela, singa betina Asia.

Habitat Singa Asia pernah hidup di daratan Afrika hingga Yunani. Namun sekarang hanya ditemukan di India, menurut Daftar Merah Spesies Terancam Punah dari Persatuan Internasional untuk Konservasi Alam.

Menurut Dana Dunia untuk Alam (WWF), hanya ada 523 singa yang tersisa. Dari jumlah yang hanya segelintir itu mereka menghadapi beberapa ancaman seperti perburuan, fragmentasi habitat, dan aktivitas manusia seperti wisata satwa liar.

"(wabah di kebun binatang) menyoroti bahwa manusia dapat menularkan patogen ke hewan, bukan hanya sebaliknya," kata Osterrieder.

Tutup
Terpisah, Junta militer Myanmar menutup sekolah di tujuh kota yang berdekatan dengan India akibat lonjakan penularan Covid-19 dalam beberapa waktu belakangan.

Direktur Unit Epidemiologi dan Penyakit Menular Kementerian Kesehatan Myanmar, Khin Khin Gyi, mengatakan bahwa penutupan dilakukan untuk sekolah di daerah yang sedang diberlakukan lockdown, yaitu Kawasan Sagaing dan negara bagian Chin.

"Sekolah ditutup sejak Senin di tujuh kota di mana perintah 'tetap di rumah' diberlakukan. Dengan keputusan ini, kami berharap dapat menghentikan penyebaran virus corona," ujar Khin Gyi, sebagaimana dilansir The Irrawady, Selasa (8/6).

Selain itu, junta juga akan mewajibkan tes Covid-19 bagi semua orang yang keluar dari Sagaing dan Chin menuju Yangon.

Khin Khin Gyi menjelaskan bahwa pemerintah harus mengambil langkah ini karena peningkatan penularan Covid-19 dalam beberapa waktu belakangan.

Berdasarkan data Kemenkes Myanmar, kasus positif Covid-19 di kedua kawasan tersebut naik dari 3 persen populasi pada awal Mei menjadi antara 8 dan 11 persen pada di awal Juni.

Dengan demikian, Kawasan Sagaing sudah melaporkan 528 kasus Covid-19 sejak 1 Februari hingga 4 Juni, sementara 319 orang lainnya di negara bagian Chin juga terpapar virus corona di periode yang sama.

Menurut Khin Khin Gyi, saat ini Sagaing berada di posisi pertama kawasan dengan penularan Covid-19 tertinggi, disusul negara bagian Chin.

Kemenkes menduga peningkatan kasus Covid-19 ini berasal dari India yang memang berbatasan dengan negara bagian Chin dan Kawasan Sagaing.

"Karena Kawasan Sagaing dan Negara Bagian China berbatasan dengan India, kami menduga penyebaran virus ini terjadi karena penerobosan perbatasan secara ilegal," tutur Khin Khin Gyi.

Ia kemudian berkata, "Dengan demikian, kasus-kasus itu bisa jadi termasuk varian baru Covid-19. Namun sekarang, kami belum mengonfirmasi bahwa varian baru Covid-19 sudah ada di negara ini."

Junta pun sudah melarang masuk semua orang dari India dan Bangladesh sejak 17 April lalu. Mereka juga melarang penerbangan lokal menuju sejumlah kota di dekat India.

Militer juga masih terus menggencarkan program vaksinasi. Namun, banyak warga menolak ikut serta sebagai bagian dari Gerakan Pembangkangan Sipil untuk menolak kudeta. (CNNI/f)
Penulis
: Redaksi
Sumber
: Koran SIB
Segala tindak tanduk yang mengatasnamakan wartawan/jurnalis tanpa menunjukkan tanda pengenal/Kartu Pers hariansib.com tidak menjadi tanggungjawab Media Online hariansib.com Hubungi kami: redaksi@hariansib.com