* Instruksikan Mendagri Ingatkan Kepala Daerah

Jokowi Kesal Kasus Corona Memburuk

* Minta Kepastian Mulainya Vaksinasi

164 view
Dok. Setpres RI
Foto: Jokowi dinilai kesal dengan data Corona yang memburuk 
Jakarta (SIB)
Presiden Joko Widodo (Jokowi) kesal kasus virus Corona di Indonesia memburuk selama dua pekan terakhir. Belakangan, rekor kasus baru Covid-19 di Indonesia memang sering pecah, lagi dan lagi.

"Ini semuanya memburuk semuanya. Karena adanya tadi kasus yang memang meningkat lebih banyak di minggu-minggu kemarin," ujar Jokowi dalam Ratas Laporan Komite Penanganan Covid-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional, disiarkan oleh kanal YouTube Setpres, Senin (30/11).

Berdasarkan data terbaru per 29 November, Jokowi memaparkan kasus aktif meningkat menjadi 13,41%. Sedangkan minggu lalu angka kasus aktifnya berada di angka 12,78%.

Begitu juga tingkat kesembuhan pasien Corona yang mengalami penurunan. Pada minggu lalu, angka kesembuhan mencapai 84,03%. Tapi data terbaru turun menjadi 83,44%.

Kurva yang ditampilkan oleh situs Satgas Penanganan Covid-19 juga menunjukkan tanjakan-tanjakan rekor kasus baru (kasus harian) Covid-19 selama pekan-pekan terakhir.

Rekor terakhir pecah pada 29 November kemarin, dengan 6.267 kasus baru. Tambahan angka itu membuat kurva pandemi Covid-19 menanjak. Total secara akumulatif, ada 534.266 kasus terkonfirmasi virus Corona di Indonesia hingga saat ini.

Awalnya Jokowi menyebut dua Provinsi, yakni DKI Jakarta dan Jawa Tengah, yang mengalami kenaikan drastis kasus positif dalam 2-3 hari belakangan. Jokowi lantas mewanti-wanti kenapa dua daerah itu bisa sangat drastis kenaikan kasusnya.

"Agar dilihat betul-betul kenapa peningkatannya begitu sangat drastis, hati-hati," ujar Jokowi.

Arahan
Jokowi menginstruksikan Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Tito Karnavian untuk mengingatkan kepala daerah dalam penanganan Corona dan pemulihan ekonomi. Sebab, masing-masing kepala daerah memegang kendali dalam kasus tersebut di wilayahnya.

"Saya minta perhatian beberapa hal yang ingin saya sampaikan, yang pertama saya minta Menteri Dalam Negeri mengingatkan kepada para gubernur, bupati, dan wali kota untuk betul-betul memegang penuh kendali di wilayah masing-masing yang berkaitan dengan masalah Covid dan juga berkaitan dengan masalah ekonomi," kata Jokowi.

Jokowi berpesan kepada kepala daerah untuk melindungi warganya dari penyebaran kasus Corona. Jokowi menekankan bahwa keselamatan rakyat adalah hukum tertinggi.

"Tugas kepala daerah melindungi keselamatan warganya dan juga sudah saya sampaikan, keselamatan rakyat adalah hukum tertinggi. Dengan memegang angka-angka kasus, kasus aktif, angka kesembuhan, kematian, dan indikator-indikator ekonomi yang ada," ujar Jokowi.

Minta Kepastian
Pada kesempatan itu, Jokowi juga meminta kepastian kapan dimulainya vaksinasi.
"Saya juga minta kepastian vaksin dan mulainya vaksinasi," kata Jokowi.

Selain itu, Jokowi meminta perkembangan terbaru tentang ekonomi.

Sebelumnya, Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) Penny K Lukito mengatakan, soal unsur kehalalan vaksin Corona Covid-19 buatan Sinovac sangat penting bagi Indonesia. Ia menyebut vaksin Sinovac memenuhi syarat kehalalan.

"Alhamdulillah dari aspek mutu dari hasil yang didapatkan inspeksi BPOM, Bio Farma, dan Majelis Ulama Indonesia, aspek halalnya bisa dikatakan sudah memenuhi, sudah sesuai aspek obat yang baik," jelas Penny dalam konferensi pers Kamis (26/11).

Hal ini berdasarkan infeksi yang dilakukan bersama MUI dan Kemenkes ke pabrik Sinovac di Beijing, China, beberapa waktu lalu. Selain soal kehalalan vaksin, aspek mutu dan keamanan vaksin ini juga dianggap baik.

Sementara itu, dari segi efficacy atau khasiat, melalui data 1 bulan akan ada kabar menggembirakan. Vaksin Sinovac menghasilkan kekebalan ke relawan uji klinis III di Bandung.

Namun, untuk mengeluarkan izin darurat, BPOM pun harus menggunakan data interim pengamatan 3 bulan. Selain itu, data itu akan dipadukan dengan data dari negara lain, seperti Brasil. (detikcom/f)
Penulis
: Redaksi
Sumber
: Harian SIB Edisi Cetak
Segala tindak tanduk yang mengatasnamakan wartawan/jurnalis tanpa menunjukkan tanda pengenal/Kartu Pers hariansib.com tidak menjadi tanggungjawab Media Online hariansib.com Hubungi kami: redaksi@hariansib.com