Ke Ponpes Salafiyah di Banten

Kapolri : Jangan Mau Dipecah Belah


182 view
(Foto Dok/Bengkuluinteraktif)
TANDATANGANI : Kapolri Listyo Sigit Prabowo saat menandatangani batu prasasti peresmian gedung baru Pondok Pesantren (ponpes) Salafiyah Tajul Falah, Banten, Sabtu (10/4).
Jakarta (SIB)
Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo mengingatkan warga agar tak mudah dipecah belah. Sigit mengingatkan pentingnya kebersamaan dalam menjadikan Indonesia lebih unggul dibanding negara lain.

"Kita mudah dipecah belah sehingga kemudian kita sibuk berhadapan dengan saudara-saudara kita sendiri, ribut dengan saudara-saudara kita sendiri. Tujuan nasional kita mewujudkan masyarakat adil dan makmur itu adalah tugas kita bersama yang dulu itu diwariskan pendiri bangsa. Itu yang harus kita ingat," kata Sigit saat meresmikan bangunan baru Pondok Pesantren (Ponpes) Salafiyah Tajur Falah di Desa Sipatung, Kecamatan Cipanas, Lebak, Banten, Sabtu (10/4).

Sigit mengatakan, bangsa Indonesia pernah dijajah 350 tahun lamanya karena mudah dipecah belah. Namun, ketika Indonesia bersatu menjadi satu kekuatan, Indonesia berhasil mengalahkan para penjajah.

"350 tahun kita dijajah oleh Belanda dan dilanjutkan Jepang saat itu. Karena apa? Karena kita mudah terpecah belah.

Kenapa mudah? Karena Indonesia ini negara yang sangat majemuk, sangat beragam, banyak pulau, banyak suku, banyak agama, etnis, sehingga paling mudah untuk diadu," tutur Sigit.

"Tapi manakala kita kemudian bisa mengelola keberagaman yang ada ini jadi suatu kekuatan, yang terjadi adalah sebaliknya," sambung dia.

Sigit melanjutkan tantangan terkini bagi Indonesia adalah Covid-19. Untuk itu, Sigit menyerukan agar semua pihak bersatu agar segera keluar dari masalah pandemi Covid-19.

"Tantangan kita dulu menghadapi penjajah, kita mampu bersatu. Saat ini kita menghadapi Covid-19, kita harapkan kita mampu bersatu, jangan mau lagi dipecah belah," terang Sigit.

"Pemilu pilkada, pilpres, sudah selesai, para elite politik sudah banyak yang bergabung. Tapi di bawah, grass root suasananya masih musuhan terus, padahal itu kan saudara sendiri, tapi itu yang selalu dilakukan untuk memecah belah," imbuh dia.

Sigit berujar Indonesia memiliki modal besar untuk menjadi negara yang maju, yakni sumber daya alam (SDA) lengkap yang tak dimiliki negara lain. Negara asing yang tahu akan hal ini, kata Sigit, tak mau Indonesia mampu mengelola kekayaan SDA, sehingga memakai strategi memecah belah Indonesia.

"Negara lain hanya bisa mengalahkan Indonesia kalau kita dipecah belah. Negara lain tidak punya sumber daya alam, kita lengkap semuanya, dan mereka tidak mau sumber daya alam ini bisa dikelola kita sendiri, sehingga kemudian segala macam cara digunakan untuk memecah belah kita," tutur mantan Kabareskrim Polri ini.

Terkait sumber daya, Sigit berharap Ponpes Salafiyah Tajur Falah ke depannya semakin banyak mencetak sumber daya manusia (SDM) yang unggul. Sigit mengatakan mengapresiasi peran Ponpes Salafiyah Tajur Falah, yang selama 81 tahun mencetak santri-santri unggul.

"Pondok Pesantren Salafiyah Tajur Falah salah satu pondok pesantren yang cukup tua, dari 1940 sampai saat ini, kurang-lebih 81 tahun dan saya yakin dari Pondok Pesantren Salafiyah Tajur Falah sudah melahirkan berbagai macam manusia-manusia unggul. Ada yang jadi masuk dalam birokrat, ada juga yang banyak mendirikan pesantren-pesantren baru. Ada alumni Pak Wa Bupati, ada juga yang jadi polisi," ungkap Sigit.

"Sekali lagi saya memberikan apresiasi atas terus berkembangnya Ponpes Salafiyah Tajur Falah ini dan harapan kita tentunya ke depan Ponpes Salafiyah Tajur Falah betul-betul bisa melahirkan santri-santri yang kemudian siap melanjutkan apa yang menjadi tujuan dan cita-cita negara kita," lanjut Sigit.

Sigit menyebut ada sekitar 3.000 pesantren salafiyah di Banten. Dia menyampaikan semua pihak harus membantu kemajuan pesantren salafiyah sehingga upaya lembaga pendidikan Islam ini mencetak SDM unggul dapat betul-betul terlaksana.

"Yang saya tahu pesantren salafiyah yang ada di Banten ini kurang-lebih ada 3.000, jadi banyak sekali dan ini tentunya perlu mendapatkan perhatian dari kita semua sehingga kemudian upaya pesantren dalam mewujudkan SDM yang unggul ini betul-betul berjalan dengan baik," kata mantan Kadiv Propam Polri ini.

Sedikit bernostalgia, Sigit yang pernah menjabat sebagai Kapolda Banten mengaku saat ini jarang bertemu dengan para ulama di Banten. Oleh sebab itu, hari ini Sigit berkunjung untuk silaturahmi.

"Walaupun saya sudah jarang bertemu dengan sahabat-sahabat ulama Banten, kecintaan saya terhadap ulama-ulama Banten tentunya tidak akan pernah pudar. Jadi saya sangat senang bisa datang ke sini bersama-sama dengan teman-teman kami, rombongan dari Mabes Polri untuk silaturahmi," jelas Sigit. (detikcom/d)
Penulis
: Redaksi
Sumber
: Hariansib.com edisi cetak
Segala tindak tanduk yang mengatasnamakan wartawan/jurnalis tanpa menunjukkan tanda pengenal/Kartu Pers hariansib.com tidak menjadi tanggungjawab Media Online hariansib.com Hubungi kami: redaksi@hariansib.com