Malaysia Darurat Covid, Perjalanan Antar Negara Dilarang

* Pemerintah Disalahkan Gagal Cegah Orang Berkumpul Jumlah Besar

247 view
AP Photo/Vincent Thian
Foto: Kantor perdana menteri Malaysia di Putrajaya, Malaysia.
Jakarta (SIB)
Malaysia akan melarang semua pergerakan antarnegara bagian dan antar distrik tanpa izin dari polisi mulai Senin (10/5). Tak tanggung-tanggung larangan tersebut akan berlangsung selama empat minggu hingga 6 Juni.

Aturan ini berlaku di semua negara bagian, baik ia terikat dalam perintah kontrol gerakan (MCO), status ditingkatkan, bersyarat, ataupun pemulihan. Semua kegiatan sosial, pendidikan dan ekonomi dilarang.

Menteri Senior (Pertahanan) Ismail Sabri Yaakob mengatakan, semua fungsi resmi dan sosial pemerintah dan swasta juga tidak diperbolehkan. Namun keputusan itu akan ditinjau lagi dua minggu mendatang.

Ismail Sabri juga mengatakan, pemerintah selalu meninjau protokol kesehatannya untuk membendung Covid-19, yang dikenal sebagai prosedur operasi standar (SOP). Jika ada peningkatan kasus harian, SOP yang ada mungkin diperketat.

"Pasalnya, tren kasus di Tanah Air semakin mengkhawatirkan, seiring dengan ditemukannya varian baru Covid-19," katanya dikutip Strait Times.

"Ini telah menyebabkan beberapa negara bagian (telah) memberlakukan perintah kontrol gerakan yang ditargetkan (MCO), di Kedah, Selangor, Johor, Penang dan Pahang, sebelum daerah-daerah di negara bagian itu menjadi zona merah."

MCO baru-baru ini juga dilaksanakan di Kuantan, Pahang dan tiga kabupaten (Timur Laut, Seberang Perai Tengah, Seberang Perai Selatan) dan tiga kecamatan (Mukim 12, Barat daya, Bandar Butterworth, dan Mukim 14) di Penang dari 10 Mei hingga 23 Mei.

Baru-baru ini, seluruh Kuala Lumpur, beberapa daerah di Johor, Perak dan Terengganu juga ditempatkan di bawah MCO selama 14 hari hingga 20 Mei setelah peningkatan drastis tercatat pada kasus Covid-19.

Semua perjalanan antar-distrik dan antar negara bagian dilarang selama MCO. Sementara semua sektor ekonomi diizinkan beroperasi seperti biasa.

Meledak
Pejabat tinggi kesehatan Malaysia pada Sabtu (8/5) melukiskan gambaran suram perjuangan negara itu melawan pandemi virus corona. Ia bahkan mengatakan kasus baru bisa mencapai 7.000 sehari pada akhir bulan ini.

"Diproyeksikan bahwa Malaysia akan mencatat 5.000 kasus pada akhir Mei dan sekitar 3.000 kasus pada pertengahan bulan," kata Kementerian Kesehatan, Tan Sri Dr Noor Hisham Abdullah dalam konferensi pers di kementerian di Putrajaya, dikutip The Strait Times, Minggu (9/5).

"Tapi sekarang, dua minggu sebelum pertengahan bulan, kami telah mencatat lebih dari 3.000 kasus ... Kami memperkirakan 5.000 pada pertengahan Mei sekarang, dan pada akhir Mei, kasus dapat meningkat menjadi 6.000 hingga 7.000, tergantung pada kita, apakah kita memutus rantai infeksi."

Karenanya, ia menambahkan, dua hingga empat minggu ke depan akan sangat penting. Ia meminta semua masyarakat mendukung pemerintah dan tetap di rumah sebanyak mungkin.

Hal ini juga ditegaskannya di tengah Idul Fitri yang akan segera datang. Hari raya kerap membuat warga melakukan mobilitas tinggi berkunjung ke rumah saudara.

Meskipun perjalanan antar negara bagian dan distrik dilarang, kunjungan lebaran diperbolehkan di dalam distrik. Namun dibatasi antara 15 dan 25 orang, tergantung pada tingkat pembatasan negara bagian tersebut.

"Adakan Hari Raya di rumah sendiri seperti tahun lalu. Tahun lalu setelah Hari Raya, tidak ada lonjakan infeksi. Kenapa kita tidak bisa melakukannya lagi?".

"Varian terbaru Covid-19 dari luar negeri sudah menyebar di beberapa negara bagian Malaysia, dengan lebih banyak orang muda yang terinfeksi."

Pada hari Jumat dia memperingatkan bahwa jumlah pasien yang sakit kritis telah mencapai rekor tertinggi sebanyak 506 orang. Ia mengatakan pemerintah menambahkan lebih banyak tempat tidur untuk unit perawatan intensif.

Kasus harian mencapai 4.519 pada hari Sabtu setelah tercatat 4.498 pada hari Jumat. Ini merupakan yang tertinggi selama tiga bulan.

Malaysia hingga saat ini baru mencatat tiga kali lipat dengan penghitungan harian melebihi 5.000 kasus, pada akhir Januari. Jumlah kasus tertinggi per hari yang tercatat adalah 5.728 pada 31 Januari.

Sebelumnya, di tengah kekhawatiran atas meningkatnya pasien ICU, Dr Noor Hisham telah memposting foto dan video rumah sakit dan ICU. Ini guna menanamkan kesadaran publik.

"Kami hampir kehabisan tempat tidur. Harap tetap sehat dan tetap aman," tulisnya enam hari lalu.

Sistem perawatan kesehatan sedang berada di titik krusial dengan peningkatan 44% pada pasien ICU dibandingkan dua minggu lalu. Lebih dari 20 rumah sakit yang ditunjuk untuk pandemi telah mencapai tingkat hunian ICU antara 70 hingga lebih dari 100%.

Sementara beberapa rumah sakit yang sebelumnya tidak menangani pasien Covid-19 sekarang melakukannya.

Pemerintah telah banyak disalahkan karena gagal mencegah orang berkumpul dalam jumlah besar sejak bulan puasa dimulai bulan lalu. Ini memungkinkan bazar makanan Ramadhan dibuka kembali tahun ini dan memberi keleluasaan kepada masjid untuk mengadakan layanan sholat Ramadhan.

Restoran, yang biasanya tutup pada tengah malam, diberi tahu bahwa mereka bisa tetap buka sampai pukul 6 pagi. "Jadi, kami tidak ingin berakhir seperti negara, di mana kami harus memilih siapa yang akan hidup dan siapa yang akan mati."

Heboh
Sementara itu, dilaporkan, Singapura heboh karena beberapa kasus positif corona (Covid-19) kini ditemukan di Bandara Changi, Singapura. Setidaknya Sabtu (8/5) ada total empat kasus baru yang melibatkan pekerja di Terminal 1 dan Terminal 3 bandara tersebut.

Hal ini membuat Kementerian Kesehatan Singapura (MOH) akan melakukan "operasi pengujian khusus". Ini akan berlaku bagi semua staf di dua terminal itu.

Mengutip Channel News Asia, kasus bermula pada Rabu lalu. Saat itu, seorang petugas kebersihan berusia 88 tahun yang bekerja di Terminal 3 dinyatakan terinfeksi.

Setelah pengujian dilakukan, ditemukan tiga kasus lagi melibatkan seorang petugas kebersihan, coordinator keselamatan dan petugas penerbangan. Padahal, dua di antara mereka telah divaksin.

Singapura membagi kasus coronanya menjadi tiga, yakni kasus lokal, impor dan pekerja migran. Kemarin, setidaknya ada 20 kasus baru dengan nol kematian.

Dari semuanya, tujuh di antaranya berasal dari penyebaran komunitas lokal. Sementara sebanyak 13 kasus yang tersisa adalah kasus impor.

Dari Worldometers, Singapura mencatat 61.331 total kasus. Total kematian sebanyak 31. (CNBCI/d)
Penulis
: Redaksi
Sumber
: Koran SIB
Segala tindak tanduk yang mengatasnamakan wartawan/jurnalis tanpa menunjukkan tanda pengenal/Kartu Pers hariansib.com tidak menjadi tanggungjawab Media Online hariansib.com Hubungi kami: redaksi@hariansib.com