Longsor Susulan di Sibolangit Sudah Diprediksikan di FGD ICK

Opsi Cepat Jalan Baru Medan-Berastagi, Via Telagah-Langkat atau Jaranguda?


565 view
Opsi Cepat Jalan Baru Medan-Berastagi, Via Telagah-Langkat atau Jaranguda?
Foto Istimewa
Ilustrasi: Personel Satlantas Polrestabes Medan melakukan pengamanan di jalur Medan-Berastagi. 
Medan (SIB)
Sejumlah opsi untuk pilihan cepat pembangunan jalan baru sebagai jalan alternatif jurusan Medan-Berastagi (Karo) ditawarkan sejumlah pihak, tidak hanya karena terjadinya banjir dan longsor susulan pada ruas jalan Sibolangit pada Selasa malam (16/11) kemarin, tetapi terutama karena tindakan dan keputusan atas opsi ini dinilai sudah urgen sangat mendesak.

Pihak Ikatan Cendikiawan Karo (ICK) telah mengajukan tiga opsi jalur untuk jalan alternatif Medan-Berastagi tersebut, khususnya sejak gagal--batalnya rencana dan impian pembangunan jalan tol Medan-Berastagi sejak 2018 lalu. Pihak Pemkab Karo bersama Deliserdang mengajukan opsi pembangunan jalan alternatif yang disebut 'Berastagi By Pass' dengan menyambung ruas 'jalan setapak' lintas dataran Sibolangit yang sudah ada pada beberapa ruas selama ini.

Sedangkan, pada 2003 lalu, Ir Sanusi Surbakti MBA MRE dalam tim survei bersama Ikatan Konsultan Indonesia (Inkindo) Sumut, juga mendukung wacana dan rencana pembukaan atau pembukaan jalan baru Medan-Berastagi pada lintas Simpang Tuntungan, Kutalimbaru yang tembus ke Sibolangit dan Desa Jaranguda di Berastagi melintasi sebagian lokasi hutan dataran Sibolangit.

"Terlepas dari wacana apakah rencana jalan tol Medan-Berastagi itu batal atau tertunda karena faktor kelayakan atau anggaran (biaya), sekarang opsi mana jalan alternatif baru yang akan dipilih untuk dibangun segera. Urgensi utamanya adalah, kita tentu tak ingin sampai jatuh korban lagi akibat bencana longsor di tengah jalan lintas Sibolangit itu," ujar Sanusi Surbakti kepada SIB via seluler dan rilis WA, Rabu (17/11).

Dengan prihatin dia menyebutkan, terjadinya longsor susulan di ruas jalan Sibolangit pada KM 50+600 Desa Bandarbaru pada Selasa malam (17/11) jam 17.45 WIB, sebenarnya sudah diwanti-wanti sebagai prediksi kekuatiran yang diungkap peserta temu diskusi (FGD) ICK di Medan Club, Senin (1/11) lalu.

Ketika itu, peserta FGD Ir Jontahan Ikuten Tarigan dan Tania S Depari berharap tegas kepada Ketua DPRD Sumut Drs Baskami Ginting dan Bupati Karo Cory S Sebayang untuk bertindak cepat membangun jalan baru sebagai jalan alternatif Medan-Berastagi, sebelum jatuh korban lagi (dengan bahasa daerah Karo). Sebagaimana diketahui, bencana longsor pada ruas Sibolangit yang terjadi sebelumnya (23 Oktober 2021) telah menimbulkan korban tiga tewas, termasuk tewas di tempat (dalam mobilnya) ketika tertimpa matrial longsoran.

"Saat ini memang ada objek jalan yang lumayan eksis sebagai jalan alternatif Medan-Berastagi pada jalur via Binjai--Langkat. Memang jaraknya lebih jauh (80-an kilometer) dan kondisi fisiknya belum seratus persen aspal sehingga masa tempuhnya bisa tiga jam, tapi relatif lebih aman karena mayoritas medannya alam datar," ujar Sanusi mengisahkan pengalamannya pada jalur tersebut, termasuk sehari setelah longsor 23 Oktober lalu.

Jalur alternatif Medan-Berastagi via Telagah-Langkat itu meliputi lintasan Kota Binjai, Desa Garunggung, Pamah, Samelir, dan DesaTelagah yang kemudian tembus ke desa Kutarayat Kecamatan Namanteran di Kabupaten Karo.

Sebelumnya, Ketua Umum ICK Dr Ir Budi D Sinulingga, telah mengajukan tiga opsi untuk pembangunan jalan alternatif Medan-Berastagi, kepada Bupati Karo, Gubernur Sumut, DPR RI dan instansi terkait hingga Presiden RI (tujuh surat) selama 2016-2020.

Opsi pertama adalah jalur lintas Medan: Tuntungan, Kutalimbaru, Tandukbenua, Simpang Sambaikan, ke Brastagi sepanjang 55,88 kilometer, yang terdiri dari fisik jalan dalam Kota Medan 8,69 kilometer, area eks hutan Deliserdang 39,98 kilometer dan jalan di wilayah Karo sepanjang 7,95 kilometer. Opsi ini adalah rencana untuk jalur Berastagi By Pass.

Opsi kedua adalah untuk jalan alternatif Medan-Berastagi pada jalur Desa Liang dan Desa Barusjahe sepanjang 44 kilometer.

Jalur ini lebih pendek (dekat) namun harus menempuh proses peralihan fungsi hutan karena melintasi areal hutan lindung Deliserdangpada ruas jalan sepanjang 34,78 kilometer di wilayah Deliserdang dan 0,46 kilometer wilayah Karo.

"Sedangkan opsi ketiga, yang mulanya merupakan opsi awal (oleh PUPR) tapi ditolak ICK, adalah jalur Tanjungmorawa -Saribudolok -Tongging (Rawasaring) sepanjang 90 kilometer. Opsi ini malah semakin jauh jaraknya dan akan menjadi jalan provinsi yang paling panjang dari semua alternatif yang ada nantinya,' ujar Budi Sinulingga dengan serius. (A5/d)

Penulis
: Redaksi
Sumber
: Koran SIB
Segala tindak tanduk yang mengatasnamakan wartawan/jurnalis tanpa menunjukkan tanda pengenal/Kartu Pers hariansib.com tidak menjadi tanggungjawab Media Online hariansib.com Hubungi kami: redaksi@hariansib.com