PPATK Sowan ke KPK, Fokus Berantas Pencucian Uang Berbalut Korupsi


176 view
PPATK Sowan ke KPK, Fokus Berantas Pencucian Uang Berbalut Korupsi
(Andhika Prasetia/detikcom)
Gedung KPK
Jakarta (SIB)
KPK menerima kedatangan Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK) dalam tujuan memperkuat sinergisitas. Kali ini KPK dan PPATK akan berfokus memberantas korupsi, khususnya pada tindak pidana pencucian uang (TPPU).

"Selama ini KPK dan PPATK bekerja sama terutama menyangkut dalam tindak pidana pencucian uang itu, upaya-upaya yang kami lakukan di KPK untuk meningkatkan dan mendorong agar dalam pemberantasan tindak korupsi juga diperluas dalam tindak pidana pencucian terus kami lakukan," kata Wakil Ketua KPK Alexander Marwata di gedung Merah Putih KPK, Jakarta Selatan, Rabu (17/11).

Hadir secara langsung Kepala PPATK Ivan Yustiavandana beserta jajarannya dalam kesempatan ini. Alex menyebut PPATK memiliki peran aktif dalam kinerja KPK, khususnya untuk mengetahui transaksi atau aset seseorang.

"KPK sendiri banyak menerima informasi dari PPATK, selain kegiatan yang penyidikan-penyelidikan, biasanya teman-teman penyidik itu meminta laporan hasil analisis PPATK untuk lebih mendalami biasanya terkait dengan kalau dalam proses penyelidikan, penyidikan itu ditemukan adanya transaksi transaksi atau aset-aset yang lebih besar, ya kami akan meminta PPATK untuk melakukan analisis terkait dengan transaksi transaksi tersebut," kata Alex.

Lalu, Alex mengatakan, sinergi antara KPK dan PPATK sangat dibutuhkan dalam upaya pemberantasan korupsi. Dengan itu, setiap laporan yang diberikan PPATK tentu akan memudahkan kinerja KPK dalam menelusuri unsur-unsur pidana suatu dugaan perkara.

"Selain juga laporan proaktif dari PPATK, nah ini yang terus kami upayakan untuk ditindak-lanjuti. Kami memandang sinergi dan kolaborasi antara KPK dan PPATK itu sangat penting dan strategis sehingga perlu terus diperkuat," katanya.

Alex juga mengatakan, TPPU adalah tindak kejahatan paling tinggi dibandingkan narkoba dan pajak. Dengan itu, dia menyebut ada kesepakatan di antara kedua lembaga ini dalam memanfaatkan informasi laporan hasil analisis (LHA) dari PPATK.

"Selain itu dalam pertemuan pagi ini kami juga menyepakati beberapa hal, antara lain dalam penanganan tindak pidana pencucian uang, tindak pidana korupsi merupakan kejahatan pada peringkat pertama dari korupsi, kemudian narkoba dan pajak," katanya.

"Kedua pihak sepakat dan memiliki komitmen tinggi dalam pemberantasan korupsi dengan memanfaatkan informasi LHA PPATK. Selanjutnya KPK dan PPATK akan terus membangun kerjasama yang lebih efektif, KPK mendukung program Nasional Risk Assessment (NRA), kemudian Deputi Informasi serta Deputi Penindakan KPK akan menindaklanjuti LHA PPATK khususnya yang diamanatkan dalam Pasal 11 Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2019, ada beberapa laporan PPATK yang belum kami tindak lanjuti dan itu nanti kami akan melakukan koordinasi lebih lanjut dengan PPATK," tambahnya.

Menanggapi hal itu, Ivan mengatakan penguatan sinergisitas ini penting dilakukan. Ivan menyebut korupsi merupakan tindak pidana yang paling berisiko untuk TPPU.

"Jadi ini sebagai bukti keseriusan kami karena seperti Pak Alex sampaikan tadi berdasarkan dokumen peta penilaian Resiko yang memang wajib Indonesia punya, faktanya memang tindak pidana korupsi itu adalah tindak pidana yang paling beresiko untuk pencucian uang," kata Ivan.

Jadi peta risikonya paling atas, paling berisiko itu angkanya absolut, sembilan, sehingga dengan demikian kalau pertanyaannya adalah hasil tindak pidana apa yang paling banyak dicuci itu jawabannya berdasarkan peta risiko tadi adalah hasil tindak pidana pencucian uang dan narkoba, untuk kemudian tindak pidana lainnya," tambahnya.

Ivan mengatakan. kerja sama PPATK dan KPK perlu diperkuat guna memberantas TPPU. Dia juga mengatakan, pihaknya akan selalu siap jika KPK membutuhkan data terkait penyelidikan maupun penyidikan yang sedang dilakukan.

"Nah, atas dasar itulah memang sangat beralasan bahwa kami akan memperlakukan kerja sama dengan sangat khusus dan memang akan ke depan akan lebih agresif lagi," katanya.

"Jadi intinya PPATK akan selalu senantiasa mendampingi KPK khususnya terkait dengan upaya follow the money ya, tindak pidana korupsi yang ditangani oleh teman-teman di KPK. Selain PPATK, juga bisa memproduksi HA dan hasil analisis-analisis pemeriksaan secara proaktif, di lain itu PPATK juga akan membantu KPK apabila teman-teman KPK membutuhkan data lebih lanjut terkait dengan upaya penyelidikan ataupun penyidikan yang dilakukan oleh teman-teman di KPK," sambungnya. (detikcom/d)

Penulis
: Redaksi
Sumber
: Koran SIB
Segala tindak tanduk yang mengatasnamakan wartawan/jurnalis tanpa menunjukkan tanda pengenal/Kartu Pers hariansib.com tidak menjadi tanggungjawab Media Online hariansib.com Hubungi kami: redaksi@hariansib.com