Paus Serukan Perang di Ukraina Segera Diakhiri

* AS Kecam Rusia Siagakan Pasukan Nuklir

386 view
Paus Serukan Perang di Ukraina Segera Diakhiri
Foto: catholicnewsagency/Media Vatikan
SERUAN: Paus Fransiskus menyerukan agar pertempuran militer yang berlangsung di Ukraina segera diakhiri saat menyampaikan pidato Angelus-nya di Vatikan, Minggu (27/2). 

Jakarta (SIB)

Paus Fransiskus menyerukan agar pertempuran militer yang berlangsung di Ukraina segera diakhiri. Paus Fransiskus juga mencetuskan agar koridor kemanusiaan dibuka agar warga sipil bisa menyelamatkan diri dari konflik.


"Biarkan senjata-senjata itu terdiam," kata Paus Fransiskus seperti dilansir dari AFP, Senin (28/2).


"Tuhan bersama orang-orang yang mencari kedamaian, bukan orang-orang yang menggunakan kekerasan," imbuhnya.


Dalam pernyataannya, Paus Fransiskus juga menyerukan mendesak pembukaan koridor kemanusiaan yang memungkinkan warga sipil untuk melarikan diri dari pertempuran militer antara Ukraina dan Rusia yang terus berlanjut.


"Saya memikirkan warga lanjut usia, semua orang yang kini mencari perlindungan, serta para ibu yang melarikan diri dengan anak-anak mereka," ucapnya.


"Mereka adalah saudara dan saudari yang baginya harus dibukakan koridor kemanusiaan dan harus disambut baik," cetus Paus Fransiskus.


Sementara itu, Badan Pengungsi PBB, UNHCR, mengatakan lebih dari 368.000 orang telah meninggalkan Ukraina sejak invasi Rusia dimulai pada Kamis (24/2) lalu.


Banyak pengungsi dari Ukraina melarikan diri ke negara tetangga, seperti Polandia, dimana pihak berwenang telah menghitung sekitar 156.000 penyeberangan tercatat sejak serangan tersebut. Selain itu, ada juga yang mengungsi ke Moldavia, Hungaria, Slovakia, dan Rumania.


Sementara itu, otoritas Vatikan mengatakan siap untuk memfasilitasi dialog antara Rusia dan Ukraina untuk mengakhiri perang. Sekretaris Negara Kardinal Pietro Parolin meyakini selalu ada ruang untuk negosiasi.


"Terlepas dari perang yang dilepaskan oleh Rusia melawan Ukraina, yakin selalu ada ruang untuk negosiasi," kata Parolin kepada surat kabar Italia, dilansir Reuters.


Disiagakan

Sementara itu Amerika Serikat (AS) mengecam keras langkah Presiden Rusia Vladimir Putin yang menempatkan pasukan nuklir negaranya dalam siaga tinggi. Ditegaskan AS bahwa langkah semacam itu berbahaya dan tidak bisa diterima.


Seperti dilansir Reuters, Senin (28/2), dalam mengeluarkan perintah untuk mempersiapkan senjata nuklir Rusia, Putin menyebut, adanya 'pernyataan agresif' dari negara-negara NATO dan sanksi yang meluas dari negara-negara Barat, yang disebutnya 'ilegal'.


Duta Besar AS untuk Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB), Linda Thomas-Greenfield, menuturkan kepada program televisi CBS 'Face the Nation' bahwa tindakan Putin itu semakin meningkatkan konflik dan 'tidak bisa diterima'.


Thomas-Greenfield menyatakan, AS 'terus mencari tindakan baru dan bahkan lebih keras terhadap Rusia'.


Di Pentagon, seorang pejabat senior pertahanan AS yang enggan disebut namanya menyatakan perintah nuklir Putin sebagai eskalasi konflik dan menilai Putin 'memainkan kekuatan yang, jika terjadi miskalkulasi, bisa membuat segalanya jauh lebih berbahaya'.


Menurut pejabat itu, AS masih berupaya memahami perintah nuklir Putin 'secara nyata'.


Sementara berbicara kepada program CNN 'State of the Union', Sekretaris Jenderal NATO, Jens Stoltenberg, menyebut, perintah nuklir Putin 'agresif' dan 'tidak bertanggung jawab'.


Sebelumnya, Putin yang menyebut invasi Rusia ke Ukraina sebagai 'operasi khusus', memicu kekhawatiran baru ketika memerintahkan 'pasukan pencegahan' Rusia, yang menggunakan senjata nuklir,' untuk siaga tinggi.


Putin diketahui membenarkan invasi militer Rusia dengan menuduh 'neo-Nazi' menguasai Ukraina dan mengancam keamanan Rusia -- tuduhan yang disebut propaganda tak berdasar oleh Ukraina dan negara-negara Barat.


Dalam pernyataan pada Minggu (27/2) waktu setempat, Putin menyinggung soal pernyataan agresif dari pemimpin negara-negara NATO dan rentetan sanksi ekonomi dari Barat untuk Rusia saat menerbitkan perintah untuk menyiagakan pasukan nuklir Rusia


"Tidak hanya negara-negara Barat mengambil tindakan tidak bersahabat terhadap negara kita dalam dimensi ekonomi -- maksud saya sanksi-sanksi ilegal yang diketahui dengan sangat baik oleh semua orang -- tapi juga para pejabat tinggi negara-negara NATO terkemuka yang membiarkan diri mereka menyampaikan pernyataan agresif terhadap negara kita," ucapnya.


Duduki

Kota Nova Kakhovka telah jatuh ke kubu Rusia. Kota di selatan Ukraina itu diambil alih oleh pasukan Rusia.


Dilansir dari BBC, pasukan Rusia kini telah menguasai Nova Kakhovka. Kota ini merupakan kota kecil yang terdapat Sungai Dnieper. Sungai ini terhubung dengan semenanjung Krimea.


Wali Kota Nova Kakhovka, Volodymyr Kovalenko mengatakan pasukan Rusia telah menyita komite eksekutif kota. Bendera Ukraina juga telah dicabut dari gedung-gedung pemerintahan.


Pasukan Rusia terus merengsek masuk ke 'jantung' Ukraina dari selatan. Dengan didudukinya Nova Kakhova, maka wilayah Kherson, Mykolaiv dan Melitopol terancam.


Ledakkan Pipa Gas

Militer Rusia masih terus melakukan serangan ke berbagai kota di Ukraina. Terkini, Rusia dilaporkan meledakkan pipa gas di Kharkiv, kota terbesar kedua di Ukraina.


Dilansir Associated Press, Minggu (27/2) Kharkiv diketahui menjadi salah satu wilayah yang diserang Rusia sejak awal invasi dimulai pada Kamis (24/2) lalu. Jalan-jalan hingga beberapa gedung rusak parah.


Layanan Komunikasi Khusus dan Perlindungan Informasi Negara Ukraina memperingatkan bahwa ledakan, yang dikatakan tampak seperti awan jamur, dapat menyebabkan "bencana lingkungan". Penduduk Kharkiv disarankan untuk menutupi jendela rumah mereka dengan kain lembab atau kain kasa dan minum banyak cairan.


Meski begitu, Jaksa Agung Ukraina, Iryna Venediktova, mengatakan pasukan Rusia tidak dapat merebut Kharkiv, di mana pertempuran sengit sedang berlangsung.


Diketahui kota berpenduduk 1,5 juta orang itu terletak hanya 40 kilometer (25 mil) dari perbatasan Rusia. Wali Kota Kharkiv di Ukraina memperingatkan warganya untuk tidak meninggalkan rumah mereka sejak invasi dilancarkan.


Dilansir dari CNN, Wali Kota Kharkiv mendesak warga untuk tinggal di rumah karena ledakan dan suara artileri dilaporkan di seluruh negeri.


Sebuah depot minyak di luar Kota Kiev, Ukraina juga meledak terhantam sebuah roket yang diluncurkan pasukan Rusia.


Dilansir dari BBC, Wali Kota Kiev Nataliia Balasynovych dan penasihat Ukraina, Anton Geraschenko, mengkonfirmasi ledakan itu.


Ledakan depot minyak itu terekam oleh warga. Dalam video yang beredar, tampak asap membumbung tinggi. Listrik di sekitar lokasi ledakan terlihat padam.


Jam Malam

Otoritas Kiev, Ukraina memberlakukan jam siang dan malam hingga Senin waktu setempat. Bagi warga yang melanggar akan dianggap sebagai anggota kelompok sabotase musuh.


"Jam malam di Kiev akan dimulai pada hari Sabtu pukul 5.00 sore (15.00 GMT) dan berakhir pada pukul 8.00 (06.00 GMT) pada hari Senin," kata otoritas kota di seperti dilansir AFP, Minggu (27/2).


Warga diminta untuk tidak berada di jalan selama periode jam malam. Mereka yang melanggar akan dianggap kelompok sabotase musuh.


Tewas

Kementerian Dalam Negeri Ukraina juga melaporkan korban jiwa setelah Rusia invasi Ukraina. Mereka melaporkan ada 352 warga sipil yang tewas.


"Jumlah orang yang diketahui tewas di Ukraina setelah invasi Rusia adalah 352 warga sipil," kata Kementerian Dalam Negeri Ukraina, dilansir dari CNN, Senin (28/2).


Dari 352 warga sipil yang tewas itu, 14 di antaranya adalah anak-anak. Adapun korban yang terluka dilaporkan ada 1.684 orang, termasuk 116 adalah anak-anak.


Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky menyebut tindakan Rusia ke negaranya hampir mengarah kepada genosida. Zelensky juga mendesak dunia untuk menghapus hak suara Rusia di Dewan Keamanan PBB.


"Ini teror. Mereka akan mengebom kota-kota Ukraina kita, terlebih lagi, mereka akan membunuh anak-anak kita dengan lebih halus. Ini adalah kejahatan yang telah datang ke tanah kita dan harus dihancurkan," kata Zelensky dalam sebuah pesan video pendek, dilansir Channel News Asia, Minggu (27/2).


"Tindakan kriminal Rusia terhadap Ukraina menunjukkan tanda-tanda genosida," tambahnya.


Zelensky juga mengatakan Rusia membombardir daerah-daerah pemukiman di Ukraina.


"Tadi malam di Ukraina brutal, sekali lagi penembakan, lagi-lagi pemboman di daerah pemukiman, infrastruktur sipil," kata Zelensky.


"Hari ini, tidak ada satu hal pun di negara ini yang tidak dianggap sebagai target. Mereka berperang melawan semua orang.


Mereka berperang melawan semua makhluk hidup - melawan taman kanak-kanak, melawan bangunan tempat tinggal dan bahkan melawan ambulans."


Presiden Ukraina itu juga mengatakan pasukan Rusia "menembakkan roket dan rudal ke seluruh distrik kota di mana tidak ada dan tidak pernah ada infrastruktur militer".


"Vasylkiv, Kiev, Chernigiv, Sumy, Kharkiv dan banyak kota lain di Ukraina hidup dalam kondisi yang terakhir dialami di tanah kami selama Perang Dunia II," imbuhnya.


Perlambat Serangan

Sementara itu, militer Ukraina menyebut pasukan Rusia mulai memperlambat serangannya, namun masih terlibat pertempuran dalam upaya menguasai sejumlah wilayah Ukraina. Invasi militer Rusia ke Ukraina telah memasuki hari kelima sejak dimulai pada Kamis (24/2) lalu.


"Penjajah Rusia telah mengurangi kecepatan serangan, tapi masih berupaya mencari kesuksesan di beberapa wilayah," demikian pernyataan Kepala Staf Jenderal Angkatan Bersenjata Ukraina, seperti dilansir AFP dan CNN, Senin (28/2).


"Dalam operasi serangan udara, musuh terus menyerang lapangan udara baik militer maupun sipil, titik komando militer, sistem pertahanan udara, infrastruktur penting, pusat-pusat yang berpenduduk, dan unit-unit di area pertahanan," imbuh pernyataannya.


Invasi yang dilancarkan Rusia ke Ukraina memicu kecaman global. Militer Ukraina, yang didukung persenjataan Barat, diklaim berhasil memperlambat pergerakan pasukan Rusia.


Militer Ukraina juga menuduh Rusia menembakkan rudal ke gedung-gedung permukiman di beberapa kota, termasuk Zhytomir dan Chernihiv, yang ada di barat laut dan utara Ukraina.


"Dengan melanggar norma-norma hukum internasional, penjajah secara diam-diam melancarkan serangan rudal terhadap gedung permukiman di Zhytomir dan Chernihiv," sebut pernyataan tersebut.


Disebutkan juga dalam pernyataan Kepala Staf Jenderal Angkatan Bersenjata Ukraina itu bahwa militer Ukraina berhasil memukul mundur serangan Rusia. "Memaksa musuh untuk meninggalkan serangan," imbuh pernyataan itu.


Evakuasi

Sementara itu dilaporkan, Kementerian Luar Negeri (Kemlu) menyatakan telah menyusun strategi dalam mengevakuasi warga negara Indonesia (WNI) di Ukraina. Tercatat ada 153 WNI di Ukraina.


"Sejak awal, ketika kita sudah memonitor adanya eskalasi situasi di Ukraina, kita telah melakukan updating rencana kontijen," kata Direktur Perlindungan Warga Negara Indonesia dan Badan Hukum Indonesia Kemlu, Yudha Nugraha, di YouTube Kemlu, Senin (28/2).


Dia mengatakan seluruh perwakilan RI wajib memiliki rencana kontingensi perlindungan WNI sebagaimana diatur Permenlu 5 Tahun 2018.


Kemlu akan berkoordinasi dengan KBRI terdekat guna mengevakuasi WNI di Ukraina. Beberapa KBRI tersebut ialah KBRI Warsawa, KBRI Bratislava, KBRI Ukraina, juga KBRI Moskow.


Dia mencatat saat ini ada 153 WNI yang tersebar di Ukraina. Namun, pihaknya lebih dulu fokus menangani WNI di Kyiv dan Moldova.


"(Ada) 153 orang yang tercatat dalam database terbaru. Konsentrasi terbesar kita adalah WNI di Kyiv dan Odessa. Mayoritas mereka adalah pekerja migran yang bekerja di sektor manufaktur dan juga sektor hospitality," ungkapnya.

Dievakuasi

Sebelumnya, Kemlu RI menyatakan telah mengevakuasi 25 WNI dari Ukraina ke Rumania. Dari foto yang diunggah Kemlu RI di akun Twitternya, Minggu (27/2), tampak para WNI sedang berbaris. Mereka terlihat hendak memasuki sebuah bus.


Selain ke Rumania, pemerintah berupaya mengevakuasi WNI ke Polandia. Evakuasi akan dilakukan sesuai dengan kondisi yang ada di lapangan.


"Kita sedang mengupayakan untuk melakukan evakuasi ke Polandia maupun ke Rumania," kata Judha, Sabtu (26/2).


Judha belum memastikan tanggal WNI akan dievakuasi ke Polandia dan Rumania ini. Evakuasi akan dilakukan apabila jalur aman bagi pergerakan ke Polandia dan Rumania. (detikcom/c)

Penulis
: Redaksi
Sumber
: KORAN SIB
Segala tindak tanduk yang mengatasnamakan wartawan/jurnalis tanpa menunjukkan tanda pengenal/Kartu Pers hariansib.com tidak menjadi tanggungjawab Media Online hariansib.com Hubungi kami: redaksi@hariansib.com