Puluhan Mayat Diduga Terinfeksi Corona Ditemukan di Sungai India

* Tangkal Covid, Warga India Olesi Tubuh dengan Kotoran Sapi

271 view
Foto: Rtr
LUMURI: Warga India melumuri tubuh dengan kotoran sapi yang dipercayai mampu untuk mencegah Covid-19.
New Delhi (SIB)
Otoritas India melaporkan bahwa puluhan mayat diduga korban virus Corona (Covid-19) ditemukan terdampar di tepi Sungai Gangga. Diduga mayat-mayat ini sengaja dibuang ke sungai karena krematorium kewalahan di tengah lonjakan kematian Corona.

Seperti dilansir AFP, Selasa (11/5), gelombang kedua Corona yang diwarnai lonjakan kasus dan kematian telah menyebar dengan cepat ke pedesaan terpencil India. Situasi ini membuat sistem layanan kesehatan kewalahan, demikian halnya dengan krematorium dan tempat pemakaman.

Seorang pejabat setempat, Ashok Kumar, menuturkan bahwa sekitar 40 mayat ditemukan terdampar di tepi Sungai Gangga yang ada di distrik Buxar, antara Bihar dan Uttar Pradesh -- dua wilayah termiskin di India. "Kami telah mengarahkan pejabat terkait untuk mengurusi seluruh mayat itu, baik menguburkan atau mengkremasinya," tutur Kumar kepada AFP.

Laporan sejumlah media lokal menyebut jumlah mayat yang terdampar di tepi sungai mencapai hingga 100 mayat. Laporan yang mengutip sejumlah pejabat lokal lainnya itu menyebut beberapa mayat mengalami pembengkakan dan terbakar sebagian, serta kemungkinan sudah beberapa hari hanyut di sungai.

Dituturkan sejumlah warga setempat kepada AFP bahwa mereka meyakini mayat-mayat itu dibuang ke sungai karena pusat-pusat kremasi kewalahan melakukan pembakaran jenazah di tengah lonjakan kematian Corona atau karena keluarganya tidak mampu membeli pasokan kayu untuk proses kremasi.

"Itu sungguh mengejutkan bagi kami," ucap salah satu warga setempat, Kameshwar Pandey, kepada AFP. Data yang dirilis otoritas India pada Senin (10/5) waktu setempat melaporkan 366.161 kasus Corona dan 3.754 kematian tercatat dalam sehari.

Dengan lonjakan itu, total 22,66 juta kasus Corona kini terkonfirmasi di India, dengan 246.116 kematian. Dengan mengutip bukti dari krematorium setempat, banyak pakar meyakini angka sebenarnya jauh lebih tinggi beberapa kali lipat dibandingkan data pemerintah.

Olesi
Sementara itu, sejumlah warga India memilih menggunakan kotoran sapi untuk menangkal virus Corona. Dokter di sana telah memperingatkan tidak ada bukti ilmiah bahwa kotoran sapi efektif mencegah penularan virus Corona, justru berisiko menyebarkan penyakit lain.

Di negara bagian Gujarat, beberapa orang percaya dan pergi ke tempat penampungan sapi seminggu sekali untuk melumuri tubuh mereka dengan kotoran dan air kencing sapi. Mereka berharap cara itu dapat meningkatkan kekebalan tubuh, atau membantu mereka pulih dari infeksi virus Corona.

Dalam agama Hindu, sapi adalah simbol suci kehidupan dan bumi. Selama berabad-abad umat Hindu di India menggunakan kotoran sapi untuk membersihkan rumah dan untuk ritual doa. Mereka meyakini kotoran sapi memiliki khasiat terapeutik dan antiseptik.

"Kami melihat bahkan dokter datang ke sini. Mereka yakin terapi ini meningkatkan kekebalan tubuh dan mereka dapat merawat pasien tanpa rasa takut," kata seorang manajer asosiasi di sebuah perusahaan farmasi Gautam Manilal Borisa dikutip dari Reuters. Dia mengatakan praktik tersebut membantunya pulih dari Covid-19 tahun lalu.

Para dokter dan ilmuwan di India serta di seluruh dunia telah berulang kali memperingatkan agar tidak mempraktikkan pengobatan alternatif untuk melawan Covid-19. Menurut mereka pengobatan alternatif hanya menimbulkan rasa aman yang salah dan justru memperumit masalah kesehatan.

"Tidak ada bukti ilmiah yang konkret bahwa kotoran sapi atau urin bisa meningkatkan kekebalan terhadap Covid-19, itu sepenuhnya didasarkan pada keyakinan," kata Presiden Asosiasi Medis India Dr JA Jayalal. "Justru ada risiko kesehatan jika mengolesi atau mengonsumsinya. Penyakit lain dapat menyebar dari hewan ke manusia." Ada juga kekhawatiran bahwa praktik itu dapat berkontribusi pada penyebaran virus karena melibatkan orang berkumpul dalam kelompok.

Pandemi virus Corona telah menyebabkan kehancuran di India. Hingga kini negara itu memiliki 22,66 juta kasus Covid-19 dan 246.116 kematian. Namun para ahli meyakini jumlah sebenarnya bisa lima hingga 10 kali lebih tinggi. Pasien Covid di India harus berjuang mendapatkan tempat tidur rumah sakit, oksigen, serta obat-obatan. Hal itu menyebabkan banyak warga yang meninggal karena kurang perawatan.

Mandi Massal
Festival Kumbh Mela berupa mandi massal di Sungai Gangga ditetapkan jadi super spreader (penyebar cepat) tsunami Covid-19 India. Ribuan orang kala itu berkumpul bersama di kota Haridwar untuk mengikuti festival keagamaan tersebut, meski India sedang menghadapi gelombang kedua wabah virus corona. Epidemiolog Dr Lalit Kant mengatakan, sejumlah besar orang tanpa masker di Sungai Gangga menciptakan lingkungan ideal bagi penyebaran virus corona dengan cepat.

Setelahnya Kantor berita AFP melaporkan, pada Senin dan Selasa (12-13/4) massa dalam jumlah besar berdesak-desakan di tepi sungai untuk berenang, sebagai bagian dari ritual mandi massal. "Keyakinan kami adalah hal terbesar bagi kami. Karena keyakinan yang kuat itulah banyak orang datang ke sini untuk berendam di Gangga," ujar Siddharth Chakrapani salah satu panitia Kumbh Mela kepada AFP. "Mereka percaya bahwa Maa (ibu) Gangga akan menyelamatkan mereka dari pandemi ini."

Di Haridwar para petugas mengatakan 2.642 orang dinyatakan positif Covid-19 setelah festival itu, termasuk para pemuka agama. Daerah lain lalu khawatir para peserta Kumbh Mela akan menulari orang lain, sehingga mereka memerintahkan karantina wajib 14 hari, dan memperingatkan tindakan tegas bila ada yang ketahuan menyembunyikan riwayat perjalanan.

Beberapa daerah juga mengharuskan tes RT-PCR, tetapi hanya sedikit negara bagian yang memiliki database pelancong, dan tidak ada negara bagian yang mempunyai sistem pengujian mudah serta pelacakan untuk mengetahui siapa saja yang masuk ke wilayahnya. "Kelompok jemaah yang bepergian dengan kereta dan bus yang sesak akan memiliki efek berlipat ganda pada jumlah infeksi," terang Dr Kant dikutip dari BBC pada Senin (10/5). "Saya dapat mengatakan tanpa ragu bahwa Kumbh Mela adalah salah satu alasan utama di balik lonjakan kasus virus corona di India."

Data dari Worldometers hingga Senin (10/5) menyebutkan, total kasus Covid-19 India sekarang adalah 22.662.575 atau yang terbanyak kedua di dunia di bawah Amerika Serikat. Angka kematian virus corona di India adalah 246.146, dengan pasien sembuh sebanyak 18.671.222. (BBC/AFP/kps/CNNI/dtc/d)
Penulis
: Redaksi
Sumber
: Koran SIB
Segala tindak tanduk yang mengatasnamakan wartawan/jurnalis tanpa menunjukkan tanda pengenal/Kartu Pers hariansib.com tidak menjadi tanggungjawab Media Online hariansib.com Hubungi kami: redaksi@hariansib.com