Ratusan Pengusaha Indonesia Diramal Bangkrut Gara-gara Corona

* BKF Kemenkeu: Covid Masih Menghantui, Ekonomi RI Belum Pasti

250 view
[Shutterstock]
Ilustrasi usaha tutup karena covid-19 
Jakarta (SIB)
Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) mengungkapkan sepertiga dari 600 pengusaha atau sekitar 200 pengusaha dipastikan tidak mampu mempertahankan bisnis karena pandemi Covid-19. Sepertiga pengusaha itu hanya mampu mempertahankan selama 1 tahun.

Hal itu diungkapkan Ketua Apindo Hariyadi Sukamdani dalam webinar Indonesia Macroeconomic Update 2021, Kamis (8/4).

"Waktu kita tanya kalian bisa bertahan itu bagaimana, kalau memang kondisinya seperti tidak ada perubahan sepertiga mereka akan tidak bisa bertahan lebih dari 1 tahun," kata Hariyadi.

Pada awal Januari 2021, Apindo melakukan riset kepada 600 pengusaha yang merupakan anggotanya. Riset tersebut menghasilkan sebanyak 44% pengusaha mengaku penjualannya turun lebih dari 50% selama pandemi Covid-19 tahun 2020.

"Di tahun 2021 itu sudah mengecil, tadinya 44% menjadi 24%," jelasnya.

Masih dari hasil riset Apindo, Hariyadi mengatakan kebanyakan pengusaha yang bertahan dengan menjalankan strategi efisiensi, mulai dari biaya operasional, organisasi kepengurusan, hingga tenaga kerja.

"Dari sisi strategi bisnis melakukan efisiensi biaya, termasuk perampingan organisasi atau menyusutkan jumlah tenaga kerja. Lalu melakukan penyesuaian terhadap kuantitas dan kualitas, jadi mereka lebih banyak dibiaya," ungkapnya.

Menghantui
Terpisah Kepala Badan Kebijakan Fiskal (BKF) Kementerian Keuangan menyebut pandemi Covid-19 masih menjadi faktor ketidakpastian bagi perekonomian nasional yang saat ini sudah berada pada tren pemulihan.

Kepala BKF, Febrio Kacaribu mengatakan, pertumbuhan ekonomi nasional ditarget pada level 4,5% sampai 5,3% di tahun 2021.

"Di sini kita melihat secara nyata bagaimana pemulihan ekonomi itu akan cukup kuat di 2021. Rangenya memang kita tetap pakai 4,5 sampai 5,3%. Ini mencerminkan ketidakpastian yang masih ada," kata Febrio dalam webinar Indonesia Macroeconomic Update 2021, Kamis (8/4).

Pemerintah, kata Febrio juga sudah menyiapkan banyak stimulus atau insentif untuk mendukung pemulihan ekonomi nasional di 2021. Beragam insentif itu tertuang dalam program PEN yang anggarannya mencapai Rp 699,43 triliun.

Adapun rinciannya, klaster perlindungan sosial Rp 157,31 triliun, klaster kesehatan RP 176,30 triliun, klaster dukungan UMKM dan korporasi Rp 186,81 triliun, insentif usaha Rp 53,86 triliun, dan klaster program prioritas Rp 125,06 triliun.

Febrio mengatakan, ketidakpastian yang berasal dari pandemi Covid-19 tidak hanya terjadi bagi ekonomi Indonesia, melainkan banyak negara di dunia. Dengan masih adanya pandemi juga membuat banyak negara yang kembali menerapkan pembatasan atau lockdown.

"Indonesia cukup disiplin karena tidak ada kenaikan kasus, dari kasus per hari maupun konteks vaksinasi. Sehingga kita optimis di 2021 walaupun di tengah ketidakpastian," katanya.

Lebih lanjut Febrio mengungkapkan, tren pemulihan ekonomi nasional bisa dilihat dari beberapa indikator seperti manufaktur, konsumsi, maupun investasi. Bahkan pemulihan ini membutuhkan kerja sama bagi semua pihak yang terlibat dalam perekonomian.

"Jadi ini membutuhkan kerja sama luar biasa dari semua pihak. Kalau kita lihat yang menjadi kebijakan strategis dari fiskal, Indonesia tetap waspada dan optimis pandemi bisa dikendalikan," ungkapnya. (detikfinance/a)
Penulis
: Redaksi
Sumber
: Hariansib.com edisi cetak
Tag:Bangkrut
Segala tindak tanduk yang mengatasnamakan wartawan/jurnalis tanpa menunjukkan tanda pengenal/Kartu Pers hariansib.com tidak menjadi tanggungjawab Media Online hariansib.com Hubungi kami: redaksi@hariansib.com