Warga Rusia Mengamuk, Puluhan Tempat Wamil Dibakar

* Protes Mobilisasi Militer, Ribuan Orang Ditangkap

309 view
Warga Rusia Mengamuk, Puluhan Tempat Wamil Dibakar
Foto: vk.com/welomonosovs via themoscowtimes
DIBAKAR: Kantor rekrutmen wajib militer dibakar di Lomonosov, wilayah Leningrad, Kamis (22/9) setelah Presiden Vladimir Putin memerintahkan mobilisasi yang memungkinkan rakyatnya berperang di Ukraina. 

Itu didasarkan pada penghitungan yang dilakukan media independen Rusia berdasarkan pemberitahuan kematian yang dirilis online.

Laporan kelompok pemantau hak asasi manusia (HAM), OVD-Info, menyebutkan, Minggu (26/9) bahwa kepolisian telah menangkap sedikitnya 101 orang di Makhatchkala, ibu kota Dagestan yang terletak di Rusia sebelah barat daya. Penangkapan dilakukan sepanjang akhir pekan kemarin.

OVD-Info dalam laporannya menyebut, lebih dari 2.300 demonstran telah ditangkap dalam unjuk rasa serupa di berbagai wilayah Rusia sejak 21 September lalu, ketika Putin memerintahkan mobilisasi militer parsial untuk 'operasi militer khusus' di Ukraina.

Kabur Ke Georgia

Ribuan pria Rusia beramai-ramai melarikan diri ke luar negeri untuk menghindari mobilisasi militer yang diperintahkan Presiden Vladimir Putin. Beberapa dari mereka melarikan diri ke Georgia, salah satu negara tetangga Rusia.

Seperti dilansir, Senin (26/9), gelombang eksodus warga Rusia sejak perang dimulai di Ukraina pada Februari lalu telah melihat pria-pria usia wajib militer bergerak ke negara-negara Kaukasus, dengan aliran mobil membentang hingga sepanjang 20 kilometer.

Beberapa orang lainnya kabur dengan bersepeda dan bahkan ada yang nekat berjalan kaki sejauh beberapa kilometer demi mencapai perlintasan perbatasan.

Kebanyakan pria Rusia yang berbicara kepada AFP juga enggan memberikan nama lengkap mereka, karena mengkhawatirkan adanya pembalasan.

"Presiden kita ingin menyeret kita semua ke dalam perang saudara, yang dia nyatakan dengan alasan yang sama sekali tidak sah," ucap Denis (38) yang juga kabur ke Georgia.

Georgia menjadi pilihan utama bagi mereka yang menghindari mobilisasi militer, karena warga Rusia bisa masuk dan tinggal di sana selama setahun tanpa visa.

Otoritas Rusia, pada Sabtu (24/9) waktu setempat, mengakui untuk pertama kalinya bahwa ada aliran keluar para pelancong dari negara itu. Kementerian Dalam Negeri di wilayah yang berbatasan dengan Georgia menyebut adanya kemacetan yang melibatkan 2.300 mobil yang menunggu di perbatasan.

Penulis
: Redaksi
Sumber
: Koran SIB
Segala tindak tanduk yang mengatasnamakan wartawan/jurnalis tanpa menunjukkan tanda pengenal/Kartu Pers hariansib.com tidak menjadi tanggungjawab Media Online hariansib.com Hubungi kami: redaksi@hariansib.com