WHO Kecam Negara-negara Kaya Memonopoli Vaksin Corona


146 view
(dok. REUTERS/Denis Balibouse)
Direktur Jenderal (Dirjen) WHO, Tedros Adhanom Ghebreyesus 
Jenewa (SIB)
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengecam negara-negara kaya yang disebut telah memonopoli vaksin virus corona (Covid-19) sehingga mempersulit negara-negara yang lebih miskin untuk mendapatkan pasokan vaksin.

Seperti dilansir AFP, Selasa (23/2), Direktur Jenderal (Dirjen) WHO, Tedros Adhanom Ghebreyesus, menyebut kesepakatan langsung antara beberapa negara kaya dengan para produsen vaksin berarti alokasi vaksin seperti yang telah disepakati sebelumnya untuk negara-negara miskin, melalui program COVAX, menjadi berkurang. COVAX merupakan program berbagi vaksin untuk memastikan akses yang adil dan setara untuk seluruh negara, terutama negara miskin.

Tedros menyatakan bahwa dana telah tersedia untuk pembelian vaksin corona bagi negara-negara termiskin setelah donasi terbaru dari Amerika Serikat (AS), Uni Eropa dan Jerman, tapi itu tidak ada gunanya jika tidak ada vaksin yang bisa dibeli.

Lebih lanjut, Tedros mendorong negara-negara kaya agar memeriksa apakah kesepakatan mereka dengan produsen vaksin telah membahayakan COVAX, yang diandalkan negara-negara miskin untuk mendapatkan dosis pertama vaksin corona.

"Meskipun Anda punya uang, Anda tidak bisa menggunakan uang itu untuk membeli vaksin, memiliki uang tidak berarti apa-apa," sebut Tedros dalam konferensi pers virtual bersama Presiden Jerman, Frank-Walter Steinmeier.

Gerakan Kampanye ONE, yang turut didirikan oleh penyanyi band ternama U2, Bono, menyatakan pekan lalu bahwa negara-negara anggota G7 bersama negara-negara Uni Eropa ditambah Australia telah secara kolektif membeli hampir 1,25 miliar dosis lebih dari yang diperlukan untuk memvaksinasi penduduk masing-masing.

"Beberapa negara berpendapatan tinggi sebenarnya mendekati produsen untuk mengamankan lebih banyak vaksin, yang mempengaruhi kesepakatan dengan COVAX -- dan bahkan jumlah yang dialokasikan untuk COVAX berkurang karena ini," ucap Tedros dalam kecamannya. "Kita hanya bisa mengirimkan vaksin ke negara-negara anggota COVAX jika negara-negara berpendapatan tinggi bekerja sama dalam menghormati kesepakatan yang dilakukan COVAX," cetusnya.

Gelombang pertama pasokan vaksin Corona dalam program COVAX akan dikirimkan antara akhir Februari hingga akhir Juni. Ada sekitar 145 negara yang bergabung program itu, yang akan menerima 337,2 juta dosis yang cukup untuk memvaksinasi 3 persen populasi gabungan mereka. COVAX menargetkan untuk menaikkan angkanya ke 27 persen di negara-negara berpendapatan rendah pada akhir Desember tahun ini. (AFP/CNNI/f)
Penulis
: Redaksi
Sumber
: Hariansib edisi cetak
Segala tindak tanduk yang mengatasnamakan wartawan/jurnalis tanpa menunjukkan tanda pengenal/Kartu Pers hariansib.com tidak menjadi tanggungjawab Media Online hariansib.com Hubungi kami: redaksi@hariansib.com