Alat Tangkap Ikan Rusak, Puluhan Nelayan Hentikan Alat Berat di Sungai Simagalam Labura


216 view
Alat Tangkap Ikan Rusak, Puluhan Nelayan Hentikan Alat Berat di Sungai Simagalam Labura
(Foto SIB/ Jepri Nainggolan)
KERUK TANAH :  Satu unit alat berat beko PT KSS (Karya Sari Sentosa) menggunakan panton mengeruk tanah di aliran Sungai Simangalam tempat umum pencarian ikan nelayan, Desa Simangalam, Kecamatan Kualuhselatan, Kabupaten Labuhanbatu Utara (Labura), Sabtu (23/10). 
Aekkanopan (SIB)
Puluhan nelayan Alam Jaya Lestari Dusun Satu dan Persatuan, Desa Simangalam, Kecamatan Kualuhselatan, Kabupaten Labuhanbatu Utara (Labura) menghentikan pekerjaan operator alat berat beko pengeruk tanah di Sungai Simangalam, Sabtu (23/10).

Ketua Nelayan Helmiadi Nasution didampingi puluhan anggota mengatakan, penghentian pekerjaan satu unit alat berat PT KSS (Karya Sari Sentosa) dialiran Sungai Simangalam, diakibatkan pengerukan tanah tempat mata pencarian ikan nelayan menimbulkan banyaknya alat tangkap ikan yang rusak seperti jaring, bubu. “Tidak ada pihak yang mau bertanggung jawab atas kerusakan alat tangkap tersebut", ujarnya kepada wartawan, Sabtu (23/10).

"Disebutkan, awalnya para nelayan memasuki areal tanah sawit PT KSS untuk mencari ikan setiap hari, namun akibat seringnya buah sawit milik perusahaan tersebut hilang para nelayan tidak diperbolehkan mencari ikan lagi. Sehingga mereka menduga pihak perusahan menuduh para nelayan mencuri tanpa ada barang bukti.

Alat berat beko PT KSS itu beroperasi semenjak tahun 2015 untuk mengeruk tanah menimbun benteng, agar air tidak membanjiri tanaman sawit saat musim hujan. Menjadi pertayaan para nelayan, mengapa pengerukan tanahnya tidak dikerjakan di areal mereka. Namun dikeruk di sungai tempat umum pencarian nelayan mencari nafkah setiap hari.
Akibatnya, penghasilan nelayan menjadi berkurang. Biasanya bisa mendapatkan uang Rp 200 ribu perhari dari hasil penjualan ikan. Namun sekarang, penghasilan menurun dari biasanya.

"Kami sudah pernah melakukan pertemuan yang dipasilitasi kades dan perwakilan PT KSS asisten Peri serta anggota DPRD Labura. Mediasi pertama tanggal (11/10), Peri mengatakan, alat berat beko pengeruk tanah di sungai tersebut tidak akan beroperasi lagi. Tapi, nyatanya sampai sekarang masih beroperasi mengeruk tanah. Kalau dibiarkan terus menerus khawatir terjadi konflik antara nelayan dan pihak PT KSS," katanya.

MEMBANTAH
Sementara Aksep PT KSS Danu Umbara dikonfirmasi via seluler, Minggu (24/10) menyebutkan, bahwa pihak perusahaan tidak ada melarang nelayan mencari ikan dengan cara memancing dan menjala di areal perkebunan tersebut. Awalnya, benteng areal kebun jebol (pecah). Beberapa kali, mengalami buah sawit hilang dan perusahaan tidak pernah menuduh nelayan mengambil buah sawit. Sebenarnya, beberapa oknum menamakan nelayan mengunakan miskur dan sampan masuk areal kita. Dengan kejadian itu, pihak perusahaan melakukan pengamanan menjaga ketat di areal tersebut. (E8/d)

Penulis
: Redaksi
Sumber
: Koran SIB
Segala tindak tanduk yang mengatasnamakan wartawan/jurnalis tanpa menunjukkan tanda pengenal/Kartu Pers hariansib.com tidak menjadi tanggungjawab Media Online hariansib.com Hubungi kami: redaksi@hariansib.com