Berlatih Menjadi Bodhisattwa

* Oleh Upasaka Pandita Rudiyanto Tanwijaya

263 view
Internet
Ilustrasi
Dalam ajaran Buddha, Bodhisattwa merupakan calon Buddha, artinya sosok yang praktik pelatihannya sudah mendekati sempurna, namun karena welas asihnya, memilih untuk “menunda” pencapaiannya demi menolong semua makhluk di alam penderitaan.

Jadi oleh Maha Biksu Chin Kung, seorang Guru Besar Tradisi Sukhavati, pernah menjelaskan bahwa Bodhisattwa seperti seorang mahasiswa yang sudah menyelesaikan semua tanggungjawab perkuliahannya dan berhak di-wisuda. Namun demi membantu serta membimbing adik-adik kelasnya yang belum wisuda, ia rela menunggu mereka sembari memberikan bantuan agar kelak bisa melaksanakan wisuda bersama.

Dari penjelasan Master Chin Kung, kita-lah yang menjadi adik-adik kelas dari mahasiswa senior itu, yang diibaratkan sebagai seorang Bodhisattwa.

Bodhisattwa tentu saja bukan isapan jempol belaka. Dengan maha welas asih yang mereka miliki, ada empat cara (upaya kausalya) yang selalu mereka lakukan untuk menolong serta membimbing makhluk yang membutuhkan pertolongan, termasuk manusia. Keempat upaya itu, (1) senantiasa berdana kepada makhluk baik dalam bentuk materi maupun dharma; (2) dengan bahasa yang lembut, membimbing semua makhluk; (3) melalui ucapan, perbuatan dan pikiran berusaha menolong/membantu semua makhluk; dan (4) senantiasa menjadi sahabat yang baik (kalyanamitra) untuk selalu menolong semua makhluk agar tersadarkan dari jalan yang salah/sesat.

Dari empat cara tersebut, jika kita perhatikan dengan seksama, maka kita sendiri sebagai manusia, jika punya kemauan yang kuat, tentunya bisa berlatih untuk melaksanakannya dalam kehidupan sehari-hari.

Kami pernah mengenal seorang sahabat yang sangat terinspirasi dengan kemuliaan Bodhisattwa. Ia bertekad untuk menjalankan kehidupan sebagaimana yang disebutkan dalam empat cara yang dilakukan Bodhisattwa dalam menolong semua makhluk.

Sahabat tersebut, selalu tekun dalam memberikan pertolongan, baik dalam bentuk materi (meski ia memiliki kemampuan ekonomi yang tidak berlebihan), juga tenaga fisik, ide-ide sampai dengan pelayanan sebagai seorang siswa Buddha, baik dalam kegiatan sosial maupun acara ritual. Sahabat ini sangat aktif dalam mendarmabaktikan tenaga dan pemikirannya untuk kebaikan.

Selain itu, setelah bertekad untuk meneladani apa yang dilakukan oleh Bodhisattwa, sahabat ini juga menjaga tutur bahasa agar selalu terjaga dan tidak menyakitkan bagi orang lain. Dulunya ia tidak begitu, namun setelah banyak membaca kisah keteladanan para Bodhisattwa, ia semakin teguh dalam praktik ini.

Dari apa yang dilakukan sahabat ini, kami melihat ia menjadi sosok yang selalu ceria dan penuh kebahagiaan. Tak pernah terlihat wajah cemberut dalam kesehariannya. Ia menjalani kehidupan dengan positive thinking.

Ia selalu memberikan dukungan kepada rekan-rekannya yang sedang mengalami permasalahan dan mendorong mereka untuk segera pulih dari keputusasaan.

Tak heran, sahabat ini memiliki banyak sekali sahabat dan kehidupannya lancar tanpa banyak rintangan. Ia juga dianugerahkan banyak berkah keberuntungan. Mengapa bisa demikian? Karena ia menanam yang baik, sehingga apapun yang diterima akan baik juga.

Tak hanya sahabat ini, praktik ini juga yang selalu dilakukan oleh para guru besar masa lampau, sehingga ini menjadi kebiasaan yang membuat mereka setiap saat selalu berjodoh dengan hal-hal yang baik.

Menjadi Bodhisattwa tidak harus menunggu kita meninggal atau Buddha datang. Asal kita bertekad maka semua akan menjadi mudah. Jangan menunggu, lakukanlah mulai sekarang ! (a)