Kebenaran Utuh

Oleh Madyamiko Gunarko Hartoyo

110 view
Limawaktu
Ilustrasi.
Dahulu kala, ada seorang anak muda yang melihat sebuah kalung emas di dasar sebuah danau. la pun menyelam ke dalam air untuk mengambil kalung. Tetapi ketika sampai di dasar danau, kalung itu tidak dapat ditemukan. la pun kembali naik ke tepian dan istirahat sebentar. Karena penasaran, ia pun sekali lagi melihat ke dalam air danau yang jernih dan kalung itu kembali terlihat. Kali ini ia sangat yakin dengan apa yang dilihatnya, karena itu ia memutuskan untuk masuk kembali ke dalam danau. Namun sekali lagi. Setelah ia mencapai dasar, kalung tersebut lenyap entah ke mana. Terpaksa ia kembali dengan kekecewaan untuk kedua kalinya dan kembali ke tepian.

Dengan sedih, ia duduk sambil melihat ke ayahnya yang kebetulan saat itu berjalan melewati danau. Melihat hal tersebut, sang ayah bertanya kepada anaknya apa yang sedang dilakukannya. Sang anak menjawab," Ayah, coba lihatlah ke dalam danau! Jelas ada sebuah kalung emas, Aku telah masuk ke dalam air untuk mencarinya, setiap inci dasar danau telah saya raba, tetapi tak permah saya temukan "

Ayahnya pun melihat ke dalam danau dan langsung melihat kalung yang dilihat hanya sebuah bayangan, sedangkan kalung itu sendiri ada di atas pohon. Sang ayah pun meminta anaknya naik ke atas pohon dan mencari kalung tersebut di sana! Pasti ada seekor burung yang membawa dan meletakkan di sana. Sang anak pun segera memanjat pohon untuk mencari kalung emas itu, dan ternyata benda itu memang ada di sana.

Banyak orang yang ketika mendalami kebenaran tidak mampu mengembangkan kecerdasannya secara menyeluruh. Mereka belajar dengan serius dan gigih, tetapi justru kesulitan memperoleh hasil yang didambakan. Belajar dan berusaha tanpa usaha menggunakan kemampuan untuk herpikir tidak akan membuat kita meraih sukses. Apakah kita bisa memastikan bahwa segala sesuatu yang kita lihat di dunia adalah nyata? Apakah kita hanya melihat segala sesuatu dari nya saja dan malas untuk menelaah lebih dalam? Hanya diri kita sendirilah yang bisa menjawabnya. Banyak pakar yang berpendapat, apa yang kita dengar belum tentu benar, sedangkan apa yang kita lihat pasti benar. Tapi pada kenyataannya, apa yang dilihat mata kita juga belum mutlak kebenarannya. Semua itu tergantung dari manusia yang memandangnya. Daya pandang manusia terbagi menjadi dua, yang baik dan tidak baik. Jika daya pandang kita tidak baik, maka yang kita lihat belum tentu benar adanya, sedangkan daya pandang yang sudah baik pun bisa saja mengelabui kita jika sudut pandang yang diambil tidak sesuai. Misalnya, jika kita melihat sesuatu secara terbalik, maka bayangan yang dipantulkan akan terlihat jauh berbeda dengan benda yang asli. Dan jika kita merasa melihat sesuatu yang benar-benar nyata, namun pemahaman kita mengenai apa yang kita lihat sangat sedikit, maka kita juga sangat rentan tertipu pandangan kita sendiri.

Dalam kehidupan, ada beragam situasi yang dapat mengakibatkan kekeliruan dalam analisis terhadap suatu hal. Oleh karena itu, berhati-hatilah dalam menilai apa yang kita lihat, karena belum tentu semua itu nyata dan dapat dipercaya. Cerita ini sebenarnya menasihati kita agar terus berlatih mengunakan pikiran kita untuk berpikir dalam memandang sebuah kebenaran dengan baik. Sebagian di antara kita seperti anak tersebut yang cenderung terlalu memercayai apa yang dilihatnya dan tak segan-segan mengambil tindakan dramatis tanpa pertimbangan apa pun, seperti halnya sang anak dalam cerita di atas.

Bayangan kalung menunjukkan kebenaran yang kadang tidak tepat dipahami sebagian besar kita sebagai manusia.Karena sifatnya yang pasif, kebenaran tidak terlihat atau pun sukar untuk dilihat bagi banyak orang yang tidak mencari atau pun mereka yang pandangannya (secara fisik atau batin) terhalangi oleh sesuatu atau berbagai hal. Untuk melihat kebenaran seseorang harus memperjelas pandangannya dan menghilangkan penghalang yang menghalangi pandangan. Dalam Dutiya Nibb?na Sutta, Sang Buddha mengatakan, "Apa yang 'Tidak Berkecenderungan' sukar untuk dilihat, kebenaran tidak mudah untuk dilihat" (Pali: Duddasa anata nma, na hi sacca sudassana).

Agar dapat diketahui, dipahami oleh banyak orang maka kebenaran membutuhkan pengungkapan oleh mereka yang telah mengetahui atau memahamnya. Kebenaran dapat diungkapkan dengan cara komunikasi, namun tidak semua dapat diungkapkan dengan cara yang sama. Tidak semua kebenaran dapat diungkapkan secara menyeluruh dan sempurna dengan komunikasi tersebut karena keterbatasan yang ada pada komunikasi itu sendiri. Mengatasi hal ini adalah dengan pengalaman langsung, contohnya satu-satunya cara terbaik membuat seseorang memahami rasa buah manggis itu sendiri dengan cara memberi buah manggis untuk dimakannya, sehingga orang itu tahu bahwa seperti itulah rasa buah manggis.

Beberapa kebenaran bisa merupakan sebagian dari bentuk utuhnya, sedangkan kebenaran yang lainnya tidak. Dengan hanya melihat sebagian dari bentuk kebenaran, seseorang justru tidak melihat ataupun memahami kebenaran yang sesungguhnya, sehingga ia mengambil sikap yang keliru. Sebagai contoh: dikatakan bahwa gajah adalah hewan yang berbelalai, perkataan ini merupakan suatu kebenaran, namun ini hanya sebagian dari bentuk utuh seekor gajah. Tanpa memahami keseluruhan kebenaran mengenai gajah, seseorang bisa saja menganggap seekor tapir yang juga memiliki belalai sebagai gajah. Karena itu sangatlah penting untuk mengungkap atau melihat kebenaran secara menyeluruh.

Sang Buddha mengungkapkan kebenaran sebagai jalan yang berujung pada Kebebasan Tertinggi, kebenaran juga dapat menjadi pelindung dari kondisi-kondisi sulit dan menciptakan kondisi-kondisi kehidupan yang baik.(d)
Penulis
: Redaksi
Sumber
: Hariansib.com edisi cetak
Segala tindak tanduk yang mengatasnamakan wartawan/jurnalis tanpa menunjukkan tanda pengenal/Kartu Pers hariansib.com tidak menjadi tanggungjawab Media Online hariansib.com Hubungi kami: redaksi@hariansib.com