Cara Windy Natriavi Dukung Kemajuan Perempuan di Tempat Kerja Melalui WomenWorks


178 view
Foto: dok. pribadi
Windy Natriavi, co-founder WomenWorks. 
Dulu saat saya masih bekerja di startup layanan transportasi online, mungkin perempuan hanya ada tiga dari 50 laki-laki. Pernah juga saya hanya perempuan sendirian di antara semua laki-laki,” ujar Windy Natriavi, saat memulai perbincangan.

Windy merupakan co-founder platform WomenWorks sekaligus Komisaris di startup AwanTunai, setelah sebelumnya sempat berkarier di sebuah startup layanan transportasi online. Windy bercerita mengenai berbagai tantangan yang ia hadapi dalam perjalanan kariernya, termasuk ketika ia memutuskan untuk mendirikan bisnisnya sendiri.

Berbagai pengalaman yang ia hadapi dalam menjalani karier membangun bisnis di bidang teknologi ini kemudian menginspirasi Windy dan sahabatnya Fransiska PW Hadiwidjana untuk mendirikan sebuah platform pemberdayaan perempuan bernama WomenWorks.

Dijelaskan Windy, WomenWorks adalah sebuah platform yang didedikasikan untuk para perempuan yang ingin menggali potensi diri, namun belum mampu untuk melakukannya secara maksimal. Platform ini tidak memiliki batasan usia, mulai dari mahasiswi hingga ibu bekerja, semua bisa bergabung di dalamnya.

WomenWorks saat ini aktif dikelola melalui Instagram @womenworksid yang kini telah memiliki lebih dari 4000 followers. Melalui WomenWorks, anggotanya bisa terkoneksi dan bertemu mentor yang akan membantu mereka meraih potensi maksimal yang ada di dalam diri sebagai bagian dari personal development.

Windy yang juga pernah masuk ke dalam daftar Forbes 30 Under 30 Asia di bawah kategori Finance & Venture Capital 2019 ini mengungkapkan ada banyak hal yang bisa dilakukan perempuan di WomenWorks. Beberapa di antaranya adalah mendapatkan insight atau masukan, serta tips dan trik dalam mencapai aspirasi karier atau bisnis dari para pembina (mentor), hingga menjalin relasi baru antar sesama perempuan yang ingin membuat dirinya menjadi lebih berdaya.

“Sebenarnya kami mulai karena terinspirasi dari sebuah program di Inggris, namanya Smart Works. Di mana mereka mendaur ulang pakaian yang akan dibagikan untuk para ibu yang ingin kembali bekerja sambil mengadakan pelatihan wawancara kerja. Singkat cerita, ketika kami memulai hal ini, ternyata orang-orang tidak butuh pakaian. Mereka justru butuh masukan dan pengetahuan tentang dunia kerja,” cerita Windy.

Meski hadir sejak 2019 lalu, WomenWorks baru mulai intens menjalankan pelatihan dan mentoring pada April 2020. Ada empat kategori perempuan yang bisa bergabung dengan WomenWorks, yaitu mahasiswi yang baru mau lulus dan bingung menentukan bidang pekerjaan; seseorang yang sudah bekerja selama tiga sampai lima tahun dan ingin meningkatkan kemampuannya, atau mereka yang ingin pindah jalur karier. Kategori berikutnya adalah returning moms, yaitu perempuan yang dulu pernah bekerja, tapi karena harus mengurus keluarga atau bayi, mereka berhenti bekerja beberapa waktu dan ingin kembali bekerja lagi. Terakhir, ada Women Founders, yaitu seluruh perempuan yang baru membuka atau mendirikan bisnis, baik bisnis rumahan atau UMKM.

“Saya juga ikut menjadi mentor dalam pelatihan ini. Berdasarkan background saya yang pernah bekerja di konsultan bisnis, startup, dan kini mendirikan perusahaan sendiri (AwanTunai), maka saya bisa memberikan insight tentang career change, problem solving dan entrepreneurs. Saya bisa berbagi cerita tentang perjalanan saya sejak bekerja pertama kali, kemudian mengubah bidang karier dan kini mendirikan startup sendiri,” lanjut Windy.

Meningkatkan kesadaran terhadap potensi diri menjadi tantangan WomenWorks
Selama menjalankan WomenWorks, salah satu tantangan yang cukup sulit dihadapi para pendirinya adalah meningkatkan kesadaran tentang potensi diri dari seorang mentee. Hal ini karena, banyak peserta mentoring yang merasa masih tidak percaya diri dengan apa yang dimilikinya.

“Ada satu data menarik yang saya dapatkan. Saat kuliah, perempuan dan laki-laki berada di posisi yang sama, tetapi ketika mereka bekerja, posisinya berubah. Kemudian perempuan mulai bertanya-tanya tentang dirinya sendiri, apakah dia sudah layak untuk berada di posisi itu?,” kata Windy.

Apa yang diungkapkan Windy ini memang merupakan fakta yang terjadi. Banyak perempuan yang memiliki persoalan kepercayaan diri ketika sampai posisi di mana mereka bisa membangun karier mereka ke jenjang yang lebih tinggi. Selain itu, banyak juga perempuan yang masih menghadapi dilema antara keluarga dan karier, terlebih ketika mereka ditawarkan posisi pemimpin yang kemungkinan besar akan menuntut jam kerja yang panjang.

Akibatnya, angka pemimpin perempuan di Indonesia masih cukup rendah.
Berdasarkan laporan Women in Business 2020 yang diambil dari Laporan Bisnis Internasional Grant Thornton (IBR), posisi CEO atau Direktur Pelaksana di Indonesia yang dijabat oleh perempuan hanya 20 persen saja. Kabar baiknya, angka ini mengalami peningkatan satu persen dibandingkan 2019 lalu yang hanya 19 persen.

Apa yang dilakukan Windy di WomenWorks ini rupanya sejalan dengan beberapa prinsip-prinsip pemberdayaan perempuan atau yang disebut Women’s Empowerment Principles (WEPs) yang diinisiasi oleh UN Women, lembaga PBB yang bekerja untuk pemberdayaan perempuan dan kesetaraan gender bersama dengan UN Global Compact, sejak 2010.

WEPs ini terdiri dari tujuh prinsip yang menawarkan panduan bagi dunia bisnis untuk mempromosikan kesetaraan gender dan pemberdayaan perempuan di tempat kerja, usaha, serta komunitas. Harapannya, prinsip-prinsip ini dapat diadopsi oleh perusahaan dan pengusaha melalui aksi penandatanganan komitmen.

Ketujuh prinsip tersebut adalah pemimpin yang mendukung kesetaraan gender, pekerja perempuan dan laki-laki setara, kesejahteraan pekerja terjamin, mendukung pengembangan profesi bagi pekerja perempuan, menjalankan usaha yang mendukung pemberdayaan perempuan, serta melakukan kegiatan dan melaporkan pencapaian kesetaraan gender. (Kumparan/c)