Silicon Valley di Indonesia Jadi Kenyataan? Batam, Malang, Kulon Progo Bersiap


62 view
Nongsadigital.com
Nongsa Digital Park, Batam

Perkembangan industri software dan teknologi informasi yang sangat cepat membuat Indonesia memerlukan kawasan khusus semacam Silicon Valley di Amerika Serikat (AS). Percepatan investasi di sektor ekonomi digital inipun telah didorong di sejumlah daerah, terlebih dengan visi Indonesia sebagai negara ekonomi digital terbesar di Asia Tenggara dengan total valuasi Rp 1.756 triliun.

Salah satu daerah di Indonesia yang sudah mencoba mengembangkan kawasan khusus ekonomi digital adalah Kota Bandung melalui pengembangan Bandung Technopark. Terbaru dari kota itu adalah rencana Institut Teknologi Bandung (ITB) mengembangkan kampusnya di Jatinangor, Kabupaten Sumedang, sebagai Jatinangor Valley.

“Diharapkan Jatinangor Valley nanti akan menjadi Silicon Valley yang menonjolkan industri digital 4.0,” kata Direktur Pendidikan ITB Arief Hariyanto dalam keterangan yang diberikan daring, Sabtu, 30 Januari 2021.

Di Yogyakarta, muncul dua opsi area seperti daerah Piyungan, Bantul dan Sentolo, Kulon Progo yang akan dijadikan silicon valley-nya Indonesia. Investasi yang digelontorkan mencapai Rp 7 triliun.

Dalam kesempatan lain, Direktur Jenderal Pendidikan Vokasi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Wikan Sakarinto mengatakan bahwa KEK Singasari di Malang, Jawa Timur, juga memiliki potensi untuk menjadi Silicon Valley. Konsepnya, ekosistem yang mampu melahirkan produk-produk berkualitas dunia, termasuk melahirkan SDM yang mampu menjadi pemimpin industri dunia.

Bahkan di Batam juga dikatakan memiliki peluang menjadi Silicon Valley. Tempat yang dimaksud yaitu pembangunan Nongsa Digital Park untuk mewujudkan ekonomi digital di Batam. Kegiatan-kegiatan yang dilaksanakan di Nongsa Digital Park telah mendapatkan dukungan pemerintah lewat Badan Koordinasi Penanaman Modal seperti dengan mengundang investasi asing.

Mantan Duta Besar Amerika Serikat (AS) untuk Indonesia, Robert O. Blake, saat memberikan kuliah umum di Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta beberapa tahun lalu, pernah menerangkan, pembangunan ekonomi digital di Indonesia butuh didukung kerja sama akademisi, swasta, dan pemerintah. Dia menekankan sumbangsih kampus yang disebutnya harus mampu menciptakan iklim budaya riset.

Robert merujuk kepada keberhasilan Silicon Valley yang didukung oleh 10 universitas top di Amerika. Kampus di Indonesia, kata dia, juga harus bisa menciptakan inovasi di kalangan penelitinya sehingga bisa menghasilkan produk-produk teknologi yang bisa ditawarkan ke pihak swasta untuk bisa diakses masyarakat.

Dukungan pemerintah juga diperlukan dalam pertumbuhan sektor ekonomi di dalam negeri. Dalam hal ini pemerintah bisa melakukan beberapa upaya seperti memperbesar akses agar masyarakat semakin melek Internet dan e-commerce bisa tumbuh dan inovasinya terus berkembang.

Selain itu pemerintah juga harus meningkatkan kecepatan akses Internet lewat perusahaan operator telekomunikasi seluler yang sudah ada. Terakhir yang juga penting untuk bisa mengembangkan silicon valley di dalam negeri, pemerintah juga disarankannya meningkatkan akses modal untuk pelaku industri start-up. (T/c)
Penulis
: Redaksi
Sumber
: Hariansib.com edisi cetak
Tag:batam
Segala tindak tanduk yang mengatasnamakan wartawan/jurnalis tanpa menunjukkan tanda pengenal/Kartu Pers hariansib.com tidak menjadi tanggungjawab Media Online hariansib.com Hubungi kami: redaksi@hariansib.com