Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Rabu, 11 Februari 2026

BMKG Peringatkan Cuaca Ekstrem Akan Melanda Indonesia, Ini Perkiraannya

Robert Banjarnahor - Jumat, 04 April 2025 10:46 WIB
73 view
BMKG Peringatkan Cuaca Ekstrem Akan Melanda Indonesia, Ini Perkiraannya
Foto: Net
Jakarta(harianSIB.com)
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memperingatkan bahwa periode setelah Lebaran diperkirakan akan menjadi salah satu masa terpanas di Indonesia. Hal ini seiring dengan berakhirnya fenomena La Nina dan dimulainya musim kemarau pada April ini.

"La Nina telah berakhir. Artinya, musim kemarau akan berjalan normal. Semoga cuaca tetap kondusif," kata Kepala BMKG Dwikorita Karnawati, dikutip dari Antara, Jumat (4/4/2025).

Berdasarkan hasil pemantauan indeks IOD dan ENSO, Dasarian I Maret 2025 menunjukkan bahwa IOD berada pada kategori netral dengan indeks -0,31. Fase netral ini diperkirakan akan bertahan hingga semester kedua tahun 2025.

Sementara itu, anomali suhu permukaan laut (SST) di wilayah Nino 3.4 menunjukkan indeks sebesar 0,30, menandakan kondisi ENSO Netral yang juga diprediksi bertahan hingga paruh kedua tahun ini.

Dwikorita menjelaskan bahwa musim kemarau di Indonesia telah mulai berlangsung secara bertahap sejak Maret dan akan berlanjut hingga April, dengan sejumlah wilayah diperkirakan akan terdampak.

"Awal musim kemarau umumnya sangat erat kaitannya dengan peralihan angin muson dari Asia atau angin daratan, menjadi angin muson Australia yang mulai aktif," jelasnya.


Pada April mendatang, wilayah seperti Lampung bagian timur, pesisir utara Jawa bagian barat, pesisir Jawa Timur, sebagian bali, Nusa Tenggara Barat, dan Nusa Tenggara Timur akan memasuki kemarau. Pada Mei kemarau mulai meluas, mencakup sebagian kecil Sumatra, sebagian besar Jawa Tengah hingga Jawa Timur, sebagian Kalimantan Selatan, Bali, dan Papua bagian Selatan.

Dwikorita mengimbau di sektor pertanian, dapat, menyesuaikan jadwal tanam di wilayah-wilayah yang diprediksi mengalami musim kemarau lebih awal maupun lebih lambat. Mulai dari memilih varietas tahan kekeringan, serta mengoptimalkan pengelolaan air di daerah dengan musim kemarau lebih kering dari normal.

Sementara itu, wilayah yang berpotensi mengalami musim kemarau lebih basah dapat memanfaatkannya dengan memperluas lahan sawah untuk meningkatkan produksi pertanian.Untuk sektor kebencanaan dapat meningkatkan kesiapsiagaan terhadap kebakaran hutan dan lahan (karhutla), terutama di wilayah rawan yang diprediksi mengalami musim kemarau dengan curah hujan Normal atau Bawah Normal.

Deputi Bidang Klimatologi BMKG Ardhasena Sopaheluwakan menyebut musim kemarau tahun ini dengan kondisi iklim normal, tanpa pengaruh kuat dari iklim laut dari ENSO dan IOD. Namun demikian, bukan berarti tidak ada hujan karena ada beberapa wilayah Indonesia yang memiliki sifat musim kemarau di atas normal yang memungkinkan menerima akumulasi curah hujan musiman yang lebih tinggi dari biasanya.

"Jadi utamanya adalah karena tidak adanya dominasi iklim global seperti El Nino, La Nina, dan IOD sehingga prediksi kami iklim tahun ini normal dan tidak sekering tahun 2023 yang berdampak pada banyak kebakaran hutan dan musim kemarau tahun 2025 cenderung mirip dengan kondisi musim kemarau tahun 2024," kata Ardhasena.(*)

Editor
: Robert Banjarnahor
SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru