Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Jumat, 20 Februari 2026

Tuan Rondahaim Saragih, Raja Simalungun, Pahlawan Multietnik yang Terlupakan

Victor R Ambarita - Kamis, 12 Juni 2025 17:04 WIB
984 view
Tuan Rondahaim Saragih, Raja Simalungun, Pahlawan Multietnik yang Terlupakan
(Foto: Dok/Ist)
Tuan Rondahaim Saragih
Jakarta(harianSIB.com)

Di pelosok Tanah Air, tersembunyi kisah-kisah heroik yang tak selalu terukir jelas dalam buku sejarah. Salah satunya adalah kisah tentang Tuan Rondahaim Saragih, seorang raja dari Kerajaan Raya di Tanah Simalungun, Sumatera Utara.

Namanya mungkin masih asing di telinga banyak orang, sebuah bisikan dari masa lalu yang kini coba digali kembali. Namun, di balik keheningan itu, terhampar jejak perlawanan gigih yang layak dikenang, bahkan direnungkan oleh Generasi Z hari ini.

Beberapa waktu lalu dalam diskusi, Dosen Sejarah dari UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Dr Johan Wahyudhi MHum, menggambarkan Tuan Rondahaim sebagai sosok yang tegap, dengan sorot mata tajam, seorang pemimpin yang pada akhir abad ke-19, berani menentang hegemoni kolonial.

"Catatan Belanda, ironisnya, justru mengabadikan perlawanannya yang heroik. Ia berdiri kokoh menentang masuknya modal asing, berupa perkebunan Eropa yang mengancam penghidupan warga lokal, sebuah ancaman yang kini bergema dalam isu-isu ekonomi global," jelas Johan Wahyudhi, dalam keterangan persnya kepada Jurnalis SNN Jakarta, Kamis (12/6/2025).

Mencari data tentang Tuan Rondahaim di masa kini, lanjut Johan Wahyudhi, memang seperti mencari jarum di tumpukan jerami. Namun, berkat kegigihan sejumlah akademisi dari Sumatera Utara dan Jakarta, tabir masa lalu itu perlahan tersingkap.

Mereka menemukan bahwa Simalungun pada abad ke-19 bukanlah Simalungun yang dikenal sekarang. Hutan lebat, bukit-bukit menjulang, dan padang ilalang menjadi latar kehidupan masyarakatnya.


"Di tengah kerasnya alam, Tuan Rondahaim dan raja Simalungun lainnya mengembangkan "seni dialog" yang unik, sebuah kearifan lokal yang memungkinkan mereka menyulap keterbatasan menjadi keberkahan, bahkan menjadikan wilayah ini tempat berlindung bagi suku bangsa lain yang sedang kesulitan," beber dia.

Johan mengemukakan, sebuah petunjuk penting datang dari Djonim Purba (77 tahun), Ketua Yayasan Museum Simalungun pada tahun 2020. Melalui sumber lisan, Djonim Purba menyatakan bahwa Tuan Rondahaim pernah belajar ilmu militer dan keperwiraan di Kerajaan Aceh Darussalam.

"Bayangkan, seorang pemuda dari pedalaman Simalungun menjejakkan kaki ke Aceh, sebuah kerajaan yang masyhur dengan sistem militernya yang maju! Ini bukan sekadar perjalanan fisik, melainkan sebuah visi," urainya.

"Tuan Rondahaim muda tidak terpaku pada lingkungan lokalnya. Ia berani merantau, mengasah diri, dan membangun pemahaman tentang strategi pertahanan serta sistem pemerintahan demi membela rakyatnya. Tradisi merantau ini, di mana pendidikan dan pengembangan diri begitu dihargai, adalah cerminan nilai-nilai luhur masyarakat Simalungun," tambah dia.

Johan melanjutkan, penemuan ini juga membuka tabir hubungan historis yang mungkin tak banyak tercatat yakni relasi antara Kerajaan Raya dan Kerajaan Aceh Darussalam.

Bisa jadi ini melibatkan pertukaran pengetahuan, budaya, atau bahkan aliansi strategis yang memperkaya pemahaman tentang interaksi antarkerajaan di Nusantara pada masa lalu.

Seiring waktu, Dataran Tinggi Batak, termasuk Simalungun, menjadi tujuan kedatangan banyak orang Aceh dan Gayo. Mereka bukan sekadar pendatang, melainkan pencari suaka dari kejaran Pasukan Belanda yang terus memperluas pengaruhnya di Aceh, atau pedagang yang memanfaatkan jalur niaga kuno.

Kedatangan mereka membawa angin baru, memperkaya budaya dan sosial masyarakat setempat. Interaksi ini, seperti yang diungkap C.J. Westenberg (1897) dalam catatannya, semakin intens, menciptakan dinamika baru di Dataran Tinggi Batak.


"Yang menarik, relasi antara pendatang Aceh dan Gayo dengan penduduk lokal tidak hanya sebatas ekonomi atau sosial, tetapi juga merambah ke ikatan kekerabatan melalui pernikahan. Namun, lebih dari itu, sebagian besar pendatang ini membina hubungan yang sangat baik dengan Tuan Rondahaim," kata dia.

Mereka tidak hanya sekutu, tetapi juga menjadi "guru" bagi para pasukan Rondahaim, mentransfer pengetahuan tentang strategi perang, taktik militer, dan kepemimpinan yang mereka pelajari dari pengalaman di Aceh. Hubungan ini saling menguntungkan, saling memperkuat.

Bahkan, banyak pendatang Aceh dan Gayo terlibat langsung dalam perjuangan Kerajaan Raya, bergabung dalam barisan tempur melawan Pasukan Belanda.

"Keikutsertaan mereka menunjukkan tingkat solidaritas yang tinggi, sebuah bukti bahwa mereka bukan sekadar pengungsi atau pedagang, melainkan pejuang yang siap mempertaruhkan nyawa demi kepentingan bersama," tandas Johan.

Kolaborasi multietnik ini, yang juga dicatat dalam dokumen Koloniaal Verslag Tahun 1883, memperkuat posisi Kerajaan Raya sebagai entitas politik yang mampu menarik dukungan dari berbagai kelompok etnis, membuktikan bahwa persatuan dan kerja sama antar kelompok dapat menciptakan kekuatan yang tangguh dalam menghadapi tantangan zaman.(*)

Editor
: Bantors Sihombing
SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru