Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Senin, 19 Januari 2026

Pasca Bencana Ekologi Sumatera, YPDT dan Batak Center Gelar Refleksi di Jakarta

Victor R Ambarita - Sabtu, 10 Januari 2026 13:23 WIB
2.020 view
Pasca Bencana Ekologi Sumatera, YPDT dan Batak Center Gelar Refleksi di Jakarta
Foto: SNN/ Victor Ambarita
Foto Bersama: Foto bersama usai "Refleksi Awal Tahun 2026" YPDT dan Batak Center di Gedung Halim Persada, Jakarta, Jumat (9/1/2026).

Jakarta(harianSIB.com)

Merespons tragedi banjir bandang dan tanah longsor yang melumpuhkan wilayah Tapanuli dan sekitarnya pada akhir November 2025, Yayasan Pecinta Danau Toba (YPDT) bekerja sama dengan Batak Center menggelar "Refleksi Awal Tahun 2026".

Acara yang berlangsung di Gedung Persada Halim, Jakarta Timur, Jumat (9/1/2026) ini bertujuan membedah relasi antara peradaban, hukum, dan ekologi dalam kehidupan masyarakat Batak.

​Kegiatan ini merupakan tindak lanjut atas keprihatinan mendalam terhadap bencana hidrometeorologi di Sumatera yang telah menelan 1.178 korban jiwa per Januari 2026.

Baca Juga:
Bencana tersebut dinilai bukan sekadar faktor alam, melainkan ekses dari kerusakan hutan di hulu yang telah beralih fungsi menjadi perkebunan sawit dan pertambangan.

Sebelum diskusi, diadakan Refleksi Awal Tahun 2026 oleh Pdt. Gomar Gultom, MTh.

*​Bedah Fakta dan Tanggung Jawab Hukum*

Dalam diskusi panel yang menjadi bagian utama acara, sejumlah pakar menyoroti berbagai sisi krusial dari krisis ekologi di Tano Batak.

Diantaranya, Timer Manurung, Dr. Maruarar Siahaan, S.H, Dr. Suzen Tobing, S.Sn., M.Hum, Pdt. Dr. Johnson P. Robinsar Siregar, MTh, Romo Dr. Sius Kaya Watun, S.Pd., M.M, Dr. Ishak Hutagalung, M.M.

* Desakan Penutupan TPL

Puncak acara ditandai dengan pernyataan sikap bersama antara YPDT dan Batak Center.

Ketua Umum YPDT, Maruap Siahaan, menegaskan kembali desakannya agar pemerintah menutup secara permanen PT Toba Pulp Lestari (TPL).

Perusahaan tersebut dituding bertanggung jawab atas kerusakan 55 sungai dan 3.039 anak sungai di daerah tangkapan air Danau Toba.

​"TPL hanya berganti baju dari Indorayon, namun tetap menjalankan praktik eksploitasi yang merugikan flora, fauna, dan masyarakat adat," ujar Maruap dalam refleksinya.

Ia merujuk pada rentetan konflik di Natumingka dan Sihaporas sebagai bukti nyata dampak sosial dari keberadaan korporasi tersebut.

Maruap menegaskan, curah hujan ekstrem akibat Siklon Senyar hanyalah pemicu teknis. Akar masalah sebenarnya adalah kehancuran hutan di hulu dan konversi daerah tangkapan air menjadi lahan sawit serta pertambangan.

"Toba Pulp Lestari harus ditutup selamanya, bukan sementara. Jika hanya sementara, sejarah akan berulang dan publik akan kembali dibohongi," ujar dia.

​Selain TPL, refleksi ini juga menyoroti kerugian finansial akibat bencana yang mencapai Rp 77,4 triliun, serta mendesak Presiden Prabowo Subianto untuk segera menetapkan status Bencana Nasional agar pemulihan infrastruktur dan aktivitas ekonomi warga dapat segera tertangani.(*)

Editor
: Robert Banjarnahor
SHARE:
Tags
beritaTerkait
komentar
beritaTerbaru