Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Sabtu, 30 Agustus 2025

Gawat! Udang Beku Indonesia Terdeteksi Radioaktif di Amerika Serikat, Ekspor Terancam

Redaksi - Rabu, 27 Agustus 2025 07:40 WIB
195 view
Gawat! Udang Beku Indonesia Terdeteksi Radioaktif di Amerika Serikat, Ekspor Terancam
Ist/SNN
Petugas amankan lokasi yang diduga tercemar zat radioaktif.
Jakarta(harianSIB.com)

Keamanan produk ekspor andalan Indonesia, udang beku, kini berada di bawah sorotan tajam dunia internasional. Pada Agustus 2025, otoritas Amerika Serikat mendeteksi adanya zat radioaktif Cesium-137 dalam kiriman udang beku asal Indonesia, memicu penarikan produk besar-besaran dan mengancam reputasi industri seafood nasional.

Kabar mengejutkan ini bermula dari pemeriksaan rutin oleh Bea Cukai AS di empat pelabuhan utama: Los Angeles, Houston, Savannah, dan Miami. Petugas menemukan kontaminasi Cesium-137 pada produk udang beku merek Great Value yang dipasok untuk raksasa ritel Walmart.

Baca Juga:

Meskipun kadar yang terdeteksi sebesar 68,48 Becquerel per kilogram (Bq/kg), angka ini sejatinya masih jauh di bawah ambang batas aman yang ditetapkan oleh Food and Drug Administration (FDA) AS, yaitu 1.200 Bq/kg. Namun, temuan zat radioaktif buatan pada produk makanan sudah cukup untuk menyalakan alarm keamanan pangan global.

Dampak Cepat dan Meluas

Sebagai respons cepat, Walmart segera menarik produk udang beku tersebut dari peredaran di 13 negara bagian, termasuk pasar besar seperti Texas, Florida, dan Pennsylvania.

Baca Juga:

Langkah lebih tegas diambil oleh FDA yang langsung memasukkan perusahaan eksportir, PT Bahari Makmur Sejati (BMS) yang berbasis di Banten, ke dalam daftar "import alert". Ini berarti seluruh produk dari perusahaan tersebut dilarang masuk ke pasar Amerika Serikat hingga masalah ini terselesaikan. Konsumen yang telah membeli produk diimbau untuk segera membuangnya.

Bahaya Cesium-137 yang Mengintai

Cesium-137 bukanlah zat sembarangan. Isotop radioaktif ini merupakan produk sampingan dari reaksi fisi nuklir dan umumnya digunakan dalam aplikasi industri spesifik serta terapi kanker.

Jika tertelan, zat ini dapat mengendap di jaringan lunak tubuh hingga 110 hari dan berpotensi merusak sel dari dalam, sehingga meningkatkan risiko kanker dalam jangka panjang. Paparan dalam dosis tinggi bahkan dapat menyebabkan sindrom radiasi akut dengan gejala mual, muntah, hingga koma.

Investigasi di Indonesia Ungkap Fakta Mengejutkan

Pemerintah Indonesia bergerak cepat menanggapi krisis ini. Tim gabungan dari Badan Pengawas Tenaga Nuklir (Bapeten), Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), serta Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) langsung turun tangan melakukan investigasi menyeluruh di fasilitas PT BMS di Banten.

Hasil penyelidikan di lapangan menemukan sumber masalah yang tak terduga. Tim mendeteksi paparan radiasi signifikan yang mencapai 150 mikroSievert per jam di area pengumpulan besi bekas yang berlokasi di dekat pabrik. Level radiasi ini tergolong berbahaya bagi kesehatan manusia.

"Temuan kunci kami adalah material terkontaminasi yang visualnya mirip pasir atau batu. Diduga kuat ini berasal dari limbah industri yang tidak dikelola dengan benar," ungkap juru bicara tim investigasi.

Tragisnya, warga setempat yang tidak menyadari bahaya tersebut dilaporkan telah menggunakan material terkontaminasi itu sebagai bahan fondasi bangunan.


Upaya Penanganan dan Dampak Ekonomi

Hingga Rabu (27/8/2025), upaya penanganan terus dilakukan secara intensif:
- Operasi PT BMS Dihentikan: Aktivitas produksi di pabrik tersebut dihentikan sementara untuk audit lingkungan menyeluruh.
-Area Diamankan: Bapeten telah memasang garis polisi dan menutup area terkontaminasi dengan terpal untuk mencegah penyebaran.
-Analisis Lanjutan: Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) dilibatkan untuk melakukan analisis sampel menggunakan detektor canggih high purity germanium (HPGe) guna mendapatkan hasil yang akurat.
-Pemantauan Diperluas: Radius pemantauan paparan radiasi diperluas hingga 5 kilometer dari titik temuan untuk memastikan tidak ada sebaran lebih lanjut.

Namun, penelusuran sumber utama kontaminasi menghadapi kendala, karena material radioaktif tersebut diduga dibawa oleh pemulung yang tidak mengetahui risiko bahayanya.

Di sisi ekonomi, krisis ini telah memukul industri udang nasional. Ketua Shrimp Club Indonesia mengakui bahwa para petambak mulai merasakan kesulitan menjual hasil panen mereka. Stigma 'terkontaminasi radioaktif' telah melekat, meskipun kadar pada produk yang diekspor tergolong rendah.

Penting untuk dicatat, pemerintah memastikan tidak ada produk udang terkontaminasi yang beredar di pasar domestik Indonesia. Produk dari perusahaan lain juga dipastikan tetap aman untuk diekspor.

Kasus ini menjadi pelajaran mahal tentang vitalnya pengawasan limbah industri dan ketatnya rantai pasok keamanan pangan. Pemerintah Indonesia kini berupaya melakukan diplomasi dengan otoritas AS sembari bekerja keras memulihkan kepercayaan pasar global terhadap udang Nusantara.(**)

Editor
: Redaksi
SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru