Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Minggu, 06 Juli 2025

Perlu Dibentuk Tim Khusus Investigasi Beras Lintas Instansi

* Telusuri Masalah “Melonjaknya” Harga Beras
Redaksi - Sabtu, 02 Maret 2024 10:05 WIB
295 view
Perlu Dibentuk Tim Khusus Investigasi Beras Lintas Instansi
Foto: Ist
Ilustrasi
Medan (SIB)
Kepala Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) Kanwil I Medan, Ridho Pamungkas menegaskan, perlu segera dibentuk "tim khusus investigasi beras lintas instansi", guna menindaklanjuti masalah melonjaknya harga beras yang meresahkan masyarakat.

"Tim khusus beras ini akan fokus menindaklanjuti berbagai informasi dan permasalahan perberasan, mulai dari hulu sampai hilir, guna mengetahui apa penyebab mahalnya beras di pasaran," tegas Ridho Pamungkas kepada wartawan, Jumat (1/3) di Medan.

Bahkan KPPU Kanwil I Medan akan mempercepat pembentukan tim tersebut, dengan segera mengadakan Forum Group Discussion (FGD) dengan mengundang sejumlah stakeholder terkait, mulai dari pelaku usaha, asosiasi, Pemkab/Pemko, Bank Indonesia (BI) dan Satgas Pangan.

"Hasil FGD ini nantinya akan dilengkapi dengan pantauan langsung ke lapangan, guna mengidentifikasi masalah perberasan di daerah ini, agar persoalannya semakin jelas dan transparan, apa penyebab mahalnya harga beras," ujarnya.

Ditambahkan Ridho, kenaikan harga beras saat ini diakibatkan beberapa faktor, di antaranya penurunan tingkat produksi petani, yang disebabkan oleh luas penguasaan lahan yang kecil, alih fungsi lahan pertanian, efisiensi rendah (penggunaan teknologi), volume pupuk bersubsidi yang menurun dan kenaikan biaya produksi (upah, harga pupuk non subsidi).

"Ada beberapa faktor yang menyebabkan harga beras naik, di antara penurunan tingkat produksi petani, alih fungsi lahan pertanian, pupuk bersubsidi yang menurun dan kenaikan biaya produksi," katanya.

Lebih lanjut dijelaskannya, akibat beberapa faktor tersebut, pemerintah terpaksa harus melakukan impor beras. Namun impor beras sendiri mengalami kendala terkait pembatasan ekspor oleh negara produsen dan kenaikan harga pangan secara global.


Politik
Pada kesempatan itu, Ridho juga menambahkan, terjadinya kenaikan harga beras dapat saja terjadi karena peruntukannya, terutama beras medium, yang digunakan oleh para politisi dalam program pembagian Sembako, menjelang Pemilu lalu, sehingga stok beras menipis di pasar.

"Dengan berkurangnya suplai atau pasokan ke pasar, dapat menyebabkan kenaikan harga beras di pasar. Namun harus dilihat juga, bahwa kenaikan harga beras ini dimulai sejak Agustus 2023, jauh hari sebelum Pemilu, sehingga belum dapat disimpulkan secara pasti keterkaitan kenaikan harga beras dengan situasi politik," katanya.


Stok Cukup
Tingginya harga beras di pasaran hingga kini masih mengundang teka-teki, karena sampai saat ini belum diketahui penyebabnya secara pasti, mengingat faktanya di lapangan, persediaan beras di pasar terbilang cukup, tapi harga tetap naik.

Hal ini disampaikan pedagang beras di Jalan Bhayangkara Medan, Ahwat (47, kepada wartawan, sembari mengaku harga beras saat ini masih tergolong tinggi, karena stok beras yang dibelinya dari kilang beras dengan harga tinggi belum habis.

"Mungkin saja harga beras akan bergerak menurun, tapi tidak bisa secara signifikan, karena kami membeli harga beras dari kilang memang masih tinggi," ujarnya sembari menambahkan, pihaknya membeli stok beras paling lama 3 bulan, jika lebih dari itu, beras akan rusak bahkan bisa berkutu.

Diakui Ahwat, saat ini kawasan Deliserdang, Sergai dan Tebingtinggi sudah mulai panen, sehingga diprediksi akan mempengaruhi harga jual beras di pasar, dan saat musim panen tiba, harga beras akan bergerak turun secara perlahan.

Untuk menghindari keresahan masyarakat akan kenaikan harga beras ini, Ahwat meminta pemerintah melalui Bulog melakukan operasi pasar (OP) guna membantu masyarakat kurang mampu untuk memperoleh beras murah.

"Tanpa OP cara menurunkan harga beras di pasar akan sulit tercapai. Kami sebagai pedagang beras akan menjual beras lokal sesuai harga yang ditentukan kilang padi yang mensuplai kebutuhan kami," kata Ahwat.

Sementara itu, Duan (43) pengelola kilang padi/beras di kawasan Deliserdang mengakui saat ini harga beli gabah dari petani terbilang tinggi mencapai Rp7.000 - Rp8.000/Kg, sehingga petani juga merasakan harga gabah yang baik," katanya.

Duan menambahkan, dengan harga gabah yang masih terbilang tinggi saat ini, juga tidak ada jaminan harga akan terus stabil, sehingga diperlukan adanya keseriusan pemerintah untuk menurunkan tim investigasi menyelidiki penyebab melonjak naiknya harga beras.(**)



SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru