Jenis baru manusia selalu menjadi sesuatu yang mengejutkan. Klaim penemuan jenis Homo naledi di goa Rising Star di Afrika Selatan, seperti penemuan jenis Homo floresiensis di Flores, mengundang decak kagum sekaligus pertanyaan.
Salah satu pertanyaannya, bagaimana hubungan jenis itu dengan kita, Homo sapiens? Apakah dia moyang, tante, atau malah hanya sepupu kita?
Hingga saat ini, jenis manusia paling tua yang ditemukan adalah Ardipithecus ramidus. Jenis manusia tersebut punya karakteristik yang merupakan perpaduan antara manusia dan kera.
"Ardi", demikian jenis manusia itu biasa disapa, ditemukan pada tahun 1994 di Etiopia. Dia diperkirakan hidup sekitar 4 juta tahun lalu. Jadi, kalau ada posisi tertua dalam golongan manusia, dialah yang paling pantas menyandangnya.
"Ardi" belum punya kemampuan bipedal atau berjalan tegak. Jenis manusia paling awal yang punya kemampuan itu adalah Lucy atau Australopithecus afraensis.
Jenis Au afraensis diperkirakan hidup 3,95-2,95 juta tahun yang lalu. Jenis itu mungkin pantas disebut sebagai tante kita. "Ayah" dan "ibu" H sapiens hidup sezaman dengannya, tetapi sulit untuk mengetahuinya.
Kerangka Homo Naledi dikelilingi ratusan elemen fosil, difoto di Institut Studi Evolusi Universitas Witwatersrand di Johannesburg, Afrika Selatan. Para ilmuwan pada 10 September 2015, mengatakan fosil merupakan anggota baru dari keluarga manusia.
Selain Au afraensis yang punya tinggi sekitar 150 sentimeter, manusia modern juga punya tante-tante lain. Salah satunya adalah Australopithecus africanus. Jenis itu hidup sekitar 2,1 juta tahun yang lalu.
Nah, kurang lebih sezaman dengan Lucy, hidup juga manusia-manusia dari genus Homo, yaitu Homo habilis, Homo erectus, dan Homo heidelbergensis. Mereka mungkin bisa disebut paman kita.
H habilis adalah manusia pertama yang membuat alat, sementara H erectus sudah mampu menciptakan kapak genggam dan merawat yang sakit.
Seberapa "Manusia"-kah Homo naledi?
Penemuan spesies baru bernama Homo naledi yang memiliki keterkaitan dengan manusia, telah melemparkan biologi evolusioner dunia ke dalam lingkaran tak berujung. Spesies baru yang ditemukan di gua di Afrika Selatan itu tampaknya merupakan kombinasi aneh dari makhluk primitif dan modern yang sebelumnya tak terlihat bersama.
Dari sisa 15 individu, para ilmuwan mengumpulkan sistem rangka Homo naledi dan mempublikasikan penemuan tersebut dalam jurnal eLife. Homo naledi memiliki beberapa kesamaan yang sangat mirip dengan manusia, terutama tangan dan kakinya—meskipun otaknya jauh lebih kecil. Individu Homo naledi memiliki jempol opposable— mampu menyentuh ujung jari dari tangan yang sama—yang sangat mirip dengan jempol manusia. Sifat melengkung dari tangan juga menunjukkan bahwa spesies itu mungkin memiliki kemampuan memanjat. Banyak dari nenek moyang dekat kita memiliki jempol opposable.
Mungkin kemiripan yang sangat signifikan bukan dari segi anatomi. Ilmuwan mengatakan bahwa gua tempat ditemukannya tulang belulang Homo naledi tampaknya merupakan ruang pemakaman. Mengubur orang mati merupakan praktek yang sebelumnya dianggap suatu sifat manusia yang unik.
Kemiripan ini membawa arti penting dari perspektif evolusioner, tetapi sejumlah ciri-ciri membuat manusia lebih menonjol dari para pendahulu kita. Volume otak manusia biasanya antara 1.100 dan 1.200 sentimeter kubik. Para ilmuwan memperkirakan bahwa volume otak di Homo Naledi sekitar setengah ukuran otak manusia.
Tentu saja ukuran otak bukanlah segalanya ketika terdapat kehidupan cerdas dan evolusi. Akan tetapi, struktur otak Homo naledi, berdasarkan ukuran tengkoraknya, juga menunjukkan otak yang lebih primitif. Ketika membandingkan manusia dengan nenek moyang langsung, otak menunjukkan beberapa perbedaan antara manusia dan Homo naledi.
Rangka, termasuk bahu dan pinggul juga memiliki kesamaan dengan spesies hominin awal. Secara keseluruhan, ilmuwan percaya individu Homo naledi memiliki berat badan yang kurang dibanding manusia.
Perbedaan antara manusia dan Homo naledi cukup signifikan, namun hal tersebut tak mengurangi arti penting penemuan. Penemuan spesies yang terkait dengan manusia hanya menggarisbawahi kenyataan betapa sedikitnya yang kita ketahui tentang bentuk-bentuk kehidupan pendahulu kita jutaan tahun lalu.
(Geographicnational/q)