Nias Barat (SIB)
Pdt Mesra Telaumbanua STh melayani di BNKP Siberut Selatan, Resort 44 Kepulauan Mentawai, kembali berhasil menjadi pemenang pada lomba sayembara cerita anak yang digelar Balai Bahasa Sumatera Utara (BBSU).
Pdt Mesra Telaumbanua yang penuh kreatif dan inovatif ini sebelumnya pernah juga pada 2020 lalu menjadi pemenang sayembara cerita anak BBSU lewat judul cerita 'LA'IZU SANGIFI'. Dan pada 17 Juni 2022 ia kembali diizinkan Tuhan menjadi pemenang dalam sayembara cerita anak dwibahasa lewat karya "HEZO SO GA EDO?".
Keberhasilannya pun mengundang respon positif dari berbagai kalangan, pasalnya kesehariannya yang menjadi seorang pendeta tidak membuat semangatnya kendor dalam mengasah kemampuan menulisnya. Terlihat dalam kolom komentar postingan Facebooknya dimana banyak rekan yang menyampaikan selamat dan dukungan lainnya.
"Sebenarnya ini cerita anak yang dikhususkan untuk pembaca pemula. Anak-anak yang ada di jenjang ini biasanya masih berada di kelas 1 SD. Subtema dari cerita ini sendiri adalah permainan tradisional. Nama permainan tradisional yang aku pakai dalam cerita ini adalah permainan "Paci-Paci Noa" atau petak umpet. Hanya saja, penjaga tidak akan menghitung satu sampai sepuluh, melainkan bertanya "Paci-Paci Noa?" sampai tidak ada sahutan sama sekali. Yang bertujuan hanya memperkenalkan keseruan salah satu permainan tradisional di Nias dengan kejenakaan anak-anak yang memainkannya," ujar Pdt Mesra Telaumbanua anak dari Melizaro Telaumbanua dan Niati Telaumbanua kepada SIB, Selasa (21/6).
Dijelaskannya, bahwa judul cerita dengan menggunaan bahasa daerah (Nias), dimaksudkan sebagai bentuk upaya pelestarian bahasa daerah sekaligus peningkatan literasi di Sumatera Utara, khususnya.
"Bisa menulis satu karya tentu menjadi kebanggaan tersendiri bagiku, apalagi jika karya ini dinilai baik oleh orang lain. Aku berharap aku masih bisa buat karya-karya lain dan berharap karya itu bisa menjadi salah satu cara untuk menarik minat baca anak-anak, secara khusus di Kepulauan Nias. Sebab ketersediaan bahan baca yang kontekstual tentu sedikit banyak akan mempengaruhi tingkat minat baca anak-anak," katanya.
Lanjutnya, sementara jika ditanya apa tidak mengganggu jadwal pelayanan sebagai seorang Hamba Tuhan , ia mengaku dengan mengatur waktu sebagai kunci utamanya.
"Beruntunglah aku masih bisa mengatur waktu. Biasanya aku menggunakan waktu senggang untuk menulis. Kecuali untuk karya yang dilombakan, aku gunakan lebih banyak waktu untuk berpikir dan menulis.
Tapi sejauh ini, pelayanan tidak menghalangiku untuk menulis dan hobi menulis tidak membatasiku dalam pelayanan. Bahkan dalam banyak kesempatan, pelayanan-pelayanku justru terbantu karena tulisanku, atau sebaliknya. Aku menulis karena pelayananku ada," pungkasnya. (SS9/a)