Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Sabtu, 30 Agustus 2025

Mahasiswa UHN Unjuk Rasa ke DPRD SU Kecam DPR Adu Domba Mahasiswa Dengan Polisi

Firdaus Peranginangin - Kamis, 28 Agustus 2025 20:11 WIB
422 view
Mahasiswa UHN Unjuk Rasa ke DPRD SU Kecam DPR Adu Domba Mahasiswa Dengan Polisi
(Foto harianSIB.com/Firdaus Peranginangin)
Massa mahasiswa UHN unjuk rasa ke DPRD Sumut, Kamis (28/8/2025) mengecam perlakuan DPR yang mengadu domba mahasiswa dengan aparat kepolisian, untuk mempertahankan kenaikan tunjangan anggota dewan sebesar Rp50 juta per bulan.
Medan(harianSIB.com)

Massa mahasiswa dari Universitas HKBP Nomensen (UHN) unjuk rasa ke DPRD Sumut, Kamis (28/8/2025) mengecam perlakuan DPR yang mengadu domba mahasiswa dengan aparat kepolisian, untuk mempertahankan kenaikan tunjangan anggota dewan sebesar Rp50 juta per bulan.

"DPR tidak memiliki "sense of crisis" atau kepekaan yang tajam terhadap situasi dan kondisi masyarakat saat ini yang sedang mengalami kesusahan. Tapi justeru mereka menaikkan tunjangannya sebesar Rp50 juta/bulan," tegas mahasiswa dalam orasinya.

Baca Juga:

Mahasiswa menilai, akibat keserakahan anggota DPR tersebut, negara sangat berpotensi menjadi krisis, sehingga pemerintah perlu bertindak cepat, tepat, dan efektif dengan sesegera mungkin membubarkan DPR atau membatalkan seluruh tunjangan para wakil rakyat tersebut.

"Batalkan tunjangan tersebut, karena rakyat sudah kelaparan ditambah besarnya pengutipan pajak yang dikenakan kepada masyarakat untuk membiayai pejabat dan anggota legislatif," tandas pengunjuk rasa sembari meminta kepada aparat kepolisian jangan mau diadu-domba dengan mahasiswa.

Baca Juga:

Bahkan para pengunjuk rasa secara terbuka menyampaikan kepada aparat kepolisian yang melakukan penjagaan pagar betis di luar gerbang utama gedung DPRD Sumut, mahasiswa Nomensen anti anarkis, tapi tidak pernah gentar terhadap siapapun.

"Yakinlah bapak-bapak Polisi, kami datang membawa perdamaian, bukan membawa keributan. Kami datang untuk melakukan kontrol sosial terhadap pemerintah yang telah menyengsarakan rakyat, akibat pelaku koruptor dan kenaikan pajak rakyat," katanya sembari menambahkan, mahasiswa bukan genk motor yang kerap buat kerusuhan.

Dalam tuntutannya, para pengunjuk rasa juga menuntut pemerintah dan DPR RI segera mengesahkan Rancangan Undang-undang (RUU) Perampasan Asset yang sudah begitu lama dibahas, tapi sampai saat ini belum ada kejelasannya.


"RUU perampasan asset muai tahun 2008 sudah dibahas, tapi sampai sekarang tak jelas. Ini menandakan DPR hanya menghabiskan uang rakyat yang dikumpul dari pajak rakyat," teriak mahasiswa seraya meminta aparat agar mengijinkan masuk ke dalam gedung dewan untuk bertemu dengan para wakil rakyat.

Namun aparat kepolisian yang melakukan penjagaan secara ketat mulai dari lapis pertama depan gerbang utama gedung dewan hingga di halaman gedung dewan dengan pasukan penindakan huru-hara berpakaian lengkap, tetap tidak mengijinkannya.

Begitu juga saat mahasiswa meminta aparat untuk menghadirkan anggota dewan menerima aspirasi mahasiswa, juga tidak dapat dipenuhi, sebab tidak seorang pun anggota dewan hadir ke "rumah rakyat" tersebut, sehingga menimbulkan kekecewaan besar bagi pengunjuk rasa.

Ada sekitar 3 jam mahasiswa melakukan negoisasi dengan aparat agar diperbolehkan pengunjuk rasa memasuki gedung dewan, tapi tetap tidak diijinkan dan akhirnya mahasiswa meninggalkan gedung dewan dengan tertib.

Sebelum mahasiswa bergerak meninggalkan gedung dewan, aparat kepolisian sempat membagi-bagikan minuman kemasan terhadap massa, sebagai tanda simpati Polisi terhadap mahasiswa yang menyampaikan aspirasi secara tertib dan simpati.(**).

Editor
: Redaksi
SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru