Sekali waktu di Kota Benares, ada seorang brahmana di sebuah desa yang
menguasai sebuah mantra, ia bernama Vedabbha. Mantra yang dimilikinya
berharga melebihi semua barang bernilai. Jika saat planet-planet berada
pada posisi yang sejajar sambil mengucapkan mantra ini menatap jauh ke
langit, secara langsung akan timbul hujan batu dari langit berupa tujuh
jenis batu berharga.
Suatu hari, gurunya meninggalkan desa itu
untuk mengurus beberapa keperluan. Ia pergi ke Negeri Ceti bersama
seorang muridnya yang merupakan Bodhisatta kelahiran masa lalu. Melewati
sebuah hutan yang dikuasai lima ratus orang perampok dengan sebutan
"Pengutus" yang membuat perjalanan itu berbahaya dan sulit dilakukan.
Menurut cerita, mereka terkenal sebagai "pengutus" karena setiap dua
tahanan yang menjadi korban mereka, satu orang di antaranya diutus untuk
menjemput uang tebusan. Kemalangan terjadi, kelompok perampok tersebut
menangkap Bodhisatta dan Brahmana Vedabbha. Mereka menahan Brahmana
Vedabbha dan mengirim Bodhisatta untuk mencari uang tebusan. Bodhisatta
dengan tidak mengurangi rasa hormat mengingatkan gurunya jangan sampai
membacakan mantra dan memanggil hujan barang-barang berharga. Jika hal
tersebut dilakukan, dikhawatirkan malapetaka akan menimpa guru dan
kelompok penjahat tersebut. Dengan peringatan tersebut pada gurunya,
Bodhisatta pergi untuk mencari uang tebusan.
Saat matahari
terbenam, perampok-perampok itu mengikat brahmana itu dan
membaringkannya di dekat mereka. Pada saat itu juga, purnama muncul di
langit bagian timur. Brahmana yang mempelajari tentang langit,
mengetahui - bahwa pergerakan bersama planet-planet itu sedang terjadi.
Berpikir tidak seharusnya mengalami penderitaan ditahan perampok, sang
guru menawarkan kepada para perampok bahwa dirinya membacakan mantra dan
akan memanggil hujan batu berharga, membayar tebusan pada
perampok-perampok ini. Dengan demikian sang guru berharap dapat segera
bebas untuk pergi
Para perampok melakukan apa yang diminta
olehnya mempersiapkan segala sesuatunya. Brahmana yang menandai
kebersamaan planet-planet itu, membacakan mantra dengan mata menatap ke
langit. Segera saja, barang-barang berharga itu mengalir turun dari
langit. Para penjahat langsung memungut barang-barang berharga itu dan
membungkus barang rampasan itu dengan menggunakan mantel mereka.
Mereka
meninggalkan tempat itu dengan diikuti oleh brahmana itu di belakang
mereka. Namun, seakan telah diatur, kelompok itu disergap oleh kelompok
kedua yang beranggotakan lima ratus orang perampok! Kelompok pertama
menyerahkan brahmana kepada kelompok kedua "Jika barang berharga ini
yang kalian inginkan, tangkap saja brahmana ini, ia bisa dengan mudah
menatap ke langit dan membawa turun harta kekayaan seperti aliran hujan.
Ia yang memberikan semua barang yang kami miliki ini." Maka kelompok
kedua melepaskan kelompok pertama, hanya menahan brahmana itu.
Namun
masih membutuhkan waktu satu tahun lagi sebelum planet-planet bergerak
bersama, yang merupakan syarat utamanya. Para perampok menjadi sangat
marah karena keinginan mereka tidak bisa diwujudkan brahmana. Mereka
kemudian memotongnya menjadi dua bagian dengan sebilah pedang yang tajam
dan membuang mayatnya di tengah jalan. Lalu mengejar kelompok pertama,
membunuh semua anggota perampok kelompok pertama dalam sebuah
perkelahian, dan mengambil barang rampasan mereka. Mereka saling
membunuh satu sama lain sehingga yang tersisa hanya dua orang saja.
Dengan demikian, hampir seribu orang telah mati karenanya.
Kedua
orang yang masih hidup itu sepakat untuk membawa lari harta tersebut,
yang kemudian mereka simpan di sebuah hutan dekat desa. Satu orang duduk
dengan pedang di tangan menjaga harta tersebut sementara yang satunya
lagi pergi ke desa untuk mencari beras dan memasaknya sebagai santapan
malam mereka.
Memperhitungkan temannya akan menginginkan sebagian
dari harta ini, perampok yang sedang menunggu berpikir harus membunuh
rekannya pada saat ia kembali. Sementara itu, penjahat yang satu lagi,
membayangkan hal yang sama, bahwa harta rampasan itu akan dibagi dua,
iapun berencana memberikan nasi untuk dimakan temannya dan kemudian
membunuhnya. Namun ia tidak sempat melakukan rencananya, ketika penjahat
yang satunya lagi memotongnya menjadi dua bagian dengan menggunakan
pedang sebelum sempat mencicipi nasi beracun, dan menyembunyikan
mayatnya di suatu tempat yang terpencil. Kemudian ia makan nasi beracun
itu, dan meninggal di tempat pada saat itu juga. Demikianlah, karena
harta tersebut, tidak hanya brahmana itu, namun semua penjahat itu
menjadi binasa.
Sementara itu, satu dua hari kemudian, Bodhisatta
kembali dengan membawa uang tebusannya. Tidak menemukan gurunya di
tempat ia meninggalkannya, hatinya merasa khawatir bahwa gurunya pasti
telah menurunkan hujan harta benda dari langit, dan semuanya telah tewas
sebagai akibatnya; ia menelusuri sepanjang jalan tersebut. Bodhisatta
menemukan seribu penjahat tewas karena brahmana yang tidak mendengar
nasihatnya sehingga membinasakan tidak hanya dirinya sendiri, namun juga
seribu orang lainnya. Benar, mereka sendiri yang menerima akibat
kekeliruan dan salah jalan, yang akhirnya menemui kehancuran.
Cerita
Jataka tersebut, menginspirasi salah satu berkah utama sebagaimana
diuraikan dalam Manggala Sutta yakni berkah karena bebas dari noda. Noda
dari ketamakan, kebencian dan kebodohan adalah akar yang menyebabkan
semua penderitaan dan ketidakpuasan. Bahkan aspek yang paling halus dari
noda-noda ini harus dilenyapkan. Aspek-aspek yang halus ini meliputi
hasrat keinginan dan kemelekatan, rasa tidak suka dan cepat marah, dan
tidak berkepentingan serta ketidaktahuan.
Noda yang kita lakukan
akan membawa kehancuran, bukannya keuntungan. Usaha brahmana yang salah
arah dengan mengupayakan turunnya hujan harta benda dari langit,
mengakibatkan kematiannya dan kehancuran bagi orang lain yang bersama
dengannya. Tetap saja, setiap orang yang salah mengartikan pencarian
terhadap pedoman demi keuntungannya sendiri, akan hancur dan melibatkan
orang lain dalam kehancurannya.
(h)