GBKP diundang oleh UEM (United Evangelische Mission) Regional Afrika untuk berkontribusi dalam kegiatan Workshop on Emergency Management di Buea, Kamerun, Afrika yang berlangsung 23-30 Juli lalu. Pengalaman serta peran GBKP sebagai gereja dalam menangani bencana erupsi Sinabung yang berkepanjangan dianggap panjang sehingga pengurus UEM Regional Afrika ingin mendengar sharing pengalaman tersebut untuk menjadi referensi bagi gereja-gereja di Afrika.
Untuk itu, penulis Pdt Agustinus P Purba STh MA selaku Ketua Umum Moderamen GBKP dan juga sebelumnya Kabid Diakonia GBKP yang secara langsung ikut terjun dalam penanganan bencana Erupsi Sinabung serta pengungsi dari sejak awal terjadinya bencana menghadiri kegiatan workshop tersebut.
Selaku tuan rumah, gereja EEC (Evangelical Church in Cameroon) menyambut hangat semua peserta dan menyediakan semua keperluan kegiatan dengan baik. Workshop dihadiri juga oleh Rev John Wesley Kabango sebagai Executive Secretary of Africa Region yang berkantor di Jerman.
Sharing pengalaman dari Indonesia disampaikan tentang pengalaman GBKP selama hampir kurang lebih 5 tahun mendampingi korban erupsi Gunung Sinabung. Dalam proses ini begitu banyak peserta yang mendapatkan informasi baru, khususnya pengalaman GBKP melayani pengungsi dalam waktu yang begitu lama dan memberi pelayanan tanpa membedakan kelompok agama dan ras. Pengalaman GBKP mengelola pos-pos pengungsian dan memperhatikan anak-anak pengungsi yang masih sekolah adalah menjadi masukan baru bagi gereja-gereja Afrika untuk menangani bencana. Demikian juga manajemen saling bertolong-tolongan yang melibatkan jemaat-jemaat di tingkat lokal untuk membantu dianggap merupakan kekuatan gereja secara internal disamping bantuan-bantuan dari pihak lain. Mempersiapkan relawan atau pemuda-pemuda gereja untuk ikut berpartisipasi dalam penangan bencana juga adalah merupakan bagian yang sangat penting.
Inti yang disampaikan dalam workshop ini adalah tentang panggilan dari perspektif kekristenan dalam penanggulangan bencana letusan gunung hendaknya memperlihatkan peran aktif. Gereja melihat hal itu sebagai tugas dan panggilannya bersama-sama dengan pihak-pihak terkait lainnya.
Panggilan gereja dalam menolong sesama yang terkena bencana adalah tindakan solidaritas terhadap sesama yang menderita. Tidak ditemukan dalam Alkitab kata "solidaritas" secara hurufiah, namun kata tersebut telah menjadi kata baru untuk perutusan cinta kasih dan keadilan kristiani. Nilai-nilai yang terkandung di dalamnya adalah kebenaran, keindahan, kebijaksanaan, kerendahan hati dan kasih yang menjadi keutamaan Injil.
Dari defenisi yang ditawarkan kita bebas mengartikannya, tetapi yang jelas bahwa solidaritas adalah tindakan yang didorong oleh hati nurani dari manusia yang mempunyai kepedulian untuk menolong sesamanya yang menderita. Pelaku solidaritas adalah orang-orang yang memutuskan untuk senasib sepenanggungan dengan orang-orang menderita (miskin, tertindas, korban ketidakadilan, korban kekerasan, korban bencana, dan lainnya). Tindakannya menunjukkan kesetiakawanan untuk hidup selaras dengan kearifan dan mendukung kepentingan mereka.
Dari sisi agama Kristen hal ini adalah perwujudan inti pengajaran Kristen dalam Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru seperti apa yang dikatakan Yesus: "Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu". Dan yang kedua, yang sama dengan itu : "Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri". (Mat. 22 :37-39)
Seluruh tindakan yang dilakukan adalah berdasarkan perspektif Kristen tentang kedudukan manusia sebagai "citra Tuhan" (imago Dei, the image of God) menempatkan manusia sebagai mahkluk yang istimewa di mata Tuhan. Tugas gereja dalam panggilan kemanusiaan khususnya bagi korban bencana alam adalah untuk menyatakan penghargaan atas karya agung Tuhan terhadap manusia ciptaanNya. Kesaksian Alkitab tentang penciptaan dalam kitab Kejadian memperlihatkan bahwa dari awal masalah kehidupan manusia sudah mendapat perhatian yang serius. Di dalam Kejadian pasal satu dikisahkan cerita penciptaan yang pada puncaknya adalah penciptaan manusia. Manusia diciptakan menurut gambar dan rupa Allah (Kej. 1 : 26).
Kepedulian Allah akan manusia dinyatakan dalam kehadiran pribadi Yesus. "Roh Tuhan ada pada-Ku, oleh sebab Ia telah mengurapi Aku, Untuk menyampaikan kabar baik kepada orang-orang miskin; dan Ia telah mengutus Aku, untuk memberitakan pembebasan kepada orang-orang menderita, dan penglihatan bagi orang-orang buta, untuk membebaskan orang-orang yang tertindas, untuk memberitakan tahun rahmat Tuhan telah datang," (Lukas 4 : 18 - 19).
Menurut koordinator UEM Afrika David Wapo sharing pengalaman tentang bagaimana GBKP menangani krisis bencana sehubungan dengan erupsi gunung berapi sangat menginspirasi serta memperkaya peserta dari gereja-gereja di Afrika dalam menghadapi dan menangani krisis yang banyak terjadi disana.
Tujuan dari workshop ini, untuk membangun kapasitas dalam hal penanganan krisis dan bencana. Gereja perlu menyikapi lebih serius tanggungjawab sosialnya yang hadir sebelum, selama dan sesudah bencana. Topik yang disajikan oleh fasilitator termasuk juga tentang konsep dasar penanganan krisis, prinsip dasar tindakan kemanusiaan, manajemen bencana, kerangka kerja hukum dan peraturan emergency management dan lain-lain.
Agenda lain dari kegiatan workshop ini selain sharing pengalaman juga kunjungan lapangan ke daerah-daerah yang sering mengalami banjir, tanah longsor, erupsi dan aliran lava serta diakhiri dengan perkunjungan ke situs sejarah pasar tempat perdagangan budak pada zaman dahulu dimana ratusan ribu orang Afrika diperdagangkan ke Amerika untuk dipekerjakan sebagai budak di perkebunan.
Pada akhir kegiatan workshop ini peserta telah merumuskan beberapa rekomendasi antara lain : dalam misi kenabiannya, setiap gereja harus membentuk dan memperkuat unit emergency management yang bisa dimasukkan dalam bidang Keadilan, Perdamaian dan Keutuhan Ciptaan (KPKC) serta harus betul-betul dipertimbangkan dalam hal proses pendanaan gereja. Setiap gereja harus mengadopsi kebijakan penanganan darurat (emergency management) serta melatih anggotanya. Gereja-gereja harus berjuang untuk bekerja dalam kolaborasi yang erat dalam hal sharing pengalaman tentang emergency management dan harus mengadakan pendekatan terhadap kebijakan pemerintah untuk mengadvokasi kebijakan negara yang lebih kuat dan lebih baik dalam emergency management.
Kegiatan workshop ini terlaksana atas kerjasama UEM Regional Africa dengan Gereja Evangelis Kamerun (EEC) dan dihadiri oleh peserta dari gereja-gereja anggota UEM wilayah Afrika. (r)
.