Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Kamis, 16 April 2026
RENUNGAN

Pencitraan yang Palsu

* Oleh Pdt Jansen Simanjuntak MTh MM * (Bahan bacaan: Lukas 20:45-47)
- Minggu, 09 Oktober 2016 16:42 WIB
718 view
Pencitraan yang Palsu
Pdt. Jansen Simanjuntak, MTh, MM
Di dalam ilmu politik maupun ilmu pemasaran (marketing/promosi/iklan), pencitraan justru diperlukan atau sesuatu yang harus ada. Di dalam ilmu pemasaran brand atau merek adalah jantung dari citra perusahaan, iklan produk umumnya untuk meningkatkan citra produk dan citra perusahaan. Banyak penelitian yang membuktikan bahwa semakin tinggi citra produk maka brand equity akan meningkat. Ketika brand equity meningkat maka kepercayaan konsumen pada produk atau perusahaan pun akan meningkat.

Dalam dunia politik output atau tujuan akhir dari citra/pencitraan bukan penjualan maupun profit, melainkan trust (kejujuran atau kepercayaan). Dalam dunia politik kepercayaan itu sangat mahal, ujung-ujungnya adalah "tingkat elektabilitas". Jadi, pencitraan itu strategi yang harus ditempuh jika ingin mendapatkan kepercayaan masyarakat dan tingkat elektabilitas. Namun manakala pencitraan dilakukan secara berlebihan dan ambisius, apalagi tidak sesuai dengan kenyataan, maka pencitraan itu justru merugikan pribadi atau nonpribadi sebagai subjek pencitraan.

Lalu bagaimana dengan pencitraan diri?
Pencitraan diri selalu diminati setiap insan. Dimanapun dan kapanpun, seseorang selalu ingin tampil baik di depan orang lainnya. Media massa tidak pernah lepas mewartakan topik ini, entah dalam diri seorang figur publik atau orang awam sekalipun. Kadangkala pencitraan diri tidak lagi memperhatikan karakter asli diri yang bersangkutan. Yang nyata bisa saja bertolak belakang dari pencitraan yang dimunculkan.

Kembali kepada bacaan perikop di atas, para ahli taurat adalah orang-orang yang pandai dalam hukum Taurat. Mereka piawai dalam menafsirkan hukum taurat sekaligus mengajarkannya kepada bangsa Yahudi. Betapa penting kedudukan dan jabatan mereka di tengah bangsa itu. Namun apa yang sebenarnya terjadi pada hidup mereka? Mereka tidak lain adalah para penentang Yesus dan firmanNya. Meskipun mereka mengikuti Dia, tetapi hati mereka sebaliknya. Demikian juga, mereka tahu dan mengakui bahwa ajaran Yesus benar, tetapi mereka sulit menerimanya.

Kali ini Yesus secara terang-terangan minta kepada murid-muridNya untuk waspada terhadap ahli-ahli taurat. Setelah sekian lama mereka mengikuti "pelayanan" Yesus, toh mereka tidak berubah, mereka tetap mempertahankan pencitraan diri mereka sebagai pejabat agama. Dengan detail Yesus mengungkapkan apa yang mereka lakukan: suka berjalan memakai jubah panjang, suka menerima penghormatan di pasar, suka duduk di tempat terdepan rumah ibadat dan di tempat terhormat dalam perjamuan, menelan rumah janda-janda, yang mengelabui orang dengan doa yang panjang (ay. 46-47). Dicantumkan juga, mereka meletakkan beban-beban yang tak terpikul pada orang dan membangun makam nabi-nabi (baca: Lukas 11:46-47).

Kita perlu waspada, agar tidak tertipu oleh performa yang sangat bagus, tetapi akhirnya akan menyesatkan, yang merekayasa kesalehan untuk menipu dan mendapatkan keuntungan sebanyak-banyaknya. Yesus telah menegaskan akhir hidup orang-orang seperti ini, jangan sampai hal yang sama terjadi juga kepada kita. Mari kita mengutamakan ketulusan. Mari jujur kepada diri sendiri, apakah sikap ibadah kita selama ini murni untuk menyembah Tuhan? Kalau ya, pasti wujudnya adalah kasih dan keadilan bagi sesama. Namun, kalau kita melakukan semua ibadah itu hanya agar merasa tenang, bebas dari rasa bersalah, tak heran ibadah kita hanya sebatas ritual semata, tidak membuahkan hidup yang menjadi berkat buat sesama. Kalau demikian, Tuhan menantang kita saat ini, Bertobatlah ! (h)  




SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru