Sejak ditetapkannya oleh para misionaris yang bersidang di Parausorat, Heine, Klammer, Betz dan Van Asselt, genaplah usia HKBP 155 tahun (1861-2016) Jumat, 7 Oktober 2016. Banyak hal yang sudah dibuat HKBP lewat kehadirannya di tanah Batak hingga di perantauan bahkan di luar negeri. Kehadirannya telah mendirikan pusat pendidikan, rumah sakit dan pusat-pusat pembinaan, di samping rumah ibadah. Itu artinya, gereja HKBP telah ikut serta mencerdaskan bangsa jauh sebelum NKRI didirikan. HKBP berperan melayani secara holistik. Itu nyata terlihat dalam visi HKBP menjadi berkat bagi dunia. HKBP dituntut untuk berperan lebih nyata di tengah masalah bangsa dan dunia ini.
Panggilannya jelas yaitu ikut serta mencerdaskan bangsa dan memberi kontribusi aktif sebagai gereja yang berperan di tengah masyarakat. Maksudnya, gereja saat ini harus mampu mengimplementasikan dirinya sebagai garam dan terang dunia. Dalam perubahan zaman ini gereja harus melaksanakan tugas gereja yang hakiki. Gereja harus menjadi suatu komunitas yang saling menhibur dan menguatkan dalam ikatan damai sejahtera.
Sejarah Batak berubah dimulai saat Ompui Dr IL Nommensen melajutkan tugas pendahulunya memberitakan Injil Kerajaan Allah di wilayah Tapanuli. Ketika itu, masyarakat Batak yang berada di sekitar Tapanuli, khususnya Tarutung, diberi pengajaran baca tulis, keahlian bertukang untuk kaum pria, dan keahlian menjahit serta urusan rumah tangga bagi kaum ibu.
Pelatihan dan pengajaran itu kemudian berkembang hingga akhirnya berdiri sekolah-sekolah dan pusat kesehatan di beberapa wilayah di Tapanuli. Nommensen dan penyebar agama lainnya berperan besar dalam pembangunan rumah sakit yang ada hingga kini berdiri megahnya RS HKBP Balige, jauh sebelum Indonesia merdeka. Kemegahan itu harus disertai dengan pemeliharaan baik gedungnya dan pelayanannya agar jemaat dan masyarakat mengagumi berkat Tuhan yang disediakan bagi HKBP lewat rumah sakit itu.
Sementara itu, perkembangan pendidikan formal juga terus berlanjut hingga embrio pendirian perguruan tinggi swasta pertama tahun 1954 di Sumut Universitas HKBP Nommensen (UHN) ikut mencerdaskan bangsa kita. Awalnya Universitas HKBP Nommensen (UHN) ikut mencerdaskan bangsa. Kini Universitas ternama itu sudah memiliki beberapa Fakultas, termasuk Fakultas Kedokteran.
Meski diakui dalam perjalanannya HKBP sebagai saksi Kristus di dunia menghadapi berbagai masalah yang harus dicermati dan dihadapi. Imbasnya berpengaruh dalam masalah internal, masalah di tubuh jemaat itu sendiri. Syukurlah setiap masalah dapat diatasi dengan baik. Itulah makna Firman Tuhan yang berkata, tidak ada yang mustahil bagi Allah. Tidak ada yang tidak dapat diselesaikan jika semua warga dan pelayannya berdiam di dalam hatinya, Kristus Yesus yang telah menyelematkan hidup orang Batak dan warganya.
Landasan itu tetap mengacu kepada Tri Tugas Panggilan Gereja yaitu gereja yang yang berkoinonia, bermarturia, dan berdiakonia. Di bidang misi semua komponen gereja itu dengan sikap yang positif dan pro-aktif hendaknya tumbuh bersama-sama bahu-membahu dan hidup bersama dengan masyarakat, sehingga tidak menimbulkan egoisme atau ekslusifisme.
Dalam kerangka itulah lewat judul di atas, pada saat ulang tahunnya, tujuannya mengingatkan warganya untuk senantiasa merenungkan "Peran apakah yang dimungkinkan oleh HKBP dapat dikembangkan agar menjadi gereja yang membawa berkat kepada jemaatnya dan masyarakat?".
Gereja, HKBP pada hakekatnya memiliki tanggung jawab kepada masyarakat, karena gereja berada bagi dunia. Oleh karena itu hubungan di antara gereja dan dunia tidak bisa terpisah.
Peran gereja di tengah masyarakat menurut Yoh 3:16 alasannya karena Allah begitu mengasihi dunia, maka Ia memberikan Anak-Nya yang tunggal kepada dunia. Allah memberikan Kristus bukan hanya bagi gereja, juga supaya dunia, setiap orang yang percaya kepada-Nya mendapat keselamatan. Dengan demikian perhatian gereja terhadap dunia dipahami dalam 4 hal yaitu dorongan bagi perdamaian dunia (peace), penjelmaan keadilan bagi orang-orang dan negara-negara yang miskin, perhatian tentang krisis ekologi (subtainnability), dan demokrasi sebagai parsipasi massa (participation). Gereja di masa depan harus mempunyai empat hal tersebut dalam memerankan dirinya sebagai garam dan terang dunia (Mat 5:13-14).
Tujuannya untuk memecahkan masalah-masalah bagi negara di mana mereka tinggal. Usaha-usaha tersebut bukan hanya bagi negaranya sendiri, tetapi juga secara global dan universal, karena pada masa kini suatu negara tidak dapat memecahkan masalah politik dan ekonomi sendiri.
Akan sangat bermanfaat apabila warga tidak menjadi kelompok fanatisme yang sangat eksklusif lalu merasa diri paling benar apalagi paling besar, terhadap masyarakat sekitar, bahkan terhadap masyarakat sekitar terhadap sesama umat. HKBP ke depan harus meningkatkan keberhasilannya di masa lalu dengan kesediaannya mengembangkan etika bermasyarakat dan bernegara.
Banyak teolog menekankan, gereja yang berkembang pesat dan dinamis adalah gereja yang gembalanya melaksanakan peranan sebagai pengatur yang dari belakang dan awam melayani di depan. Secara sinergi memberdayakan warganya (laos). Gereja yang memakai sistem penggembalaan di mana rohaniawan dan awam berdiri sederajat akan bertumbuh pada masa yang akan datang. Untuk mengerakkan tenaga awam, masing-masing gereja harus melaksanakan pelatihan khusus untuk meningkatkan kepemimpinan awam. Era pemberdayaan jemaat yang dituntut oleh Aturan HKBP harus direspons positif oleh semua pelayannya.
Pertumbuhan HKBP ke depan harus mampu bekerja sama dengan umat kristiani lainnya, harus berlaku seperti Yesus Kristus sendiri yang bersaksi atas kebenaran Ilahi dengan berbaur bersama masyarakat dan menyalami kehidupan manusia dan menjaga hubungan dengan saling mendukung.
Ke depan, kerja sama tersebut harus lebih berkembang bukan hanya lingkungannya, tetapi dalam hubungan kerjasama sebagai partner, kawan sekerja Allah. Itu juga yang dimaksudkan gereja yang inklusif, dialogis dan terbuka. Jemaat tidak akan bermutu jika pelayanannya tidak memiliki mutu. Tiap pelayan HKBP harus mampu menyatakan visi dan misi HKBP di tengah jemaat dan masyarakat sesuai aturan dan peraturan HKBP yang baru serta mampu dan bertenaga mengembangkan kehidupan yang bermutu di dalam kasih Tuhan Yesus Kristus.
Artinya, bersama-sama dengan semua orang di dalam masyarakat global, gereja harus menjadi gereja yang terbuka (open church) untuk menyelamatkan mereka, demi kemuliaan Allah Bapa yang maha kuasa. Hal yang mengembirakan patut dicatat ialah di kalangan jemaat HKBP sudah meningkat adanya kepekaan sosial dan keperdulian untuk melayani masyarakat seutuhnya. Yaitu mendukung persatuan, perkembangan dan pluralitas etnis dan agama di tanah air. Kepekaan tersebut bertujuan perlu mengembangkan dan menjaga pluralisme di tanah air. Tujuan tersebut nyata untuk mengentaskan kemiskinan, pengangguran.
Hanya dengan itu tugas gereja di mata masyarakat mampu berbuat untuk memperkecil jurang sosial ekonomi, kaya miskin. Hingga mengadakan kaderisasi kaum muda meningkatkan kerjasama antar-lembaga untuk mengembangkan inkulturasi dalam kehidupan sangat perlu dikembangkan.
Akhirnya, konsekuensi logisnya, gereja perlu meningkatkan dialog antar suku, antar agama dan antar budaya dengan melibatkan diri secara secara aktif dalam segala segi kehidupan bangsa. Bekerjasama dengan semua komponen bangsa untuk membangun sebuah Indonesia bersatu yang sejahtera. Harapan ke depan tidak ada lagi warga yang dipinggirkan dan dinomorduakan. Di ulang tahun 7 Oktober 1861-2016, HKBP harus tetap menggumuli perannya sebagai garam dan terang dunia. Dirgahayu buat HKBP, juga seluruh warga dan pelayanannya. Amin. (h)