Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Kamis, 16 April 2026

Garam Selalu Minoritas

* Oleh: Pdt Estomihi Hutagalung
- Minggu, 06 November 2016 21:03 WIB
672 view
Garam Selalu Minoritas
Pdt Estomihi Hutagalung
Politik perebutan kekuasaan selalu menjadi pokok terpenting dalam tradisi demokrasi. Dan politik kekuasaan demikian dipraktekkan secara tidak dewasa sebagaimana jamak terjadi dalam masyarakat. Masyarakat masih belum matang dalam memahami relasi sosialnya dengan mempraktekkan warisan kultur primordial dan dibumbui doktrin sektarian.

Pada realitas demikian, maka politik perebutan kekuasaan akan dimaknai pada dirinya sendiri, untuk kepentingannya. Inilah tesis pemaknaan kekuasaan yang pragmatis. Dalam kondisi dimaksud, maka tugas utama kekuasaan adalah untuk mempertahankan kekuasaan dan memanfaatkan ketidakmatangan realitas sosial tersebut.

Sebaliknya, jika perebutan kekuasaan dimaknai pada wajah politik kekuasaan konstruktif, memberdayakan, maka setiap orang disadarkan pada panggilan dirinya untuk terlibat aktif dalam memperbaiki, membangun masyarakat sebagai realitas berpijaknya. Pada bingkai pemahaman demikianlah, pernyataan Tuhan Yesus "Kamu Adalah Garam Dunia" dimaknai sebagai upaya pembangunan demokrasi dalam wajah kekuasaan yang konstruktif.

Garam dalam Konteks
Pemberian gelar sosial sebagai garam dunia ditandai realitas masyarakat Palestina dengan system politik yang menempatkan kekuasan sebagai tujuan dan berpusat pada dirinya. Pada realitas demikian, setiap gerakan yang dianggap berpotensi merongrong kekuasaan akan berujung di mata pedang kerajaan yang laim. Masyarakat dalam wilayah kerajaan Romawi, merasakan kekuasaan pada wajah destruktif, yang menindas.

Masyarakat juga disuguhkan pada praktek beragama dengan semangat rutinitas. Agama dimaknai pada sesuatu yang ritual. Pemimpin agama sudah lebih mengedepankan fungsi "priest", kedudukan sebagai imam lebih berdimensi pada selebrasi, perayaan-perayaan dan lambat laun akan  kehilangan makna kenabian. Muara dari realitas demikian akan dapat kehilangan esensi beragama serta terkekangnya fungsi imam sebagai prophet yang mengkritik kekuasaan agar dijalankan pada wajah konstruktif.

Masyarakat juga ditandai dengan marakna gerakan-gerakan sektarian berjubah agama. Kaum Qumran menarik diri dari realitas sosial demikian dan menganggap doa dan ibadah sebagai hal kudus dan menganggap dunia sebagai hal najis. Demikian juga kaum Zelotis yang menempatkan dunia sebagai daerah perang yang harus dikuasai dengan menggulingkan rezim yang ada. Kaum ini meyakini bahwa negara agama akan menjamin adanya kemakmuran, keadilan dan sejahtera.

Tetapi Yesus tidak berada pada kedua kutub sektarian beraroma agama tersebut. Yesus justru hadir dengan cara berada-Nya dengan tidak menggulingkan penguasa dan tidak berkehendak dalam mendirikan negara. Maka cara berada Tuhan Yesus adalah dengan memberi gelar, identitas yang bersifat aksiomatis, sesuatu yang mutlak bahwa orang yang percaya pada Yesus, murid-murid-Nya yaitu, "Kamu" adalah garam dunia".

Garam Yang Membangun
Dengan demikian, pemberian identitas "kamu adalah garam" berimplikasi pada sebuah pangggilan diri terhadap cara berada umat Tuhan dalam realitas berpijaknya. Nilai demikian akan menyadarkan umat Tuhan pada proses identifikasi diri sebagai orang yang percaya, yang meyakini ajaran Yesus. Langkah terpenting tersebut, menuntut daya kritis seseorang untuk menyadari potensi diri, bakat, kekuatan sehingga menggelorakan passion, panggilan jiwa guna mewujudkan cara beradanya.

Pemberian identitas demikian, hendak mendorong kesadaran murid-murid Yesus untuk berani memengaruhi masyarakat. Identitas demikian didasarkan pada fungsi garam yang memperbaiki rasa, membangun sel-sel agar tetap baik, menjaga agar tubuh tidak busuk, menjaga realitas agar semakin baik dan berkualitas.

Pemberian dan internalisasi nilai dari identitas dimaksud hendak memuliakan kehidupan dengan menempatkan diri pada level tertinggi kehidupan sebagai bagian dari realitas sosial berpijaknya. Yesus menempatkan murid-murid pada kualitas personal layaknya "garam". Yesus tahu betul bahwa murid-Nya mempunyai potensi diri dalam kemampuan beradaptasi. Suatu teknik cara berada terpenting dalam membangun peradaban masa kini tanpa kehilangan jati diri.

Identitas garam juga menempatkan murid-murid untuk mengembangkan potensi dirinya dalam menghadapi masalah serta memaksimalkan daya pengaruhnya guna memperbaiki kehidupan. Daya adeversitias (kualitas adversity) demikian akan sangat kuat menempatkan orang Kristen untuk memengaruhi, membangun masarakat beradab, damai, makmur, adil dan sejahtera. Itulah salah satu kandungan ekspektasi pencapaian makna idenitas diri dimaksud.

Garam Selalu Minoritas
Pemberian identitas sosial yang bersifat aksiomatis demikian juga menuntut kualitas kwantitatif garam dalam realitas sosialnya. Ukuran garam pada suatu komunitas tidak boleh dominan sehingga menjadi sesuatu yang bersifat mayoritas. Tetapi, walaupun garam berada pada jumlah minoritas, fungsi dan esensi garam mampu memengaruhi yang mayoritas.

Pada keyakinan demikianlah Tuhan Yesus menyerukan agar gereja dan umat yang percaya pada-Nya menyadari cara berada dan fungsinya sehingga dinamika politik demokrasi akan bertujuan pada kekuasaan berwajah konstruktif. Kehadiran orang Kristen harus mampu menjaga sistim dan praktek politik agar tidak menjadikan masyarakat menjadi busuk karena korupsi, relasi sosial menjadi tawar karena doktrin yang sektarian.

Dengan cara berada demikian, umat yang percaya pada Yesus akan diberi keyakinan untuk memperoleh sesuatu yang bermakna besar, menghasilkan berkat yang besar walau hanya mengerjakan hal-hal terkecil. Itu berarti, walaupun garam sebagai kaum minoritas, orang Kristen dalam cara beradanya harus mampu memberikan pengaruh, daya proteksi pembusukan, sehingga kekuasaan dipraktekkan pada wajah konstruktif demi pembangunan bangsa. Semoga. (h)



SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru
Sampah Menumpuk di Harangan Gotting

Sampah Menumpuk di Harangan Gotting

Simalungun(harianSIB.com)Sampah menumpuk di jurang Harangan Gotting wilayah Kecamatan Purba, Kabupaten Simalungun, Rabu (15/4/2026). Kondisi