Siapa mencintai uang tidak akan puas dengan uang dan siapa mencintai kekayaan tidak akan puas dengan penghasilannya. Ini pun sia-sia. (Ayat 9).
Renungan ini akan diawali dengan sebuah lagu rohani yang sering dinyanyikan di sekolah Minggu:
"Apa yang dicari orang? Uang! Apa yang dicari orang? Uang!
Apa yang dicari orang, pagi, siang, sore, malam? Uang, uang, uang, bukan Tuhan Yesus!"
Dewasa ini kita hidup dalam satu dunia yang bisa menempatkan uang di atas segala-galanya. Menjadi kaya, hidup mewah telah menjadi cita-cita yang mendorong banyak manusia berkompetisi. Tanpa sadar manusia sudah menjadikan uang sebagai berhala modern. Segala sesuatu yang kita jadikan sebagai nilai utama bagi hidup kita akan menjadi 'berhala' bagi kita. Dewasa ini manusia menjadikan uang sebagai nilai utama. Ungkapan yang berbunyi:"Siapa tidak memiliki apa-apa, dia adalah tidak apa-apa, siapa memiliki apa-apa, maka dia adalah apa-apa", merupakan salah satu indikasi gejala itu.
Berbagai ungkapan mengenai uang kita temukan di kalangan masyarakat. Orang Inggris berkata: "Money is a good servant, but is a bad master"(Uang adalah hamba yang baik, tetapi tuan yang jahat). Orang Batak berkata: "Habang so marhabong, manginsir do marpat, ibana naumburju, alai ibana do naunjungkat"(Terbang tidak punya sayap, berjalan tak berkaki: dia yang paling baik, tetapi dia yang paling jahat). Orang Tionghoa mengatakan: "Tidak ada tembok besi yang tidak dapat ditembus oleh peluru emas." Peluru emas yang dimaksud di sini adalah uang.
Namun perlu kita renungkan: "Apakah semua dapat dibeli dengan uang? Tidak.Uang dapat membeli tempat tidur, tetapi tidak dapat membeli tidur, uang dapat membeli makanan, tetapi tdk dapat membeli selera; uang dapat membeli obat, tetapi tidak dapat membeli sehat. Jelas, uang tidak menjamin kebahagiaan manusia, bahkan uang itu dapat menghancurkan manusia. Apa kata Alkitab tentang uang? Penulis kitab Pengkhotbah merenungkan: "Apa maksud kehidupan manusia di dunia fana, dan mengungkapkan perasaan bahwa segala sesuatu adalah sia-sia". Dikatakan: Siapa mencintai uang tidak akan puas dengan uang, dan sipa mencintai kekayaan tidak akan puas dengan penghasilannya. Ini pun sia-sia. Dengan bertambahnya harta, bertambah pula pula orang-orang yang menghabiskannya. Dan apakah keuntungan pemiliknya selain dari melihatnya? (Ayat 9-10). Lebih lanjut dia mengatakan: "Ada kemalangan yang menyedihkan kulihat di bawah matahari; kekayaan yang disimpan oleh pemiliknya menjadi kecelakaannya sendiri. Dan kekayaan itu binasa oleh kemalangan, sehingga tak ada suatu pun padanya untuk anak-anaknya." (ayat 12-13).
Seperti banyak manusia pada masa kini dia mengalami depresi dan frustrasi. Boleh dikatakan dia seorang pesimis. Namun demikian dia tidak putus asa, sebaliknya dia berusaha mencari suatu patokan untuk hidup yang berarti. Dia membulatkan hatinya untuk memeriksa dan menyelidiki dengan hikmat segala yang terjadi di bawah langit (Pkh 1:13) Dia meneliti pekerjaan, kesenangan, kemakmuran, kehormatan dan juga hikmah sendiri dan menarik kesimpulan bahwa semuanya itu tidak memuaskan kerinduan hati manusia. Tetapi dia tetap percaya kepada Allah dan yakin bahwa rencana Allah akan dilaksanakan pada waktunya. Akhirnya, dia menasihati supaya manusia bekerja keras, takut akan Allah dan menikmati pemberian-pemberian Allah selama hidup. "Enak tidurnya yang bekerja, baik ia makan sedikit maupun banyak..." (ayat 11).
Apa kata Alkitab tentang uang? Alkitab tidak pernah mengatakan, bahwa uang itu dosa. Bahkan Alkitab mengatakan bahwa uang itu adalah pemberian Allah.
Alkitab hanya mengaitkan supaya hati-hati dengan uang. Yakobus mengatakan: "Karena akar segala kejahatan ialah cinta uang. Sebab oleh memburu uanglah beberapa orang telah menyimpang dari iman dan menyiksa dirinya dengan berbagai-bagai duka" (1 Tim.6:10). Manusia boleh memiliki uang, tetapi dilarang mencintai uang. Karena itulah Yesus mengingatkan orang-orang kaya degan teguran pedas: "Sebab lebih mudah seekor unta masuk lobang jarum dari pada seorang kaya masuk ke dalam Kerajaan Allah" (Luk.18:25). Masalahnya adalah: "Karena di mana hartamu berada, di situ juga hatimu berada" (Luk.12:34). Yesus mengingatkan hubungan yang erat antara harta dengan hati. Problemanya adalah di mana kita taruh harta kita, maka di situlah hati kita. Jika perkara-perkara duniawi (uang,dsb) kita klaim sebagai harta kita, maka hati kita pun akan terpaut pada harta duniawi kita. Dan jika hati kita itu kita berikan bukan kepada Allah, tetapi kepada harta, maka kita tidak mungkin mendapat tempat di Kerajaan Allah.
Selanjutnya, menurut Alkitab, bagaimana seharusnya sikap kita terhadap harta dan uang? Apa yang harus kita lakukan agar uang kita tidak menghancurkan hidup kita? Alkitab mengatakan, bahwa harta atau uang itu adalah pemberian Allah yang harus dipertanggungjawabkan. Dalam hal ini, manusia adalah penatalayan yang harus siap sedia mempertanggungjawabkan tugas tersebut. Yesus mengajarkan bahwa cara satu-satunya mempertanggungjawabkan uang kita itu ialah membagi-bagikannya kepada orang miskin. Allah mempertemukan orang kaya dan orang miskin di dunia ini agar mereka saling menolong (Ams.22:2). Dalam hal ini orang kaya menolong orang miskin untuk hidup di dunia; dan orang miskin menolong orang kaya untuk hidup di akhirat (Mat.25:31) Sesungguhnya Alkitab mengajarkan satu ukuran hidup yang normal yang "cukup". Yesus mengajarkan kita berdoa: "Berilah kami pada hari ini makanan kami secukupnya". Apa artinya kata "berikanlah kami pada hari ini makanan kami yang secukupnya"? Maksudnya adalah: Sesungguhnya Allah selalu membeir makanan sehari-hari kepada kita walaupun kita tidak minta, demikian juga kepada semua orang jahat. Tetapi kita minta di dalam doa, supaya Dia membimbing kita untuk menyadarinya dan menerimanya dengan ucapan syukur dan terimakasih. Itulah yang kita mintakan.
Doa: Jangan berikan kepadaku kemiskinan atau kekayaan. Berikanlah aku menikmati makanan yang menjadi bagianku! Amin. (r)