Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Kamis, 16 April 2026
Kesyahduan Sudah Terasa Menjelang Natal

Vatikan Angkat Tema Natal Soal Tiga Isu Penting

* Sambut Adven, Perayaan Pesta Besar Kristus Raja
- Minggu, 27 November 2016 21:43 WIB
555 view
Roma (SIB)- Merayakan Natal menjadi tradisi tahunan yang digelar Gereja Katolik, Vatikan, Roma. Meski Natal masih tinggal sebulan ke depan, namun suasana kesyahduan sudah terasa di gereja St. Petrus. Seperti dikabarkan Radio Vatikan, tahun ini Gereja Katolik menetapkan tema Natal seputar isu lingkungan, krisis pengungsi dan orang-orang sakit.

Natal ini akan disambut dengan penayangan layar berisi momen pemasangan pohon Natal setinggi 25 meter yang disertai dengan pembukaan perayaan Natal 2016 Vatikan pada 9 Desember 2016 mendatang.

Sebagai bentuk penghargaan kepada generasi muda dan yang sedang menderita sakit, pohon Natal ini akan dimeriahkan dengan ornamen bergambar buatan tangan anak-anak penderita kanker dan penyakit lainnya. Anak-anak ini merupakan pasien yang dirawat di rumah sakit Italia. Tak pelak, Natal kali ini juga terbilang unik karena Vatikan juga menggelar aksi peduli alam dengan mengganti pohon cemara yang diambil untuk pohon Natal dari Trentino, Italia Utara, dengan  menanam yang baru dengan sebanyak 40 bibit pohon cemara dan pinus.

Sementara itu, Vatikan juga akan memajang 17 patung yang mengenakan jubah tradisional Malta yang menggambarkan adegan kelahiran sang juru slamat. Di sana juga dipajang replika perahu warna warni Malta kuno. Perahu ini menjadi gambaran perjalanan para imigran dan pengungsi yang menyeberangi perairan berbahaya menuju Italia hanya dengan kapal yang begitu sederhana.

Tepat di acara penyalaan lampu Natal nanti, Paus rencananya akan menghadirkan Manwel Grech, penata adegan kelahiran Yesus, dan juga anak-anak penderita kanker untuk membuat hiasan pohon Natal. Pohon Natal itu akan tetap menyala di Lapangan St. Petrus sepanjang Natal hingga puncak acara Pembaptisan pada 8 Januari 2017 mendatang.

Sambut Adven
Menyambut Adven, seluruh gereja di dunia menggelar pesta besar pengakuan bahwa Kristus adalah Raja atau disebut dengan The Feast of Christ the King. Sejak diresmikan pada tahun 1925, pesta tradisional ini selalu dirayakan secara bersama-sama oleh denominasi gereja.

Perayaan ini pertama kali dibuat oleh Paus Pius XI yang saat itu menjabat sebagai pemimpin Gereja Katolik. Paus menetapkannya sebagai bentuk pencegahan terhadap peningkatan modernisasi dan sekulerisme masyarakat pada saat itu. Dalam pernyataannya Paus Pius XI mengatakan, "Sementara bangsa-bangsa menghina nama Sang Penebus kita dengan membuat penekanan-penekanan dalam konferensi-konferensi dan parlemen mereka, kita semua harus lebih keras memproklamasikan martabat dan kuasa raja kita, segala yang ada di dunia ini adalah kekuasaan-Nya."

Sejak The Feast of Christ the King ini digelar, terbukti berhasil menekan penurunan sekularisme, setidaknya di dunia Barat. Namun di abad-abad ketika munculnya berbagai bentuk pemerintahan diktator yang mengakui kekuasaan ilahi, perayaan ini menjadi menyimpang.

Dalam sejarahnya, pesta ini dilakukan setiap bulan Oktober satu minggu sebelum Adven dan fokus untuk merayakan sejarah keselamatan dan menempatkan Yesus sebagai simbol harapan orang percaya. Di perayaannya sendiri, pihak gereja akan menyanyikan himne tentang Yesus dan juga mengumandangkan harapan masa depan bagi orang percaya.

Meski banyak pandangan berlawanan dengan pesta ini, gereja-gereja di seluruh dunia tetap saja merayakannya seminggu sebelum masa adven. Namun gereja mengubah fokus perayaan kepada pengakuan akan Kerajaan Kristus sebagai pengingat akan prioritas utama dalam hidup sebelum memasuki masa adven.(Jb.com/ r)
SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru
Sampah Menumpuk di Harangan Gotting

Sampah Menumpuk di Harangan Gotting

Simalungun(harianSIB.com)Sampah menumpuk di jurang Harangan Gotting wilayah Kecamatan Purba, Kabupaten Simalungun, Rabu (15/4/2026). Kondisi