Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Kamis, 16 April 2026

Komitmen Menjaga Perdamaian

* Oleh : Pdt Dr Luhut P Hutajulu
- Minggu, 08 Januari 2017 21:04 WIB
845 view
Perdamaian sangat penting bagi kehidupan manusia. Mewujudkan kehidupan yang jauh dari permusuhan, konflik da sengketa.
Abdurrahman Wahid pernah mengatakan:

"Prinsip mendasar dalam rekonsiliasi adalah pengampunan terhadap lawan politik. Dengan adanya pengampunan, segala masalah dapat diselesaikan dan bersama-sama membangun masa depan suatu bangsa"

Bahwa dasar rekonsiliasi adalah pengampunan, dan ini sudah terbukti ampuh di Afrika Selatan. Ketika Nelson Mandela, yang disiksa lawan-lawan politiknya selama beberapa puluh tahun terpilih menjadi presiden, dia justru mengampuni musuh-musuhnya itu. Kata  Mandela "Tanpa ada pengampunan maka tidak ada masa depan bagi Afrika Selatan". Pengampunan terhadap lawan-lawan politik seperti dipraktekkan  juga di Korea Selatan. Segera sesudah Kim Dae Jung terpilih menjadi presiden, dia memberikan grasi kepada dua mantan presiden yang pernah menindas dan memenjarakannya. Tindakan pengampunan kepada musuh-musuh yang dilakukan kedua pemimpin di atas sangat penting artinya dalam rangka rekonsiliasi di kedua Negara tersebut.

Pertanyaan kita ialah, apakah contoh kasus Afrika Selatan dan Korea Selatan ini relevan dengan kasus Indonesia sekarang? Kalau kita berbicara tentang rekonsiliasi di Indonesia, siapakah yang harus mengampuni? Siapakah yang sedang berlawanan dengan siapa? Di Afrika Selatan, secara umum yang berlawanan itu adalah kulit putih dengan kulit hitam (konflik rasial). Di Korea Selatan, yang berseteru adalah pemerintah diktator (militer) dengan para pemimpin pergerakan untuk demokrasi.

Persoalan di Indonesia memang agak kompleks. Sulit sekali mengidentifikasikan siapa yang sedang berseteru. Namun demikian, tidak dapat ditutupi bahwa bangsa kita sedang terkoyak-koyak, karena pemilihan presiden yang baru lewat. Untuk itulah upaya rekonsiliasi patut diprakarsai di Indonesia ini. Sudah waktunya agama-agama berperan penting untuk menggali warisan agama yang dapat dikembangkan dalam rangka mendorong upaya rekonsiliasi. Di Indonesia terdapat agama: Islam, Kristen, Hindu, Buddha dan Kong Hu Cu. Kita yakin bahwa di dalam Kitab Suci agama-agama itu pastilah ada ajaran mengenai rekonsiliasi dan pengampunan.

Di dalam Agama Kristen dapat menyumbangkan ajaran tentang pengampunan (forgiveness) sebagai prasyarat untuk rekonsiliasi. Hannah Arendt, seorang ahli filsafat politik Yahudi, menegaskan bahwa,The discoverer of role of forgiveness in the realm of human affairs was Jesus of Nazareth" (Penemu ajaran tentang pengampunan dalam hubungan antar manusia adalah Yesus dari Nazaret). Salah satu inti pengajaran Yesus adalah pengampunan. Dalam Khotbah di Bukit, Dia  mengajarkan murid-murid-Nya berdoa, "dan ampunilah kami akan kesalahan kami, seperti kami juga mengampuni orang yang bersalah kepada kami" (Mat.6:12). Allah akan mengampuni dosa seseorang bila orang itu sudah mengampuni orang lain yang bersalah kepadanya. Ketika Petrus (salah seorang murid-Nya) menanyakan apakah sudah cukup mengampuni seseorang yang bersalah sebanyak tujuh kali (sesuai dengan aturan Yahudi), Yesus mengatakan tidak cukup sampai tujuh kali, tetapi tujuh puluh kali tujuh kali (Mat.18:22). Artinya, tidak ada batas untuk pengampunan. Untuk segala hal kita perlu belajar, termasuk untuk bertabiat damai. Salah satu dimensi Pendidikan Agama Kristen (PAK) adalah Pendidikan Kedamaian" yang mencakup segala golongan usia. Titik berangkat Pendidikan Kedamaian adalah konsep Alkitab bahwa kedamaian merupakan hubungan yang utuh dengan Tuhan, sesama manusia, alam dan dengan diri sendiri. Tujuan Pendidikan Kedamaian adalah menumbuhkan gaya hidup yang inklusif, adil dan menghargai hak keberadaan tiap orang tanpa pembedaan apa pun.

Secara praktis tujuan Pendidikan Kedamaian adalah memampukan kecakapan menganalisis konflik, mempertimbangkan pilihan solusi serta mempraktikkannya dalam persoalan di rumah, di tempat kerja dan sebagainya. Model Pendidikan Kedamaian bagi kita adalah diri Yesus sendiri. Ia hidup dalam masyarakat yang memendam kebencian karena prasangka antara orang Yahudi dan Samaria, serta konflik laten antara militant Yahudi melawan pasukan Roma. Namun Yesus tidak pernah memanaskan dan menghasut suasana permusuhan. Sebaliknya Ia malah mendamaikan. Ia  tidak ikut-ikutan menyingkirkan, melainkan justru menerima dan merangkul orang yang tersingkir. Ia membawa damai. Kata-Nya, "Berbahagialah orang yang membawa damai..." (Mat.5:9). Kristus datang untuk membawa mendamaikan surga dan dunia. Tugas membawa damai itu diserahkan kepada gereja dan orang percaya. Tentang pelayanan pendamaian itu. Rasul Paulus menulis, "Dan semuanya ini dari Allah, yang dengan perantaraan Kristus telah mendamaikan kita dengan diri-Nya dan yang telah mempercayakan pelayanan perdamaian itu kepada kami." (2 Kor.5:18).

Kuasa pengampunan yang diajarkan Yesus itu memang luar biasa. Ini dapat kita lihat sewaktu Yesus disalibkan. Di sekitar bukit Tengkorak (Golgata) tempat Yesus disalibkan serdadu-serdadu mengolok-olok Dia. Pemimpin-pemimpin Yahudi mengejek-Nya"...Orang lain Ia selamatkan, biarlah sekarang Ia menyelamatkan diri-Nya sendiri, jika Ia adalah Mesias, orang yang dipilih Allah" (Luk.23:35). Pada puncak penghinaan dan penderitaan itu, Yesus mengucapkan sebuah doa kepada Bapa-Nya, "Ya Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat" (Luk.23:34). Mendengar doa yang "aneh" ini seorang penjahat yang tersalib di sebelah kanan-Nya langsung berubah (bertobat) dan memohon kepada Yesus,"Yesus, ingatlah akan aku, apabila Engkau datang sebagai Raja. (Luk.24:42) "Mengapa penjahat itu berubah (bertobat)? Dia terharu karena Yesus mendoakan musuh-musuh-Nya. Bagi orang Yahudi dan bagi peradaban dunia pada waktu itu, hukum yang berlaku adalah hukum pembalasan: mata ganti mata, gigi ganti gigi. Dasarnya adalah hukum pembalasan demi keadilan (Kel.21:24). Tetapi Yesus mengajarkan hukum yang baru: "...Kasihilah musuhmu, berbuatlah baik kepada orang yang membenci kamu, mintalah berkat bagi orang yang mengutuk kamu; berdoalah bagi orang yang mencaci kamu" (Luk.6:27-28). Di dalam hidup kita ada beban yang mengganggu lari kita dan mengganggu ketenteraman hati kita. Yang pertama adalah kalau kita menyimpan-nyimpan dosa kita, tanpa membereskannya dengan Tuhan. Yang kedua adalah, kalau kita  menyimpan dosa-dosa orang lain. Tidak atau belum bisa mengampuni dosa orang lain. Mungkin kita bisa mengampuni atau memaafkan. Tetapi apa kita bisa melupakan? O, sulitnya! To forgive, yes. But to forget, no. Di dalam bahasa Batak Toba, kata mengampuni ialah "manesa", yang menekankan harus diampuni dan dilupakan.

Di mana ada pengampunan di situ ada damai dan rekonsiliasi. Seruan bertobat, pengampunan  dan perdamaian disertai optimisme dan pengharapan dapat kita lihat di dalam Kitab Mikha yang  bernubuat tentang kedamian asal semua pihak "berlaku adil, mencintai kesetiaan dan hidup dengan rendah hati di hadapan Allahmu" (Mikha 6:8). Di dalam kitab Mikha ditutup dalam tiga ayat terakhirnya dengan doksologi atau nyanyian pujian (Mikha 7:18-20). Namun puncak dari semua kata-kata Mikha adalah nubuat tentang perdamaian tadi yang terdapat di Mikha 4:3.

Apa yang bisa kita lakukan? "Yang terbaik yang dapat kita berikan kepada seorang sahabat adalah hati kita; kepada anak, keteladanan kita; kepada ibu, kelakuan baik; kepada ayah, hormat; kepada diri sendiri, respek; kepada lawan, toleransi; kepada musuh, pengampunan; dan kepada semua orang, kemurahan hati."  (Penulis, pendeta di HKBP Taman Mini Jakarta/ r)
SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru
Sampah Menumpuk di Harangan Gotting

Sampah Menumpuk di Harangan Gotting

Simalungun(harianSIB.com)Sampah menumpuk di jurang Harangan Gotting wilayah Kecamatan Purba, Kabupaten Simalungun, Rabu (15/4/2026). Kondisi