Sebagaimana biasanya, dalam pergantian tahun lama ke tahun baru, selalu ada ekspresi atau suasana batin yang berbeda-beda dalam hati banyak orang. Sebagian orang akan mengekspresikan hasratnya dengan pesta pora, menikmati makanan dan minuman dalam menu dan jumlah yang berbeda dari biasanya. Ada pesta kembang api, pesta rakyat, penuh sukacita meramaikan atmosfir pergantian tahun 2016 memasuki tahun 2017.
Sebagian orang lagi, menempatkan dirinya pada tapa syukur dengan bertelut dalam ibadah. Menyanyikan lagu syahdu ditandai air mata dan gejolak batin pertanda adanya kesedihan, penyesalan sekaligus adanya optimis akan hidup lebih bahagia dari tahun yang sudah dijalani. Pada ekspresi batin atas siklus pergantian tahun inilah, gereja selalu menyerukan umat Tuhan, agar pada malam pergantian tahun, melaksanakan ibadah akhir tahun melalui acara keluarga.
Dengan moment demikian, gereja hendak mendorong umat Tuhan pada sebuah kesadaran akan makna dari waktu dalam wujud "Kairos". Di dalam pemahaman akan Kairos, terkandung makna suatu anugerah, adanya berkat, mujizat, akan kuasa Tuhan yang memberi hidup secara berkesinambungan. Pemaknaan waktu sebagai Kairos, akan menjadikan hidup bukan pada kehidupan sirkulatif, yang selalu berulang ditandai air mata penderitaan.
Tetapi, dengan adanya kontemplasi diri dalam tapa sujud syukur, maka umat Tuhan disadarkan pada pemahaman akan waktu sebagai sebuah kesempatan yang tidak sirkulatif tanpa beresensi tetapi makna kehidupan yang berjalan pada tujuan yang sudah dijanjikan oleh Tuhan Allah. Pemaknaan waktu demikian, akan memampukan umat beriman dengan buah-buah yang baik dan dimampukan untuk meninggalkan yang lama. "Sebab yang lama sudah berlalu dan sesungguhnya yang baru telah tiba".
Itu berarti bahwa waktu adalah kehidupan dan hidup adalah pemberian Tuhan yang harus dihargai dengan memuliakan kehidupan itu sendiri. Kita tidak dapat mengulang kehidupan yang kita lewati, yang ada hanyalah "apakah perjalanan hidup kita selalu ditandai dengan tanda dan buah dari anugerah Tuhan?"
Maka, waktu adalah momentum yang harus dimanfaatkan, digunakan sebaik-baiknya. Sekali terjadi selanjutnya tidak akan terulang. Baik derita, suka dan duka semuanya menjadi bagian dari kehidupan yang harus dimaknai sebagai umat Tuhan.
Pemaknaan akan waktu akan menempatkan setiap umat beriman dalam perjalanan, jejak hidupnya pada kehidupan yang produktif. Sebab waktu adalah momentum produktif yang Tuhan berikan guna kebahagiaan dan berkat bagi sesama. Sebagai anugerah, peristiwa hidup harus dilihat dan dimaknai dari maksud dan cara Tuhan. Jika hidup ditandai dengan problem besar, itu berarti kita diajar dan diharapkan Tuhan untuk lebih waspada, bertanggungjawab sehingga mendewasakan iman dan menjadi pribadi yang tangguh.
Oleh karenanya, kita mengafirmasi, catatan inspiratif buku Have A Great Day, Norman Vincent Peale. Menurut motivator terkemuka ini bahwa, "Masalah merupakan pertanda adanya kehidupan. Jadi, bergembiralah jika Anda menghadapi masalah. Itu berarti Anda hidup. Jika Anda tidak punya masalah, sebaiknya Anda berlutut dan berkata: 'Tuhan, Engkau sudah tidak percaya lagi kepadaku? Beri aku masalah!"
Itu juga berarti bahwa kehidupan adalah karunia, berkat Tuhan. Sebagai sebuah anugerah, suatu pemberian maka pengakuan demikian harus terus menyadarkan manusia untuk memaknai waktu pada kehidupan yang bermakna. Proses pergulatan iman ini akan mendorong umat beriman untuk berani keluar dari zona nyaman lalu mendorong umat beriman agar berani menghadapi penderitaan demi kemenangan di dalam Tuhan.
Implikasinya, umat Tuhan didorong untuk beranjak dari hasrat hidup pada makna Kronos menuju kehidupan yang dimaknai sebagai Kairos. Kronos (dari kata Yunani) sebagai urutan yang bersifat kontinu, urutan waktu, tahun, bulan, minggu, hari, jam dan seterusnya. Waktu dalam wujud kronos, dimaknai sebagai hidup yang biasa dan tidak perlu ada perubahan dan tak bermakna. Sedangkan waktu dalam wujud Kairos dimaknai sebagai kesempatan untuk menjalani kehidupan yang selalu berubah dan bersifat produktif atas karunia sang Ilahi.
Iperatif iman demikian akan berimpliakasi bahwa waktu dalam wujud Kairos, akan menempatkan manusia pada dunia berpijak yang bermoral, beretika dan bertanggungjawab. Itu juga berarti manusia diajak untuk memahami waktu sebagai realitas pergulatan sejarah kehidupan manusia yang bijaksana. Pengakuan demikian, telah diungkapkan oleh Musa, "Ajarlah kami menghitung hari-hari kami sedemikian, hingga kami mempunyai hati yang bijaksana" (Mzm. 90:12). Sebuah keyakinan iman Musa ketika membawa bangsa Israel keluar dari zona nyaman di Mesir menuju zona iman di Tanah Kanaan.
Kini, kita sebagai umat beriman yang memaknai waktu sebagai Kairos telah memasuki Tahun Baru 2017, sebagai tahun yang dikaruniai Tuhan. Maka tahun 2017 adalah momentum hidup untuk bekerja keras dan produktif sebagai buah dari pergulatan iman dalam realitas hidup. Maka tahun 2017 adalah tahun pemberian Tuhan bagi kita sebagai kesempatan untuk memaknai momentum itu sendiri dan kepada kita diberi kesempatan; Apakah menjadi manusia dewasa yang produktif? Apakah umat Tuhan akan menjalani tahun 2017 dengan mengandalkan kuasa dan Anugerah Tuhan?
Itu berarti, kita diundang menjalani dan memaknai waktu dalam wujud Kairos dan menyadarkan kita bahwa hidup bukan untuk berfoya-foya walaupun dalam diri kita selalu ada gejolak, nafsu agar menikmati hidup dengan sesuka hati. Tetapi, Allah dengan segala rencana-Nya, telah membawa kita, meninggalkan tahun yang lama tahun 2016 dan memberi kita kesempatan sekaligus pengharapan bahwa dalam menjalan hidup di tahun 2017 menjadi tahun berjejakkan Anugerah Tuhan. Amin. (f)