Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Kamis, 16 April 2026
RENUNGAN

Keselamatan untuk Keadilan

* Oleh Pdt Sunggul Pasaribu, STh.
- Minggu, 29 Januari 2017 18:09 WIB
308 view
Keselamatan untuk Keadilan
Pdt Sunggul
Seorang pengemis buta sangat taat dan secara berkala beribadah di sebuah tempat peribadatan tertentu. Pada hari yang sama, ia selalu mengosongkan dari mangkoknya, berapa pun jumlah uang receh yang telah diterimanya saat ia mengemis, dan mempersembahkannya bagi rumah ibadat tersebut. Sang imam kepala rumah ibadat tersebut memperhatikan ketaatan sang pengemis, dan karena ingin membesarkan hati sang pengemis, pada suatu hari sang imam berkata :
"Wahai pengemis, sang Illahi berkenan dengan ketaatanmu dan persembahanmu. Sang Illahi mengatakan akan menganugerahkan kepadamu karunia apa pun yang engkau minta. Akan tetapi ingatlah, engkau hanya boleh meminta satu hal."

Sang pengemis kegirangan mendengar pesan yang demikian menakjubkan. Ia langsung merenungkan karunia apa yang hendaknya ia minta. Akan tetapi, semakin ia merenungkannya, ia semakin bingung, sebab demikian banyak hal yang ia rasa butuhkan ; penglihatan, kekayaan, umur panjang, seorang istri, anak-anak dan sebagainya.

Akan tetapi, ia adalah seorang pria yang cerdas dan setelah melakukan meditasi serius, ia merasa bahwa ia hendaknya meminta segala hal yang selama ini ia lewatkan dalam kehidupan. Lalu ia pergi ke rumah ibadat itu dan mengatakan kepada sang imam :
"Wahai bapak Pendeta yang suci, terimakasih telah mendoakan saya kepada sang Illahi untuk menganugerahkan karunia kepada saya. Sekarang saya mau meminta satu hal saja."

"Silahkan mengutarakannya, maka angan-anganmu akan dipenuhi." Demikian sang orang kudus berseru kepada sang pengemis.

Nah, permohonan saya sederhana saja. Saya mohon agar sebelum saya meninggal, saya melihat cucu putra saya tinggal di sebuah rumah enam lantai, minum susu dan makan nasi yang harum dari mangkuk emas.

Demikianlah sang pengemis cerdas benar-benar meminta penglihatan, keluarga, sebuah istana, umur panjang, dan kebahagiaan. Dan angan-angannya pun akhirnya terpenuhi.

Cerita illustrasi di atas menggambarkan ; sikap seorang yang beribadah mampu memberikan persembahan meski orang tersebut adalah seorang yang miskin, buta, dan pengemis. Rupanya, Tuhan tidak melihat sisi kelemahan, atau kekurangan manusia. Tetapi, sang Illahi lebih menilai perbuatan dan pengorbanannya. Akhirnya, ia pun menerima imbalan atas persembahan dan pengorbanannya sesuai dengan permohonan yang dijanjikan sang Illahi. Artinya, Keselamatan itu diperuntukkan bagi mereka yang sungguh-sungguh bermohon disertai dengan sikap Ibadah dan persembahan. 

Pada konteks ke-Kristenan kita, bahwa keselamatan akan diberikan kepada mereka yang meminta dari hati yang terdalam, meminta bukan hanya untuk kepentingan diri sendiri, meminta dengan semangat heroik, meminta untuk kebaikan dan kesejahteraan sesama. Meskipun pada saat meminta kita merasa ada kelemahan, dan kekurangan. Allah akan melihat dan mempertimbangkan  hati yang murni dan tulus pada saat kita memohon untuk keselamatan. 

Ingatlah, keselamatan Allah dinyatakan kepada mereka yang sakit, yang menderita, yang teraniaya, yang diburu-buru oleh ketidakdilan, yang bersaksi tentang kebenaran Kristus, mereka yang diperlakukan sewenangwenang, yang merasa dirinya berdosa.

Adapun salah satu pernyataan Allah terhadap keselamatan orang percaya tertulis dalam Yohannes 3:16, : "Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal."
Allah kita adil kepada orang yang membutuhkan keselamatan, kehidupan, dan sukacita asalkan kita memintanya dengan hati yang sungguh-sungguh dan ketulusan hati yang terdalam. Allah memngutus AnakNya, Yesus Kristus untuk menjadi Juru S'lamat manusia. Untuk kepentingan keselamatan itu pula Allah menjadi manusia di dalam diri Yesus Kristus yang sedang kita rayakan pada saat ini.

Dalam suasana Natal sekarang, keselamatan apakah yang sudah kita kerjakan terhadap sesama, terhadap orang lain, terhadap orang banyak, terhadap orang yang menderita, terhadap orang miskin, terhadap orang yang sakit, terhadap orang yang di tahanan (penjara). Kita diingatkan kiranya setiap perayaan Natal hendaknya mempunyai dampak sosial yang membuahkan sukacita bagi sesama dan menjadi kemuliaan bagi Allah sang Raja. Amin.! (f)


SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru
Sampah Menumpuk di Harangan Gotting

Sampah Menumpuk di Harangan Gotting

Simalungun(harianSIB.com)Sampah menumpuk di jurang Harangan Gotting wilayah Kecamatan Purba, Kabupaten Simalungun, Rabu (15/4/2026). Kondisi