Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Sabtu, 18 April 2026

Ketika Pendeta Batak Bertemu Raja Arab Saudi

* Oleh: Sahat P. Siburian
- Minggu, 19 Maret 2017 16:31 WIB
1.289 view
Ketika Pendeta Batak Bertemu Raja Arab Saudi
SIB/satuharapan.com
Pdt. Gomar Gultom, MTh (kanan) hendak bersalaman dengan Raja Salman.
Seorang pendeta Batak, Pdt. Gomar Gultom MTh bertemu dengan Raja Arab Saudi, Salman bin Abduaziz al-Saud, Jumat (3/3) di Jakarta. Ia hadir bersama 28 tokoh. Terdiri dari 9 pemuka agama Islam, masing-masing 4 pemuka agama Kristen, Hindu, Budha, Katolik serta 3 pemimpin Konghucu. Mereka memenuhi undangan Presiden Joko Widodo untuk menghadiri pertemuan tokoh-tokoh lintas agama di Indonesia bersama Raja Arab Saudi.

Para tokoh lintas agama itu terbilang sebagai representasi dari para penganut agama di Indonesia. Pdt. Gomar Gultom representasi dari tokoh pemeluk agama Kristen. Ia hadir dalam kapasitas sebagai Sekretaris Umum Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia (PGI). Namun dalam dirinya niscaya melekat pula identitas pendeta Batak. Ia merupakan seorang pendeta Huria Kristen Batak Protestan (HKBP).

Pertemuan tersebut telah mencatatkan nama seorang pendeta Batak dalam sejarah hubungan lintas agama. Ia menjadi pendeta Batak pertama yang bersalaman dan berbincang dengan Raja Salman, seorang tokoh sentral dalam dunia internasional, utamanya dalam ruang sosial umat Islam.

Pdt. Gomar Gultom telah merangkai ikhtisar pertemuan tersebut dalam tulisan bertajuk "Catatan Pertemuan Tokoh Lintas Agama dengan Raja Salman bin Abduaziz al-Saud dari Saudi Arabia"; "Raja Salman Mengajak Umat Manusia Memerangi Radikalisme, Kekerasan dan Ekstrimisme". Tulisan ini dapat diakses dalam situs Suarakristen.com dan website PGI, pgi.or.id.

Pertemuan itu juga mendapat liputan luas dari berbagai media cetak dan elektronik. Disajikan dalam format berita serta opini yang memuat tanggapan dari sejumlah pimpinan agama dan pemerhati sosial keagamaan. Mereka memandang positif dan mengapresiasi pertemuan tersebut.
Namun kalangan gereja-gereja Batak rupanya memilih tidak mengajukan tanggapan apapun. Ini terindikasi dari penelusuran atas sajian media massa, tidak ditemukan sepenggal pandangan dari jajaran pimpinan gereja-gereja Batak. Ketiadaan ini boleh jadi karena Batak kurang akrab dengan media massa. Tetapi mungkin juga karena gandrung berfokus pada urusan internal, sehingga nyaris sulit membagi waktu untuk merespons peristiwa-peristiwa faktual kehidupan masyarakat.

Seuntai Makna
Komunikasi tatap muka tokoh lintas agama di Indonesia dan Raja Arab Saudi menuai simpati dari para pemerhati sosial keagamaan. Momen interaksi itu dipandang bukan sebatas ritual formal belaka, melainkan menggemakan seuntai makna simbolik berbalut pesan substantif.

Cakupan makna maupun pesan termaktub pada kesediaan mereka bertemu serta materi dialog maupun pernyataannya. Kesediaan mereka berjumpa, bersalaman dan berbincang, mengejawantahkan suatu prinsip elementer koeksistensi umat beragama, yakni saling menghargai dalam perbedaan. Ini serta-merta mengintroduksi bahwa mereka tergolong kaum pluralis.

Pertemuan itu membersitkan integritas Raja Salman bin Abduaziz al-Saud sebagai tokoh yang menghargai perbedaan dan menyokong kaum pluralis. Apalagi Raja Salman mengajak semua agama untuk bersama-sama memerangi radikalisme, kekerasan dan ekstrimisme. Upaya ini harus ditempuh dengan membangun kerjasama dan dialog antaragama guna mencapai toleransi dan harmoni kehidupan bersama.

Pernyataan tersebut, menurut Pdt. Gomar Gultom, menepis mitos bahwa Arab Saudi antidialog dan keberagaman. Raja Salman justru menggelorakan kerjasama dan dialog antaragama demi merawat peradaban dunia yang bermartabat dan menjamin hak-hak asasi manusia. Sekaligus pula mempromosikan pemahaman Islam yang moderat dengan karakter keberagamaan yang inklusif dan dialogis.

Kesadaran Kolektif
Begitulah, esensi perjumpaan tokoh lintas agama di Indonesia, termasuk seorang pendeta Batak dan Raja Arab Saudi menyegarkan kembali urgensi kesadaran kolektif kita tentang kerjasama dan dialog agama-agama.

Kesadaran sedemikian itu sangat kontras dengan isu intoleransi yang masih intens mengusik koeksistensi umat beragama di Indonesia. Isu intoleransi berkelindan pula dengan paham radikalisme dan ekstrimisme. Para penganut paham ini bersikap monolitik, gandrung mengaku dirinya yang paling benar dan memiliki kebenaran tunggal, seraya memaksa kelompok yang lain mengikuti pahamnya.

Tentu gaung perjumpaan tokoh lintas agama di Indonesia dan Raja Arab Saudi menjadi antitesis terhadap sikap kaku dan kolot yang dipertontonkan sejumlah pelaku dan penebar intoleransi. Terlebih karena intisari perjumpaan mereka justru mengugah kita untuk memperkuat karakter keberagamaan yang inklusif dan dialogis.

Terkait dengan itu, terasa relevan pandangan seorang Muslim bernama Denny Siregar: "Dia yang bukan saudaramu dalam iman adalah saudaramu dalam kemanusiaan" (dennysiregar.com). Setiap penganut agama di Indonesia patut merayakan perbedaan dalam terang semangat bersaudara dalam kemanusiaan. Inilah suatu karakteristik kita sebagai pewaris falsafah Bhinneka Tunggal Ika. (Penulis adalah pendeta HKBP, bertugas di Kantor HKBP Distrik Medan-Aceh/q)


SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru