Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Kamis, 16 April 2026
RENUNGAN

Pengharapan dalam Kesabaran dan Ketekunan

* (Roma 12:12) Pdt. Sunggul Pasaribu, MPd.K
- Minggu, 03 September 2017 19:57 WIB
2.163 view
Pengharapan dalam Kesabaran dan Ketekunan
Untuk menggambarkan pengertian "pengharapan dalam kesabaran dan ketekunan" sebagaimana judul renungan kita hari ini, penulis akan menjelaskannya dengan mengajak untuk mempelajari pepatah orang Batak yang menyatakan : "Nai humalaput tata indahanna - Nai humarojor mabola tataringna". Apakah artinya pepatah ini.? Baiklah penulis menjelaskannya dengan sederhana. Kata "Nai humalaput" menunjuk kepada seorang ibu yang bersikap dan berlaku tergesa-gesa - kata "tata indahanna" artinya, nasi yang dimasak tidak kunjung matang. Pengertiannya, memasak nasi atau makanan tidak dapat dilakukan dengan tergesagesa, atau terburu-buru. Sedangkan kata, "Nai humarojor" artinya, si ibu yang berjalan terburu-buru, yang tidak hati-hati, kata : "mabola tataringna" artinya ; pecahlah tungku memasak. Dahulu kala pola hidup manusia tradisional, tempat memasak harus memakai tungku. Maka bila tungku sudah pecah (karena terbuat dari tanah liat) tidak akan dapat memasak. Singkatnya, diperlukan kesabaran, kehati-hatian, ketekunan.

Demikianlah juga halnya dengan kehidupan seorang yang berpengharapan, manusia yang merasa beriman ketika berhadapan dengan penderitaan, kesesakan, penganiayaan, kejahatan, dukacita, kita dituntut untuk bersikap sabar, tabah dan tekun dalam doa.

Rasul Paulus memberi nasehat terhadap persoalan, tantangan, dan tekanan yang dialami jemaat Roma agar  mampu mengambil hikmah, sikap, dan tetap komit terhadap keyakinan yang mereka miliki dengan cara mempedomani etika sosial sebagaimana nats renungan kita hari ini dalam Roma 12:9-21.

Adapun nats ini disebut sebagai surat pastoralia untuk meneguhkan kepastian hidup keimanan warga jemaat Roma atas penderitaan yang mereka alami supaya mereka bisa menciptakan solusi terhadap sesama warga jemaat.

Surat yang Paulus tulis untuk jemaat di Roma adalah dalam masa pertumbuhan jemaat di Spanyol dan Roma. Paulus menginginkan dukungan dari jemaat Roma. Dia berpikir bahwa kesatuan dalam Jemaat Roma akan membawa lebih banyak orang percaya di Spanyol. Tetapi, relasi antara Yahudi dan non-Yahudi adalah permasalahan besar. Ada ketegangan rasial antara kedua grup ini dalam Jemaat Roma. Orang Yahudi mengira dirinya sendiri sebagai bangsa terpilih. Non-Yahudi merasa bahwa orang Yahudi hanyalah imigran, dan non Yahudi harus memiliki posisi yang tinggi dalam gereja. Ini adalah tantangan besar bagi jemaat Roma.

Paulus berpikir bahwa dia tidak bisa mengabarkan Injil tentang kabar baik di Spanyol ketika Jemaat di Roma tidak bisa bersatu. Karena itu Paulus menulis surat ini bukan hanya untuk Yahudi Kristen tetapi juga non-Yahudi. Buku Roma adalah sebuah pesan praktis dari Paulus, supaya jemaat di Roma bisa menjadi satu. Tanpa kesatuan di Roma, Paulus tidak dapat menyebarkan Injil di jemaat yang lain. Cara untuk memupuk persatuan dan kesatuan jemaat adalah hidup dalam satu kasih.

Kalau begitu, apa pesan Paulus? "Hendaklah kasih itu jangan pura-pura." Ini adalah pesan pertama dalam bacaan kita. Ini adalah sebuah pesan yang agak sulit untuk dilakukan. Kenapa tulus (jangan pura-pura)? Karena kita ada dalam Kristus, dan diselamatkan oleh karunia, maka kita tahu bahwa hubungan kita dengan Allah bukanlah berdasarkan prestasi kita.

Kita memberikan kasih dari kasih yang sudah kita terima. Kita tidak membagi kasih kita kepada sesama manusia untuk memperoleh reputasi yang baik. Karena itu Paulus berkata,; Kasih Dalam Tindak Nyata - di ayat 17, "hati-hatilah dalam melakukan apa yang benar di mata semua orang" (berbeda dengan terjemahan versi baru "lakukanlah apa yang baik bagi semua orang!"). Kita melakukan segalanya hanya untuk Tuhan. Tetapi Paulus mengenali kesulitan dalam hidup dengan damai dengan beberapa orang. Karena itu Paulus berkata, "sedapat-dapatnya." Hal ini berarti bahwa orang percaya juga punya batasan dalam iman mereka. Namun bahkan dalam hal ini, Paulus masih tetap meminta kita untuk membalas musuh kita dengan damai dan kasih. Kita harus mencoba yang terbaik. Ini adalah jalan Kristus, yang adalah mentalitas dari orang yang berada dalam Kristus, di mana karunia adalah hukumnya.

Berhubung adanya perbedaan ras keagamaan sesama jemaat di Rom yang dapat menimbulkan penderitaan, perseteruan, tekanan (teror), ketidak-nyamanan, maka Paulus memberi nasehat agar mereka sebagai orang yang berpengharapan harus mampu hidup dalam ketekunan, dan sabar.

Saudara-saudara yang dikasihi Tuhan Yesus.

Orang Kristen adalah juga mahluk sosial, di mana antar sesama orang Kristen maupun yang tidak Kristen adalah saling membutuhkan satu sama lain, karena kita tidak bisa hidup sendirian. Salah satu cara pengikat hubungan tersebut adalah hidup dalam damai dan kasih.

Maka sebagai orang yang berpengaharapan hendaknya bersukacitalah dalam pengharapan, sabarlah dalam kesesakan, dan bertekunlah dalam doa. Amin.! (c)
SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru
Sampah Menumpuk di Harangan Gotting

Sampah Menumpuk di Harangan Gotting

Simalungun(harianSIB.com)Sampah menumpuk di jurang Harangan Gotting wilayah Kecamatan Purba, Kabupaten Simalungun, Rabu (15/4/2026). Kondisi