Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Kamis, 16 April 2026

Gereja di Era Eksponensial

* Oleh St Prof Dr Albiner Siagian
- Minggu, 22 Oktober 2017 22:50 WIB
778 view
Gereja di Era Eksponensial
"Superkomputer ada di mana-mana. Robot supercerdas. Mobil swakemudi. Otak neuroteknologis. Koreksi genetik. Itulah, antara lain, fakta-fakta perubahan dramatis yang terjadi di sekitar kita akhir-akhir ini dan itu berlangsung dengan kecepatan eksponensial.

"Inilah kutipan pernyataan Professor Klaus Schwab, Pendiri dan Pemimpin Eksekutif Forum Ekonomi Dunia, terkait dengan bukunya The Fourth Industrial Revolution. Dunia, sekarang tengah memasuki Revolusi Industri IV; Era Eksponensial.

Sekedar mengingat kembali, dunia telah mengalami 4 tahap revolusi industri. Revolusi Industri I diawali oleh penemuan mesin uap oleh James Watt. Pada era ini, industri digerakkan oleh energi yang bersumber dari air dan uap. Revolusi Industri II dicirikan oleh penggunaan tenaga listrik untuk menghasilkan produk massal. Selanjutnya, Revolusi Industri III diramaikan oleh penggunaan elektronik dan teknologi informasi untuk otomatisasi proses produksi. Akhirnya, adalah Revolusi Industri IV yang ciri-cirinya adalah apa yang disebut sebagai era eksponensial.

Era Eksponensial merujuk pada perubahan yang mengikuti grafik atau fungsi eksponensial. Dalam Kalkulus, cabang Matematika yang mempelajari sifat/perilaku fisik dasar alam semesta, pergerakan atau perubahan yang terjadi selalu mengikuti fungsi tertentu. Sebagai contoh, saat ini pertumbuhan penggunaan komputer dunia mengikuti pola eksponensial, yaitu naik melengkung mendekati garis tegak lurus menyalip pertumbuhan penduduk, ekonomi, dan energi.

Kemajuan teknologi berlari kencang tak terhempang. Sebagai contoh, saat ini para ahli komputer dan kedokteran di Israel tengah mengembangkan apa yang disebut sebagai tele-medicine atau remote-medicine. Nantinya, pasien tak perlu lagi mendatangi dokter. Mereka cukup berkonsultasi dengan dokter melalui telepon pintarnya yang juga sudah terkoneksi dengan apotek. Lalu, pihak apotek akan mengontak transportasi online untuk mengantarkan obatnya ke rumah pasien. Pasien tak perlu repot-repot membayarnya Fasilitas e-pay akan mengurusnya. Konon, akurasi tele-medicine ini 99%, nyaris sama dengan berkonsultasi langsung dengan dokter. Mengagumkan!

Era Eksponensial melahirkan apa disebut sebagai 'hantu' efisiensi dan produktivitas, yang sekaligus menjadi ciri era eksponensial. Efisiensi dan produktivitas menjadi tuan besar yang 'disembah' dan 'disanjung'. Di Era Eksponensial, pendongkrak efisiensi dan produktivitas bukan lagi tenaga fisik manusia, tetapi otomatisasi, robotik, talenta, dan kreativitas. Tenaga fisik masih mengikuti pola garis lurus dengan kemiringan tertentu.

Ikutan logisnya adalah persaingan, tepatnya persaingan terbuka. Nah, ini melahirkan ciri Era Eksponensial berikutnya: kompetensi. Kompetensi melahirkan pemenang-pecundang, eksis-tersisih, atau pemain-penonton. Dikotomi ini akan menciptakan jurang antara keduanya, yang makin hari makin melebar.

Ikutan logis berikutnya adalah masalah sosial, kemiskinan, kesenjangan, pengangguran, kekerasan atau konflik sosial. Ini akan memunculkan pesimisme, keputusasaan, dan stres. Karenanya, menurut Klaus, ke depan kita harus menempatkan manusia sebagai sasaran pertama dan memberdayakan mereka. Dari perspektif paling pesimistik, bentuk dehumanisasi Revolusi Industri IV berpotensi 'merobotisasi' kemanusiaan yang pada gilirannya memperparah suasana hati dan jiwa manusia. Akan tetapi, lanjut Klaus, sebagai komplemen kepada sisi terbaik dari sifat alami manusia, "kreativitas, empati, dan penatalayanan" itu juga dapat mengangkat kemanusiaan ke dalam kepedulian kolektif dan moral atas dasar perasaan senasib. Di sinilah gereja memainkan perannya.

Gereja Harus Mengubah Dirinya
Di Era Eksponensial ini, mau tidak mau, suka tidak suka, gereja harus mengubah dirinya. Ini adalah keniscayaan. Gereja harus 'kompatibel' dengan kondisi jemaat. Apa yang sedang dihadapi jemaat juga harus menjadi apa yang dihadapi gereja. Perspektif bergereja (eklesiologis) haruslah menembus dinding fisik gereja ke realitas yang dihadapi masyarakat. Dampak Era Eksponensial akan menjadi tantangan serius bagi gereja dan sekaligus menjadi peluang untuk meningkatkan kualitas layanannya. Ke depan, ekpektasi jemaat terhadap gereja akan makin besar. Gereja dituntut untuk menjadi solusi paripurna atas berbagai permasalahan yang dihadapi (peluang). Akan tetapi, di sisi lain, respons yang tidak memuaskan atas ekspektasi yang tinggi itu akan mendorong mereka meninggalkan gereja (tantangan). Oleh karena itu, ke depan, layanan gereja haruslah berorientasi jemaat, agar jurang pemisah antara harapan dan ekspektasi jemaat terhadap gereja makin sempit. Jangan ada kesan jemaat yang melayani gereja atau pelayan-centered. Untuk itu, gereja harus proaktif!

Walaupun situasinya berbeda, salah satu penyebab meningkatnya arus 'eksodus' jemaat dari gereja adalah kekecewaan jemaat atas tidak mampunya gereja memenuhi ekspektasinya. Dan, kecenderungannya akan meningkat di Era Eksponensial ini. Lihat saja apa yang dialami oleh gereja-gereja di Eropa dan Amerika saat ini. Aliran humanisme dan ateis meningkat, sebagai kritik terhadap agama, termasuk gereja, yang menurut mereka tidak lebih humanis daripada yang tidak beragama. Istilahnya disebut beragama tetapi tidak religius.

Kalau diibaratkan sebagai pesawat, di Era Eksponensial ini, gereja bagaikan pesawat yang sedang terbang menghadapi cuaca yang buruk. Penumpangnya adalah jemaat, sementara pilot dan co-pilotnya adalah pemimpin gereja, serta pramugari/pramugara adalah pelayan gereja. Turbulensi angin adalah efek Era Eksponensial yang sulit diikuti dan diprediksi itu. Untuk itu, dibutuhkan pemimpin gereja yang mampu mengenali perilaku cuaca, mengelaknya, atau menghadapinya. Pemimpin gereja juga harus mendengar dan mempertimbangkan secara matang saran atau arahan dari petugas penerbangan di darat.

Sementara itu, pelayan harus mampu membuat penumpang tenang. Kerja tim ini harus mampu meyakinkan penumpang (jemaat) bahwa mereka akan sampai ke tujuan dengan selamat.

Di pihak lain, jemaat harus patuh dan tunduk kepada arahan dan perintah pilot, co-pilot, dan pramugari/pramugara pesawat. Jemaat harus menempatkan pelayan gereja sebagai sosok Naposo ni Debata dalam arti luas, na so sijuaon be hatana. Itulah antara lain yang membedakan organisasi gereja dari organisasi sekuler.

Oleh karena itu, segala mekanisme, aturan, dan praktek organisasi gereja yang menggerus rasa hormat dan patuh jemaat kepada pemimpin dan pelayan gereja harus segera diubah. Gereja tak perlu latah mengadopsi bulat-bulat praktek berdemokrasi ala sekuler. Saya pikir, inilah salah satu kesalahan besar gereja. Roh aturan gereja pun haruslah bertujuan untuk memagari jemaat atau pelayan gereja untuk tidak berbuat salah, bukan menghukum karena perbuatan salahnya.
Antara Pelaku dan Penyampai Firman
Salah satu penyebab keberhasilan penggembalaan Yesus Kristus adalah ketika Dia tampil sebagai sosok teladan  di depan menggembalakan murid dan dombanya. Itu jugalah yang dilakukan oleh para rasul, seperti Paulus, ketika mereka memberitakan injil. Paulus tidak hanya sebagai penyampai kabar baik Injil, tetapi juga menjadi bagian dan cermin dari kebaikan itu.

Hal itu pulalah, barangkali, yang jemaat temukan pada diri pelayan gereja masa dulu. Pada masa itu para pelayan gereja tampil sebagai sosok teladan yang sederhana, bersahaja, peka, peduli, taat, setia, dan tidak 'menuntut' banyak.

Memang, orang bisa saja berkata bahwa keadaan masa dahulu berbeda jauh dengan keadaan masa sekarang. Itu benar! Akan tetapi, itu bukan berarti bahwa berubahnya keadaan membenarkan pemunduran tampilan pelayan gereja. Jemaat berharap mereka tetap tampil sebagai teladan yang segala tindak-tanduknya terpuji. Kira-kira, pelayan gereja harus tampil sebagai pelaku firman Tuhan, bukan hanya penyampainya. Kalau itu bisa terwujud, niscaya, di Era Eksponensial ini, jurang pemisah antara harapan jemaat dengan layanan yang diberikan gereja (ekspektasi) akan makin sempit. (Penulis adalah Guru Besar USU dan Penatua di HKBP Perumnas Simalingkar Medan) (d)

SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru
Sampah Menumpuk di Harangan Gotting

Sampah Menumpuk di Harangan Gotting

Simalungun(harianSIB.com)Sampah menumpuk di jurang Harangan Gotting wilayah Kecamatan Purba, Kabupaten Simalungun, Rabu (15/4/2026). Kondisi