Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Kamis, 16 April 2026

Reformasi Tiada Akhir

* Oleh: Pdt Estomihi Hutagalung
- Minggu, 29 Oktober 2017 16:22 WIB
789 view
Reformasi Tiada Akhir
Dalam literatur sejarah gereja, istilah reformasi adalah warisan pemikiran dan perjuangan yang murni untuk mengingatkan para pemimpin gereja guna mewujudkan panggilan gereja dalam menggarami dan menerangi dunia. Dari sekian banyak tokoh reformasi, seperti Calvin, John Wesley tetapi salah satu tokoh reformis yang paling dikenal gereja dan menginspirasi tokoh lainnya adalah Martin Luther.

Upaya perjuangan Luther yang menyadarkan daratan Eropa bukan hanya berimplikasi pada kehidupan pelayanan gereja tetapi berdampak positif terhadap aspek-aspek lainnya. Itulah sebabnya di kemudian hari, hingga kini, istilah reformasi selalu menghiasi gerakan, semangat perubahan dalam multi aspek.

Istilah reformasi sangat luas dikenal di Indonesia, pasca runtuhnya rezim Orde Baru dengan segala implikasinya termasuk berkembangnya "gerakan reformasi kebablasan". Bahkan di beberapa daerah, atas nama otonomi daerah dan disemangati persepsi kuasa mayoritas minoritas, gerakan reformasi telah menyuburkan intoleransi beragama. Atas nama agama, dimunculkan ayat-ayat kebencian membunuh orang lain.

Padahal sesungguhnya warisan gagasan reformasi justru hendak menyadarkan pemimpin agama untuk mengajarkan kitab suci sebagai sumber pokok dalam mewujudkan panggilan iman. Reformasi hendak menggugat fatwa agama yang melebihi kuasa kitab Suci sebagaimana pernah dilakukan oleh Paus Nicholas untuk membunuh atas nama agama.

Baca Ulang
Sejarah menahbiskan gerakan prophetis Martin Luther di pintu gerbang gereja Schlosskirche Wittenberg Jerman, 31 Oktober 1517 menjadi warisan besar dalam memaknai gagasan reformasi. Dengan menuliskan 95 dalil pada spanduk, poster atau plakat, Luther menentang ajaran indulgensia yang lahir dalam konteks pengumpulan dana pembangunan gedung gereja atas gagasan biarawan berjiwa wirausaha Johann Tetzel.

Walaupun dalam konteks tertentu gagasan surat penghapusan "utang dosa" dapat dianggap benar oleh para biarawan termasuk oleh Paus Leo X tetapi bagi Luther hal itu tidak. Dengan pendirian yang teguh Luther mendasarkan dalilnya bahwa keselamatan tidak dapat dibeli oleh kekuatan apapun tetapi hanya karena Anugerah Allah di dalam iman kepada Yesus Kristus (sola fide).

Dalilnya didasarkan pada Alkitab sebagai dasar sesungguhnya dan menjawab serta meneguhkan panggilan gereja dalam konteks zamannya. Sebab spirit Luther tidak terlepas dari konteks sosial Eropa dengan era Reinaisance masa itu sehingga melahirkan spirit "back to the source", dan itulah juga yang memengaruhi seruan reformasi agar "back to the Bible".

Dalam sejarah gereja, "Spirit Luther" tersebut selalu bergelora dalam memaknai secara terus menerus esensi gereja. Itulah yang dikandung dalam motto reformasi, "Ecclesia Reformata, Semper Reformanda est". Sehingga gereja harus selalu mereformasi diri sebagaimana pernah dilakukan oleh John Calvin. Juga oleh John Wesley dengan gerakan "Methodist" di Inggris yang di kemudian hari dikenal dengan Gereja Methodist. Gerakan Wesley ini telah berhasil melakukan transformasi rohani dan sosial sehingga berdampak positif terhadap perubahan masyarakat Inggris.

Reformasi Tiada Akhir
Gerakan reformasi Luther adalah refleksi teologis, buah pergulatan iman dalam realitas sosial zamannya. Diyakini sebuah momentum kairos (waktu) Allah guna memperbaiki tatanan hidup masyarakat pada zamannya. Dengan spirit reformasi, kehidupan berbangsa dan bergereja (beragama) harus mengalami perubahan secara terus menerus yang didasarkan pada panggilan dasar gereja (agama) sebagai bagian dari bangsa Indonesia.

Spirit reformasi mendorong gereja, agama, politik untuk terus menerus menguji kembali aturan-aturan, doktrin metode pelayanan guna menjawab realitas sosialnya. Sebab reformasi bukanlah sebuah tindakan yang dapat mencapai titik final dan selesai.

Reformasi adalah sebuah upaya yang terus menerus untuk memperbaiki, mengelola, memaknai panggilan diri dalam dunia berpijaknya. Sehingga reformasi tiada pernah berakhir. Spirit demikian akan menjadi bagian dari proses mewujudkan panggilan gereja untuk menggarami dan menerangi bangsa Indonesia dengan elemen negatif kebangsaannya.

Sehingga peringatan 31 Oktober dalam realitas sosial bangsa saat ini adalah momentum iman untuk membaca ulang dan memaknai kembali reformasi.
Sehingga, sebagai umat beriman, gereja dipanggil untuk tidak larut mengutuk kegelapan, tetapi menyalakan api kebenaran walaupun hanya setitik harapan.
 
Salah satu hal yang dimaknai dalam merefleksi spirit reformasi bahwa perbaikan itu sesungguhnya dilakukan dengan mengoreksi cara dan metode pemimpin gereja dalam menjalankan perannya. Sehingga faktor semangat nilai kepemimpinan dan metode mewujudkan panggilan pelayanan gereja dalam setiap konteksnya menjadi hal krusial yang harus selalu (terus menerus) dikoreksi, direformasi demi makna panggilan gereja dalam konteks hidupnya. (f)

SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru
Sampah Menumpuk di Harangan Gotting

Sampah Menumpuk di Harangan Gotting

Simalungun(harianSIB.com)Sampah menumpuk di jurang Harangan Gotting wilayah Kecamatan Purba, Kabupaten Simalungun, Rabu (15/4/2026). Kondisi