Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Kamis, 16 April 2026
RENUNGAN

Menantikan Tuhan dengan Bijak dan Beriman

* (Matius 25:1-13) Oleh Pdt Sunggul Pasaribu MPdK
- Minggu, 12 November 2017 20:06 WIB
1.751 view
Menantikan Tuhan dengan Bijak dan Beriman
Allah menghendaki manusia supaya menjadi orang yang bijaksana, cerdas, cerdik, berhikmah. Kitab Amsal pernah mengingatkan,: "...orang bodoh menghina hikmat" (Amsal 1:7). Penulis pernah mendengar seorang ibu marah-marah kepada anaknya ketika mereka sangat sulit mengatur pola ketertiban dan disiplin hidup di rumahnya. Ketika Orangtua ini pulang dari kantor atau setiap pagi pun sebelum berangkat kerja mereka mengeluh  terhadap anaknya yang susah sekali diperintah untuk menaati disiplin mandi pagi dan sore hari, diajak makan pun ada saja alasan minta ditunda dengan berkata ; Ya, Pak, Ya, Mak, sebentar lagi aku makan. Mereka seolah kehabisan akal sehat untuk mendidik dan mengajar putra dan putrinya setiap hari di rumah mereka. Mengapa hal ini terjadi? Karena anak-anak mereka kurang cerdas mengikuti alur berpikir orangtua mereka.

Demikian halnya dengan cerita perumpamaan Yesus sebagaimana yang dilukiskan oleh Injil Matius 25:1-13, tentang gambaran dua gadis yang yang bodoh dan bijak. Perumpamaan ini hendak menggambarkan kehidupan orang beriman diibaratkan sebagai lima gadis bijak yang menanti kedatangan Kristus bagai pengantin perempuan yang berjaga dengan penuh rindu akan kekasih jiwanya. Ia memperlengkapi diri, menjaga persediaan minyak dan menjaga pelitanya menyala, agar pesta pernikahan mereka bisa berlangsung. Orang dunia digambarkan sebagai lima gadis bodoh. Mereka ikut menanti, tetapi sayang terlalu memikirkan kenikmatan sesaat-kondisi hidupnya hampir padam, terlelap dalam kenikmatan dunia. Mereka hidup bejat dan menyeleweng (bandingkan dengan Mazmur 14:2-3). Ya, manusia di akhir zaman kerap mengabaikan masa datang yang lebih langgeng dan jauh lebih indah. Mereka lupa, sang mempelai pria bisa datang setiap saat. Ketika Tuhan datang membela orang tertindas yang tetap percaya dan berlindung kepada-Nya (Mazmur 14:5-7), pintu kesempatan sudah tertutup bagi mereka yang bodoh (Matius 25:10-12).

Menantikan Tuhan dalam dimensi hidup beriman digambarkan nats ini bahwa Yesus melanjutkan topik kedatangan-Nya yang tak terduga melalui perumpamaan lima gadis bijaksana dan lima gadis bodoh. Tugas utama mereka adalah menyambut mempelai pria dengan pelita yang menyala. Agar pelita tetap menyala, hanya lima gadis yang membawa persediaan minyak, sedangkan kelima gadis lainnya tidak menyiapkan cadangan minyak. Karena Sang Mempelai belum tiba dan malam semakin larut, tanpa disadari rasa kantuk mulai menyerang.

Saat tengah malam tiba, kesepuluh gadis tersebut terbangun oleh seruan bahwa Si Mempelai sudah tiba. Hal pertama yang menjadi pusat perhatian mereka adalah pelita. Kelihatannya pelita kelima gadis bodoh hampir padam dan mereka berupaya untuk mencari minyak. Sedangkan kelima gadis bijaksana tidak panik sebab cadangan minyak yang mereka bawa masih mencukupi. Ketika mempelai tiba, hanya lima gadis bijaksana yang diperkenan masuk ke ruang perjamuan, sedangkan kelima gadis bodoh yang terlambat ditolak oleh Sang Mempelai. Yesus mengakhiri perumpamaan itu dengan peringatan agar kita berhati-hati dan mawas diri.

Bersikap bijaksana dan beriman merupakan salah satu unsur penting dalam hal mawas diri. Sikap yang bijaksana membutuhkan kecermatan berpikir dan kemampuan untuk mengantisipasi kondisi yang tidak diinginkan terjadi. Tanpa kewaspadaan diri, justru akan membahayakan diri sendiri.

Memang kita tidak tahu apa yang akan terjadi kelak. Namun, Tuhan tahu dan berkuasa atas masa depan. Sebab itu, orang yang bijaksana akan memercayakan hidupnya pada pimpinan dan pemeliharaan Tuhan. Di sisi lain, kita tahu bahwa Tuhan akan menuntut pertanggungjawaban atas segala sesuatu yang kita lakukan selama hidup di dunia. Sudahkah kita mengerjakan semuanya dengan baik, cermat, dan penuh kesungguhan? Lalu untuk apa dan untuk siapa semuanya ini kita lakukan? Dengan mengetahui jelas jawabannya, maka kita bisa mempertanggungjawabkan hidup kita di hadapan Tuhan.

Injil Matius Pasal 25 ini adalah  khotbah di Bukit Zaitun dengan tema persiapan kedatangan Tuhan. Tiga bagian dalam ayat-ayat ini mengajarkan kita bagaimana mempersiapkan diri untuk menyambut kembalinya Sang Raja. Orang yang bijak, setia dan benar akan mewarisi kerajaan Surga, sementara yang bodoh, malas dan jahat akan diusir. "Karena itu, berjaga-jagalah, sebab kamu tidak tahu akan hari maupun akan saatnya" (25:13). "Maka kata tuannya itu kepadanya: Baik sekali perbuatanmu itu, hai hambaku yang baik dan setia, engkau telah setia memikul tanggungjawab dalam perkara kecil, aku akan memberikan kepadamu tanggungjawab dalam perkara yang besar. Masuklah dan turutlah dalam kebahagiaan tuanmu'" (25:23). Allah akan memberi upah bagi orang yang selalu siap sedia menantikan sang Raja. Amin.! (d)
SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru
Sampah Menumpuk di Harangan Gotting

Sampah Menumpuk di Harangan Gotting

Simalungun(harianSIB.com)Sampah menumpuk di jurang Harangan Gotting wilayah Kecamatan Purba, Kabupaten Simalungun, Rabu (15/4/2026). Kondisi