Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Kamis, 16 April 2026
RENUNGAN

Mengasihi Manusia Setara Mengasihi Tuhan

* (Matius 25:31-46) Oleh Pdt Sunggul Pasaribu, MPd.K
- Minggu, 26 November 2017 22:08 WIB
427 view
Mengasihi Manusia Setara Mengasihi Tuhan
Saudara-saudara yang terkasih.! Hari ini adalah minggu terakhir dalam kalender gerejani yang menetapkan sebagai peringatan akan hari kematian (Latin, Memento Memory, artinya ; Ingat akan hari kematian). Mengenang kehidupan orang mati dalam kaca mata iman kita saat ini adalah untuk mengingatkan kita, Kemanakah kita ditempatkan Tuhan di akhir jaman kelak? Jawaban atas pertanyaan inilah yang tertulis pada kitab Injil Matius 25:31-46, yaitu gambaran hidup pada akhir jaman antara orang benar - orang jahat di hadapan Tuhan kelak.

Dikatakan, orang jahat akan ditempatkan di sebelah kiri sedangkan orang benar ditempatkan di sebelah kananNya. Adapun pembeda antara orang benar dengan orang jahat terletak pada sejauhmanakah seseorang itu melakukan kasih terhadap orang miskin, orang yang lapar dan haus, orang sakit, orang yang terpenjara, orang yang hina. Perbuatan seperti ini yang diminta pertanggungjawaban kita semasa kita masih hidup di dunia ini. Maka sebelum terlambat, sebelum diadakan pengadilan dan penuntutan oleh Tuhan pada akhir jaman kelak baiklah kita mencermati bagaimana petunjuk Tuhan semasa kita di dunia ini.

Pada kedatangan Yesus yang kedua kali, Dia akan menjadi Hakim Agung yang mengadili bangsa-bangsa. Kelompok orang benar akan menerima hadiah yang telah disediakan Allah bagi mereka. Sebab, mereka telah melakukan sesuatu bagi salah seorang saudara Yesus yang paling hina dengan cara memberi makan, minum, tumpangan, pakaian, merawat yang sakit, memberikan penghiburan, dan lain sebagainya. Sedangkan kelompok orang terkutuk hanya menggugat dan protes terhadap Allah. Jawaban Yesus justru membungkam ketidakpuasan mereka.

Kita mesti menyadari bahwa keselamatan adalah anugerah Tuhan. Segala kebaikan yang kita lakukan ditujukan untuk memuliakan Allah dalam hidup kita. Dengan kata lain, sudah seharusnya iman yang sejati melahirkan perbuatan nyata (Yakobus 2:17,26). Karena itu, mulailah memerhatikan sesama kita yang masih hidup kekurangan; berdoa bagi mereka yang masih berjuang dalam kelemahan diri; dan mengunjungi serta menghibur mereka yang sedang berduka.

Tengoklah keluarga, hormati dan hargailah orangtua atau mereka yang lebih tua, jalinlah persekutuan dalam gereja serta orang-orang Kristen di sekeliling kita.
Bantulah mereka apabila kita memiliki kesempatan! Kita bisa menolong seseorang untuk mandiri dalam keuangan melalui membekalinya dengan keterampilan, menolong memasarkan produk industri rumah yang mereka kerjakan, memberikan perhatian dan bantuan materil atau moril kepada kaum manula dan anak yatim piatu, atau menolong pendidikan anak-anak dari keluarga yang belum mapan. Semua tanggung jawab hendaknya dilakukan demi cinta dan bakti kita kepada Yesus Kristus.

Sebuah Kisah perbuatan yang sederhana terjadi sebelum perang dunia kedua berakhir. Suatu pagi, seorang serdadu Amerika sedang menuju ke baraknya di kota London. Saat mengendarai mobilnya, ia melihat seorang anak kecil menempelkan hidungnya ke jendela kaca sebuah toko roti. Serdadu itu menghentikan mobilnya dan mendekati anak itu. Dia melihat anak itu memandangi pelayan yang menempatkan kue dan roti di rak pajangan. Anak itu memperhatikan sampai mengeluarkan air liur. Melihat hal itu, serdadu itu masuk ke dalam toko, membeli beberapa roti dan kue, kemudian memberikan satu kantong kue dan roti kepada anak itu. Saat dia hendak meninggalkan anak itu, anak itu menarik bajunya dan bertanya, "Tuan, apakah engkau Tuhan Yesus?".

Luar biasa pengakuan dan julukan si bocah kecil ini terhadap sang tentara yang baik hati menganggap kebaikannya adalah setara dengan kebaikan dan cinta kasih Tuhan Yesus kepada umat manusia. Illustrasi ini menggambarkan kepada kita bahwa mengasihi manusia setara mengasihi Tuhan.

Salah satu kolom surat kabar yang paling populer di AS saat itu adalah "Dear Abby". Kolom yang berisi nasihat dimulai oleh Abigail Van Buren pada tahun 1956, saat itu ditulis oleh anaknya Jeanne Phillips. Dalam edisi tersebut, ia memasukkan Doa Ucapan Syukur yang ditulis oleh ibunya bertahun-tahun lalu, katanya : Ya Bapa di surga, kami berterima kasih untuk makanan kami sambil mengingat orang yang lapar. Kami berterima kasih untuk kesehatan kami sambil mengingat orang yang sakit. Kami berterima kasih untuk teman-teman kami sambil mengingat orang yang kesepian. Kami berterima kasih untuk kebebasan kami sambil mengingat mereka yang diperbudak. Semoga ingatan-ingatan ini menggugah kami untuk melayani. Semoga anugerah-Mu bagi kami bermanfaat juga bagi orang lain. Amin.

Kata-kata dalam doa ini menggemakan ajaran Kitab Suci. Syukur kita kepada Allah haruslah disertai ingatan terhadap orang-orang yang susah. "Sebab itu," kata penulis kitab Ibrani, "marilah kita, oleh Yesus, senantiasa mempersembahkan korban syukur kepada Allah, yaitu ucapan bibir yang memuliakan nama-Nya" (Ibrani 13:15). Syukuri semua berkat Allah, dan ingat juga mereka yang kekurangan. Amin.! (f)
SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru
Sampah Menumpuk di Harangan Gotting

Sampah Menumpuk di Harangan Gotting

Simalungun(harianSIB.com)Sampah menumpuk di jurang Harangan Gotting wilayah Kecamatan Purba, Kabupaten Simalungun, Rabu (15/4/2026). Kondisi