Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Kamis, 16 April 2026

Di Dalam Rohani yang Sehat Terdapat Jiwa dan Tubuh yang Sehat

* (Bagian Pertama) Oleh St Prof Albiner Siagian
- Minggu, 04 Februari 2018 18:58 WIB
3.431 view
Di Dalam Rohani yang Sehat Terdapat Jiwa dan Tubuh yang Sehat
Peribahasa 'Men Sana Incorpore Sano'sudah sering kita sebutkan, bahkan kita sudah hafal akan kata-katanya. Artinya pun sudah kita pahami dengan jelas, yaitu 'Di dalam tubuh yang sehat terdapat jiwa yang sehat'. Tetapi, bagaimana kalau peribahasanya kita balikkan menjadi 'Men Sano Incorpore Sana'? Apakah bukan justru sebaliknya, di dalam jiwa yang sehat terdapat tubuh yang sehat. Untuk sekedar mengingatkan kita, Amsal 17 ayat 22, berkata: "Hati yang gembira adalah obat yang manjur, tetapi semangat yang patah mengeringkan tulang!" Bukankah Raja Salomo bermaksud bahwa jiwa yang sehat (bergembira) menyembuhkan penyakit (menjadi sehat)? Atau, lebih tepatnya, maksud Raja Salomo adalah di dalam rohani yang sehat terdapat jiwa dan tubuh yang sehat.

Saya tidak hendak memersoalkan yang mana dari kedua peribahasa tersebut yang lebih tepat atau lebih cocok untuk keadaan saat ini, sebab kedua jenis masalah kesehatan itu, yang mana pun duluan, adalah prasyarat untuk menjadi insan manusia yang baik dan berkualitas.

Menurut Mahbub ul Hag, penggagas Teori Pembangunan Manusia, salah satu prasyarat bagi manusia yang berkualitas adalah derajat kesehatan dalam arti yang luas, sesuai dengan definisi kesehatan menurut Organisasi Kesehatan Sedunia (WHO). WHO mendefinisikan Kesehatan sebagai "A state of complete physical, mental and social well-being and not merely the absence of desease or infirmity (Suatu keadaan yang sempurna secara fisik, mental dan sosial, bukan sekedar terbebas dari penyakit atau kelemahan). Definisi tersebut sudah digunakan sejak tahun 1947 dan itu tertulis pada Pembukaan Konstitusi WHO. Menurut definisi ini, secara tegas disebutkan bahwa untuk dapat disebut sehat, seseorang harus sehat secara fisik (tubuh) dan mental (jiwa). Dengan pemaknaan itu, orang yang berkualitaspun, yang dinyatakan oleh indeks pembangunan manusia, adalah orang sehat tubuh dan jiwanya atau orang yang sehat jiwa dan tubuhnya.

Gambaran Ringkas
Saat ini, Indonesia tengah menghadapi masalah kesehatan ganda. Di satu sisi angka penderita penyakit menular (communicable diseases) masih tinggi, di sisi lain jumlah penderita penyakit tak menular (non-communicable diseases) terus bertambah. Contoh penyakit menular adalah tuberkulosis (TBC), campak, diare, HIV-AIDS, dan tifus. Sementara itu, jenis penyakit tak menular, antara lain, adalah penyakit jantung koroner, kanker, stroke, hipertensi, dan diabetes melitus. Menurut Data Departemen Kesehatan RI (2016), stroke adalah penyebab kematian terutama (urutan ke-1; 21,1%) dari sepuluh penyakit penyebab utama kematian di Indonesia. Urutan berikutnya penyakit jantung (ke-2; 12,9%), diabetes mellitus (ke-3; 6,7%) tuberkulosis pernafasan (ke-4; 5,7%), hipertensi dan komplikasinya (ke-5; 5,3%); infeksi saluaran pernafasan akut (ke-6; 4,9%), liver (ke-7; 2,7%), kecelakaan lalu lintas (ke-8; 2,6%), pneumonia (k-9; 2,1%), dan diare disertai infeksi saluran pencernaan (ke-10; 1,9%).

Sementara itu, dalam hal status gizi, sebagai salah satu indikator penting tingkat kesejahteraan masyarakat dan penentu utama indeks pembangunan kesehatan masyarakat, Indonesia juga mengalami masalah gizi ganda, yaitu kekurangan gizi dan kelebihan gizi. Pada saat prevalensi penderita kurang gizi masih tinggi, prevalensi penderita kelebihan gizi juga terus meningkat.

Dalam hal kekurangan gizi, walaupun terjadi perbaikan gizi masyarakat, akan tetapi peningkatannya tidaklah menggembirakan. Sebagai gambaran, berdasarkan hasil Pemantauan Satus Gizi (PSG) tahun 2015, prevalensi balita penderita kurang gizi adalah 18,8% (indikator berat badan menurut umur, BB/U). Angka ini menurun sedikit dari 20,1% (Riskesdas 2013). Akan tetapi, prevalensi balita penderita kurang gizi itu hampir sama dengan prevalensi kurang gizi pada balita pada tahun 2010 (19,2%) dan pada tahun 2007 (17,2%). Ini bermakna bahwa dalam kurun waktu hampir 10 tahun tidak ada perbaikan gizi balita yang berarti. Selanjutnya, dari 18,8% balita penderita kurang gizi tersebut, 3,9% adalah kategori gizi buruk dan sisanya (14,9%) adalah kategori gizi kurang. Dengan demikian, saat ini empat dari seratus balita mengalami kekurangan gizi yang parah.

Bila dilihat dari indikator tinggi badan menurut umur (TB/U), angkanya lebih mengenaskan. Dengan menggunakan indikator ini, prevalensi balita pendek dan sangat pendek (stunting), masing-masing, adalah 18,9% dan 10,1%. Kalau kedua kategori ini digabungkan, ini berarti ada sebanyak 29% balita tidak dapat mencapai tinggi badan potensialnya karena kekurangan gizi. Prevalensi anak sekolah yang tubuhnya pendek lebih mengenaskan lagi. Diperkirakan prevalensi anak sekolah pendek sebesar 35%. Angka ini mengungkapkan terjadi pertambahan penderita tubuh pendek kira-kira 6,0% setelah anak memasuki usia sekolah. Fakta ini juga mengungkapkan kegagalan perbaikan gizi pada masa balita berlanjut pada masa usia sekolah. Untuk diketahui, tinggi badan sesuai umur pada masa bayi dan balita berkorelasi dengan tingkat kecerdasan.

Prevalensi penderita kelebihan gizi (kegemukan dan obesitas) juga menunjukkan gejala yang senada. Menurut Data Riset Kesehatan Dasar 2013, prevalensi penderita obesitas pada orang dewasa adalah 29,6% (9,6% laki-laki dan 20,0% perempuan). Setahun kemudian, menurut Data Pemantauan Status Gizi 2014, angka ini meningkat menjadi 31,4% (10,4% laki-laki dan 21,0% perempuan). Peningkatan prevalensi kegemukan dan obesitas juga terjadi pada balita. Data Pemantauan Status Gizi 2015 mengungkapkan prevalensi penderita kegemukan pada balita adalah 5,3%. Sebanyak 8,7% balita juga berisiko tinggi menderita kegemukan. Yang menarik adalah kalau dahulu kegemukan selalu dikaitkan dengan kemakmuran, sekarang tidak lagi. Data mengungkapkan, tidak ada perbadaan yang bermakna prevalensi penderita kegemukan dan obesitas antara keluarga miskin dan keluarga kaya. Selanjutnya, kegemukan dan obesitas adalah faktor risiko bagi timbulnya penyakit degeneratif, seperti penyakit jantung koroner, diabetes melitus, stroke, dan hipertensi.

Sementara itu, Data Riset Kesehatan Dasar tahun 2013 menunjukkan 15-30 persen penduduk Indonesia mengalami gangguan kejiwaan, termasuk gangguan kecemasan dan depresi berat. Prevalensi gangguan mental emosional yang ditunjukkan dengan gejala-gejala depresi dan kecemasan, untuk usia 15 tahun ke atas, mencapai sekitar 14 juta orang, atau 6,0% dari jumlah penduduk Indonesia. Sedangkan prevalensi gangguan jiwa berat, seperti skizofrenia hampir mencapai 400.000 orang, atau sebanyak 1,7 per 1.000 penduduk.

Data tersebut bisa jadi mengambarkan gangguan jiwa di Indonesia adalah persoalan serius. Gangguan jiwa ini adalah seperti fenomena gunung es. Angka 15 sampai 30 persen adalah gangguan kejiwaan yang nyata, mudah dan jelas dikenal masyarakat. Penderita gangguan kejiwaan yang tak kasat mata jauh lebih banyak.

Pandangan Alkitab tentang Kesehatan
Pada dasarnya alasan ilmu pengetahuan untuk menjaga kesehatan tubuh tidaklah berbeda atu bertentangan dengan alasan menurut Alkitab. Bahkan salah satu metode dan bukti ilmiah bagaimana, misalnya, makanan berpengaruh terhadap kesehatan, itu dicatat dalam Alkitab, jauh hari sebelum ahli kesehatan dan kedokteran memikirkannya.

Pada metode penelitian, terutama penelitian bidang kesehatan, misalnya penelitian tentang frekuensi, distribusi, dan etiologi penyakit (epidemiologi), ada dua macam penelitian, yaitu penelitian observasional dan penelitian eksperimen. Penelitian observasional adalah penelitian yang mengamati fenomena yang terjadi (misalnya penyakit) tanpa ada campur tangan peneliti atas timbul/sembuhnya penyakit itu. Sebaliknya, penelitian eksperimen adalah penelitian yang mengamati dampak campur tangan peneliti terhadap timbul/sembuhnya penyakit. Sebagai contoh, seorang ahli gizi menemukan resep makanan yang dia perkirakan dapat menurunkan berat badan. Sebelum dia yakin resep itu manjur sehingga dapat djual, dia harus mengujicobakannya kepada manusia (tepatnya orang yang menderita kegemukan atau obesitas). Kalau terbukti berat badan objek penelitian itu turun, manjurlah resepnya.
Rupanya, jauh hari sebelum para epidemiolog merancang penelitian eksperimen itu, Daniel sudah terlebih dahulu melakukann
ya. Tidak, tanggung-tanggung! Dalam 'eksperimen' ilmiahnya, Daniel sudah melakukan kontrol, yang oleh para epidemiolog dianggap sebagai metode yang memiliki derajat asosiasi yang tinggi dalam sebuah rancangan penelitian sebab-akibat, seperti eksperimen itu.
Ketika Daniel dan tiga orang kawannya Hananya, Misael, dan Azarya diperhadapkan kepada Raja Nebukadnezar, Daniel tidak mau menaziskan dirinya dengan memakan santapan raja dan meminum anggur yang biasa diminum oleh raja. Itulah makanan yang ditetapkan oleh raja untuk mereka makan. Akan tetapi, Daniel dengan tegas menolaknya, tanpa sepengetahuan raja.

Melihat keadaan itu, pemimpin pegawai istana khawatir akan kesehatan Daniel. Lalu, dia berkata: "Aku takut, kalau-kalau tuanku raja yang telah menetapkan makanan dan minumanmu, berpendapat bahwa kamu kelihatan kurang sehat daripada orang-orang muda lain yang sebaya denganmu, sehingga karena kamu, aku dianggap bersalah oleh raja." (Daniel 1:10).

Kemudian berkatalah Daniel kepada penjenang yang telah diangkat oleh pemimpin pegawai istana untuk mengawasi Daniel, Hananya, Misael dan Azarya: "Adakanlah percobaan dengan hamba-hambamu ini selama sepuluh hari dan biarlah kami diberikan sayur untuk dimakan dan air untuk diminum; sesudah itu bandingkanlah perawakan kami dengan perawakan orang-orang muda yang makan dari santapan raja, kemudian perlakukanlah hamba-hambamu ini sesuai dengan pendapatmu!" (Daniel 1:11-12)

Pengawai istana menuruti permintaan Daniel, lalu mengadakan percobaan dengan mereka selama sepuluh hari. Setelah lewat sepuluh hari, ternyata perawakan mereka lebih baik dan mereka kelihatan lebih gemuk dari pada semua orang muda yang telah makan dari santapan raja. Kemudian penjenang itu selalu mengambil makanan mereka dan anggur yang harus mereka minum, lalu memberikan (menggantikannya dengan) sayur kepada mereka (Daniel 1:13-15).

Pemberian sayur untuk dimakan dan air untuk diminum adalah perlakuan peneliti (dalam hal ini Daniel) untuk membandingkan efeknya dengan kontrol (pemberian makanan santapan raja) kepada pihak lain. Setelah sepuluh hari diperlakukan begitu, efeknya dievaluasi. Tenggang waktu sepuluh hari, tampaknya cukup untuk mengevaluasi efek dua perlakuan yang ekstrim itu. Dan, hasilnya makanan pilihan Daniel lebih baik. Itu terbukti dari perawakan mereka (yang diberi sayur dan air) lebih sehat dan lebih gemuk. Inilah yang dalam dunia kedokteran disebut sebagai uji klinis-terkendali (clinical-controlled trial). Uji inilah, antara lain, yang harus dilalui obat sebelum obat itu dapat diresepkan oleh dokter.

Tuhan memberi dia hikmat sehingga dia dapat memahami dan mengerti berbagai penglihatan dan mimpi (Daniel 1:17). Dan, yang lebih hebat lagi, dia adalah seorang pioner epidemiologi.

Alkitab memberi perhatian khusus pada kesehatan. Di dalam Alkitab, kata sehat disebut dalam 37 ayat yang berbeda. Di dalam ke-37 ayat tersebut bahkan ditekankan pentingnya kesehatan tubuh, jiwa, dan roh manusia sebagai suatu kesatuan yang utuh. Seperti halnya iman, kesehatan itu sendiri adalah karunia. Setiap orang beriman yang diberi kesehatan oleh Tuhan, tidak boleh memegahkan diri. Karena itu bukanlah hasil usaha kita, melainkan karunia dari Tuhan (Efesus 2:9). Itu bukan berarti manusia tidak perlu berusaha. Menjaga kesehatan adalah implementasi kasih kepada diri (tubuh). Kesehatan tubuh manusia, seperti halnya keselamatan, adalah janji Tuhan bagi setiap orang yang benar-benar mampu mengasihi (1 Korintus 2:9).

Dalam hal memelihara kesehatan tubuh, Kitab 1 Korintus 6 ayat 19-20 secara tegas mengatakan: "Atau tidak tahukah kamu, bahwa tubuhmu adalah bait Roh Kudus yang diam di dalam kamu, Roh Kudus yang kamu peroleh dari Allah, dan bahwa kamu bukan milik kamu sendiri? Sebab kamu telah dibeli dan harganya telah lunas dibayar: karena itu muliakanlah Allah dengan tubuhmu!" (1 Korintus 6:19-20). Memuliakan tubuh juga bermakna menjaga kesehatannya. Dengan tubuh yang sehat kita dapat menjalankan misi yang diembankan Tuhan kepada kita. Hal ini sesuai dengan nasihat Paulus kepada Jemaat Roma: "Karena itu, saudara-saudara, demi kemurahan Allah aku menasihatkan kamu, supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah: itu adalah ibadahmu yang sejati" (Roma 12:1).

Untuk meraih kesehatan tubuh itu, Tuhan memberikan kebebasan kepada manusia untuk memilih dan bertindak. Tuhan hanya memberi rambu-rambu umum. Sebagai contoh, untuk urusan makanan, sebagai salah satu syarat untuk sehat, Tuhan bersabda: "Aku memberikan kepadamu segala tumbuh-tumbuhan yang berbiji di seluruh bumi dan segala pohon-pohonan yang buahnya berbiji, itulah akan menjadi makananmu." (Kejadian 1:29). ".....tumbuh-tumbuhan di padang akan menjadi makananmu" (Kejadian 3:18b). Ketika menjawab godaan ular, Eva berkata: "Buah dari pohon-pohon di taman ini boleh kami makan. Tetapi mengenai makan buah dari pohon yang ada di tengah-tengah taman, Allah telah berfirman: "Kamu tidak boleh memakan buahnya, tidak, kamu tidak boleh menyentuhnya agar kamu tidak mati." (Kejadian 3:2-3).

Persoalannya sekarang adalah ketika manusia mengandalkan hanya pengetahuannnya untuk menggapai kesehatan tubuh. Dokter yang ahli, peralatan medis yang canggih, dan jaminan asuransi menjadikan manusia mengabaikan Tuhan. Padahal, Tuhan menghendaki kita agar sungguh-sungguh menjalankan dan melakukan perintahnya: "Jika kamu sungguh-sungguh mendengarkan suara Tuhan, Allahmu, dan melakukan apa yang benar di mata-Nya, dan memasang telingamu kepada perintah-perintahNya dan tetap mengikuti segala ketetapanNya, maka Aku tidak akan menimpakan kepadamu penyakit mana pun, yang telah Kutimpakan kepada orang Mesir; sebab Aku, Tuhanlah yang menyembuhkan engkau" (Keluaran 15:26). (Bersambung ke bagian kedua minggu depan). (Penulis : Guru Besar FKM USU/L)
SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru
Sampah Menumpuk di Harangan Gotting

Sampah Menumpuk di Harangan Gotting

Simalungun(harianSIB.com)Sampah menumpuk di jurang Harangan Gotting wilayah Kecamatan Purba, Kabupaten Simalungun, Rabu (15/4/2026). Kondisi